Friday, February 17, 2012

Writer's Block dan Ide Tulisan yang Terlepas

Meski penulis rentan pada sakit ginjal, punggung dan mata (hiyaaah), tapi penyakit paling menakutkan buat para penulis adalah writer's block. Apa sih bahasa Indonesianya? Mati ide kali yah? Pokoknya nggak tau lah mesti nulis apa. Biar udah nongkrong di depan laptop, tetap aja tulisan nggak keluar-keluar.

Beberapa tahun lalu, kalau gue writer's block, gue akan stay di depan laptop. Saking takutnya ide itu tiba-tiba muncul dan gue harus segera menuliskannya, gue sampe nggak berani beranjakdari depan laptop, kecuali buat sholat, makan atau ke kamar mandi. Bos gue sampe sebel liatnya. Dia sampe ngusir gue, nyuruh jalan-jalan, nonton, atau apa lah. Tapi dasar gue tambeng, gue tetap stay di depan laptop. Nge-game, browsing, chating, sampai akhirnya bisa lanjut menulis sampai kelar.

Sekarang kalau kena writer's block lagi, gue lebih berani untuk pergi dari depan laptop. Malah berani keluar kota segala. Hahahaa. Perjalanan keluar kota banyak ngasih gue ide dan pengalaman untuk bahan tulisan. Pulang-pulang, siap buat nulis lagi.

Perubahan cara ini mungkin karena pengalaman juga. Coba yang ini, nggak berhasil, coba yang itu.

Cara lain ngatasin writer's block adalah ketemu orang. Chating doang nggak cukup. Harus ketemu orang. Ngobrol apa aja. Ada beberapa temen gue yang kalau ngobrol begitu JLEB. Dari mereka, gue dapat pencerahan. Nggak cuman pencerahan mesti nulis apa, tapi juga cara bersikap sebagai pekerja (penulis) lepas.

Ide Tulisan yang Terlepas

Nggak kuat banget deh judul kecil di atas. Hahahaa. Tapi gue nggak tau mesti ngasih istilah apa, jadi apa yang lewat ya gue tulis aja. Kalo jadi bikin nggak kuku ya bodo amat. Hahahaa.

Soal ide tulisan yang terlepas, kondisinya begini... udah punya ide tulisan, tapi mau nulis tapi nggak bisa karena nggak ada waktu atau alasan lain. Tulisan kan kita tinggalin tuh. Pas balik lagi ke tulisan itu, kita berharap akan bisa nerusin. Eeeh, ternyata nggak bisa! Kita kehilangan jejak, mau dibawa ke mana tulisan ini???

Ada tips dari Ekky Imanjaya untuk mengatasi hal ini. Kalau punya ide tulisan, catat temanya dan kenapa ini penting ditulis? Insya Allah kalau tau kenapa penting, kita jadi punya tujuan yang lebih jelas untuk nyelesain tulisan itu. Setelah itu boleh deh tulis poin-poinnya. Jangan lupa, untuk non fiksi, catat di mana kita bisa dapetin informasinya. Jadi pas kita balik lagi ke tulisan yang belom jadi itu, kita udah tau apa pentingnya tulisan itu sampe harus kita tulis, dan kita mesti baca buku apa, nanya siapa, atau apa lah untuk data-data di tulisan itu.

Itu tips dari Mas Ekky yang penulis non-fiksi. Kalau tulisan fiksi gimana? Sepanjang yang gue tau dan praktekin sih tulis poinnya dulu. Jadi pas ninggalin tulisan itu kita merasa aman, karena ada inventaris ide lanjutan yang tertulis di sana.

Kalo ternyata balik-balik tetap kehilangan jejak mau nulis apa, gimana? Banyak-banyaklah istighfar, berdoa, olah raga, berinteraksi, beramal, membaca, nonton, mendengar, melihat, serta merasa... hehehe. Silly but true!

Supaya Tulisan Kita Dimuat di Media Cetak

Tulisan yang diterima redaksi media cetak tentunya tulisan yang bagus. Standar bagusnya apa? Bacalah media yang kita tuju. Pelajari tema apa yang mereka terima, bagaimana gaya bahasa mereka. Bikin tulisan dengan ide yang keren. Di link ini ada tulisan tentang gimana cara mendapatkan ide. Lalu tulislah ide itu dengan uraian yang asik. Kemampuan menemukan ide dan menulis yang asik itu bisa didapat dari latihan, latihan, dan latihaaaan sampe jadi ahli.

Ekky Imanjaya, kolomnis yang juga dosen, ngasih tips, kalau mau tulisan diterima, sok akrab-lah sama redaksinya. Hahahaa. Artinya gini, kalau kenal sama redaksinya, akan relatif lebih mudah memasukkan tulisan. Ini bukan nepotisme. Di dunia tulis menulis, kalau udah kenal sama redaksinya bisa dibilang si redaksi juga udah kenal karya kita. Hasil tulisan kita. Jadi dia bisa langsung menilai. Oh, si anu mah tulisannya bagussss! Jadi peluang dimuat lebih besar (inget ya, peluang lebih besar, bukan pasti dimuat).

Kenal sama redaksi juga bikin kita makin berani menawarkan langsung ke si redaksi. Kalau bisa japri (jaringan pribadi) ya japri aja. Cari aja email japri si redaktur dari media cetak tersebut, atau internet.

Sebagai bekas wartawan, Mas Ekky punya teman-teman yang sekarang sudah jadi redaktur bahkan pemimpin redaksi. Nah, para redaktur itu bahkan suka menelpon Mas Ekky untuk pesan tulisan. Kebetulan mereka tahu kalau Mas Ekky itu hobi nonton film, sering ke festival-festival film luar negeri, sering bikin resensi, bahkan pernah bikin film pendek sendiri. Jadi mereka pikir Ekky adalah orang yang tepat untuk menulis soal film. Selain itu, karena sering traveling, Mas Ekky juga menulis artikel jalan-jalan. Nah, garis bawahi ini. Milikilah spesialisasi.

Spesialisasi membuat para penulis mudah diingat ketika redaksi membutuhkan tulisan untuk rubrik tertentu. Untuk mencapai itu perlu waktu dan proses. Nggak instan. Tapi supaya konsisten, coba caranya Mas Ekky. Sugesti diri. Kalau kamu salut sama seseorang yang besar karena karyanya (buku, artikel, film, dll), bilang "Suatu hari, saya akan seperti dia." It works buat Mas Ekky.

Mau coba? Yuk. Bikin supaya coba-cobanya jadi keterusan! :))

Cara Mendapatkan Ide Tulisan

Awalnya adalah IDE.

Salah satu sebab tulisan jadi menarik adalah ide yang unik, atau nggak biasa. Soalnya banyak hal terjadi di sekitar kita, dan sebagian besar ya persoalan itu lagi itu lagi, tapi apa yang luput dari pengamatan orang lain namun menarik untuk ditelaah? Singkatnya, ide tuh penting banget.

Tulisan ini memuat tips tentang "cara mencari dan menangkap ide" dari Mas Ekky Imanjaya, seorang dosen, blogger, kolumnis, musisi, dan pengamat film yang jadi pemateri di kelas Akademi Berbagi hari Rabu, 15 Februari 2012. Biar gue makin nyambung sama bahasan ini, sebagian gue tambah2in dari pengalaman sendiri.

Contoh ide nih. Waktu Mas Ekky sekolah di Belanda, dia melihat banyak sekali kata-kata Belanda yang mirip kata-kata Indonesia. Misal: bestek (bistik), te laat (telat). Ternyata kata-kata itu diserap bahasa Indonesia sehingga jadi bahasa kita. Nah, sebaliknya, di Belanda itu juga ada kata-kata serapan bahasa Indonesia. Misal : Sambal Oeloek (sambal uleg) dan banyak lagi.

Untuk beberapa orang, mungkin fakta itu biasa. Atau dikomentarin "Ih lucu yaaaaah". Tapi untuk Mas Ekky, ini begitu menarik, sensasional (halah) dan layak ditulis jadi artikel. Maka Mas Ekky mencatat semua kata-kata bahasa Belanda yang mirip bahasa Indonesia, lalu baca banyak referensi, maka jadilah sebuah artikel untuk Tempo berjudul "Dari Te Laat sampai Klaar".

Tapi biar sensitif sama ide tuh gimana caranya? Ya mesti banyak wawasan. Pengetahuan mesti luas. Nambah wawasan tuh bisa dengan membaca dan terus banyak baca. Cara lain adalah ngobrol, nonton film, pergi ke suatu tempat dan rasakan apa yang berbeda. Be a good observer. Kalau sudah merasakan sesuatu yang berbeda, cari referensi untuk memperkuat. Yaaah, baliknya ke membaca lagi. :)

Ada lagi ide tulisan Mas Ekky yang berangkat dari fenomena bahasa Alay ala cemunguuudhh kk. Tau nggak sih kalo ke-alay-an itu terjadi di setiap generasi? Namanya beda-beda. Dulu pernah ada bahasa binan, "Apose Cyiiin". Di tahun 80an ada bahasa ala Catatan Si Boy, "bokap nyokap lo ke rokum gout." Nah, bisa nggak tuh dirangkum dan jadi tulisan keren?? Faktor pengalaman pribadi berperan di sini (secara pas tahun 80an, mas Ekky udah jadi remaja, hahahaa). Tapi semua itu juga bisa didapatkan dari riset. Aware dulu, trus baca, nanya, dst.

Kalau udah punya ide, jangan biarkan ide itu lepas. Ide mesti ditangkap di buku catatan atau recorder. Kalau perlu dibawa aja tuh buku atau recorder ke mana-mana. "Tapi kalau naik kereta yang rame jangan sampe dikira gila karena ngomong sendiri sama recorder," kata Mas Ekky.

Ide tulisan buat media cetak tuh mesti punya nilai berita tinggi. Mesti aktual (hangat), punya sesuatu yang baru, atau unik. Unsur aktual berkaitan dengan apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Kebetulan kemaren kan lagi hangat masalah Tabrakan Maut di Tugu Tani dengan korban 10 jiwa, si penabrak ternyata lagi ngefelay berat. Trus ada pilot yang tertangkap lagi nyabu. Terakhir diva internasional Whitney Houston meninggal, gosipnya over dosis narkoba. Nah, dari rentetan kejadian itu, APAnya lagi (hal baru) yang mau ditulis??

* Efek narkoba secara medis? Udah sering muncul di media.
* Unsur human-interest tentang korban-korban tabrakan maut? Udah banyak media yang nulis.
* Setelah dua hari tanpa ekspresi lantaran masih terpengaruh narkoba, apa yang terjadi pada pelaku tabrakan maut setelah efek narkobanya hilang? Nangis sampe 2 hari kah dia? Stress kah dia?? Nulis sesuatu nggak untuk mengungkapkan perasaannya?? Adakah yang membuat artikelnya dari sudut psikoanalisa? - Mas Ekky sendiri belum tau udah ada yang menulis artikelnya atau belum. Tapi menurut Mas Ekky, ini suatu IDE baru dari rentetan peristiwa tersebut.

Kalau gue boleh kaitkan ke ilmu jurnalistik... yang dimaksud Mas Ekky ini adalah... ANGLE atau sudut pandang.

Ide dari Kalender

Maksudnya, be aware sama momen-momen rutin yang terjadi tiap tahun. Valentine di bulan Februari. Hari Kartini di bulan April. Peringatan Peristiwa Semanggi di bulan Mei. Hari Kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus dll. Kembali ke soal angle, secara momen itu setiap tahun pasti ada yang nulis, HAL APA LAGI yang bisa diangkat jadi ide tulisan? Baliknya ke be a good observer yang udah disebut di atas lagi. Banyak baca, dengar, lihat (gue ulang terus biar inget).

Kalender yang dilihat jangan cuma kalender biasa. Ada yang namanya kalender budaya. Ada pertunjukan seni apa? Ada konser apa? Ada dialog budaya apa? Ada pameran apa? Siapa aja yang tampil? Siapa penyelenggaranya? Dan banyak lagi potensi ide di sana.

Mas Ekky ngasih contoh lagi soal konser. Dia nonton Konser Van Hallen. Lalu dia menawarkan artikelnya tentang konser itu ke media cetak. "Artikel konser yang ditulis oleh orang yang tidak menonton, sama orang yang menonton langsung... feel-nya pasti beda. Artikel konser yang ditulis oleh orang yang cinta banget sama yang lagi konser itu, dibanding artikel konser yang ditulis sama orang awam, pasti beda," kata Mas Ekky.

Yang ngefans berat sama musisi konser itu mungkin punya banyak ide untuk dituangkan. Namun bukan berarti yang nggak cinta jadi nggak punya bahan menarik untuk ditulis. Siapa tahu pas lagi nonton konser musik rock, sebelah kita pelawak Aming. Nah, orang-orang yang nggak disangka suka musik cadas juga bisa jadi ide (atau angle) tulisan.

Gue mau nambahin contoh. Semester lalu sebagian mahasiswa gue bikin tugas akhir berupa majalah musik. Topiknya konser. Di majalah itu, tulisan yang mereka turunkan antara lain tentang ritual artis besar tentang konser, band indie yang jadi pembuka konser Paramore, tips nonton konser biar aman tentram, dan bagaimana meng-organize konser. Nah, dari ngomongin kalender aja, ternyata bisa nyambung-nyambungin ke ide tulisan tentang konser. Dari satu kata "konser" aja bisa jadi banyak ide.

Jadi gitu deh caranya cari ide. Cara-cara ini nggak saklek. Bisa dikembangin lagi kok pake cara-cara kita sendiri. Ayo cari ide lagi. And do it with fun!

Thursday, February 16, 2012

Yuk, Nulis Artikel

Siapa yang nggak senang kalau tulisan artikelnya dimuat di media massa? Bisa nampang nama, dapet honor pula. Tapi gimana caranya nulis artikel yang bisa dimuat di media massa??

Mas Ekky Imanjaya, seorang dosen, pengamat film, kolumnis, musisi, dan (gue curiga) stand up comedian karena lucu banget, bagi-bagi ilmu tentang itu di Akademi Berbagi Jakarta, 16 Februari 2012. Di tulisan ini gue ceritain apa yang mas Ekky share.

Awalnya, untuk menulis harus punya dorongan dari dalam. Dorongan yang kuat sampai kita pengen menyampaikannya lewat tulisan. Apa aja pendorong itu??

Ada yang bilang : GALAU (lihat presiden kita, lagu yang dia tulis bisa sampai 4 album). Ada juga yang bilang untuk mengabadikan ide, berbagi informasi atau menstrukturkan kerangka pikir. Terus, di mana kita nulis? Kalau jawab buku tulis, itu belum kuno-kuno amat lho, terutama untuk nulis orat oret draft. Tapi kebanyakan manusia sekarang nulis di laptop, HP, bahkan komputer tablet.

Nah, setelah tulisan jadi, bisa dikirim ke media massa. Biasanya majalah atau koran. Kalau belum percaya diri dengan hasil tulisan sendiri, ya unggahlah ke blog pribadi, situs umum (yang kebanyakan nirlaba tapi yg penting dimuat).

Pada dasarnya, semua media cetak menerima tulisan. Asal sesuai dengan visi, misi dan gaya bahasa. Misalnya, nggak mungkin nulis tentang Valentine di majalah Sabili. Nulis tentang Valentine buat Majalah Gadis oke, buat majalah Tempo juga bisa, tapi sudut pandang dan bahasa tuturnya tentu beda.

Banyak rubrik yang bisa dituju penulis lepas. Ada rubrik opini, kolom, resensi, esai, artikel populer dan artikel ilmiah-populer (artikel ilmiah tapi bahasa asik dan tanpa catatan kaki). Kalau mau menulis buat salah satu rubrik, pelajari dulu rubrik itu. Baca-baca, sampe kira-kira tau yang dimau sama redaksi itu kira-kira apa?

Nah, setelah tau apa yang dimau media massa, bikin deh tulisan. Tapiiii... nulis apa?? Tenaaaang... Gue bahas di tulisan berikutnya. Cekidot!!

Wednesday, January 25, 2012

Suspect X - Kasus Pembunuhan di Tangan Pakar Eksak

Seorang pria terbunuh di apartemen istrinya. Pembunuhnya? Istri dan anaknya sendiri! Sebab terjadi pembunuhan sampai adegan terbunuhnya si pria itu dipaparkan jelas di awal. Laah, ini cerita detektif. Kok pembunuhnya sudah dibocorin ke penonton?

Itulah serunya Suspect X, film detektif Jepang bergenre thriller-misteri buatan tahun 2008. Film ini TIDAK bikin penonton bertanya-tanya siapa pembunuhnya. Tapi film ini menceritakan bagaimana upaya seseorang agar pembunuh sebenarnya tidak ketahuan polisi meski sudah di depan mata, dan bagaimana upaya polisi melacak pembunuh yang disamarkan itu.

Ada formula "penonton tahu, aktor tidak tahu". Penonton tahu siapa pembunuhnya, tapi polisi jadi tahu. Jadi penonton menunggu kapan polisi tau, dan bagaimana caranya.

Ada juga battle of wits alias adu cerdas antara dua ahli ilmu eksak. Ini gue suka banget. Jenius Fisika vs Jenius Matematika. Si Jenius Fisika melindungi pembunuh, sedangkan si Jenius Matematika disewa polisi untuk melacak pembunuh.

Lihat contoh perhitungan yang gue bikin --dengan susah payah- ini :
Pada fakta-fakta berikut.... (akar36) X 19 - (28 : 4) + 7 = 100.
Tapi dengan fakta yang sama, jawaban bisa jauh berbeda... (akar36) X 19 - 28 : (4 + 7) = 7,819. Beda kan?? Padahal cuman dengan memindahkan tanda kurung!

Nah, begitu juga kerjaan si Jenius Fisika. Fakta-fakta yang ada di kasus pembunuhan ini dia mainkan, ibaratnya tanda kurungnya dia pindah-pindah, sehingga jawabannya (dalam hal ini: pembunuhnya) berbeda.

Si Jenius Matematika yang ganteng itu sebenarnya curiga sama si Ahli Fisika, yang ternyata dia kagumi kejeniusannya sejak masih kuliah. Tapi semua fakta TIDAK mengarah ke si Ahli Fisika, maupun ke si ibu dan anak. Si Ahli Matematika pun gelisah karena dia yakin perhitungannya ada yang salah. Tapi apa???

Jadi prediksi dan antisipasi Ahli Fisika, dilawan pakai analisa Ahli Matematika. Jawaban yang melenceng harus dapat jawaban tepat. Apakah akhirnya polisi bisa mengungkap pembunuh sebenarnya? Nonton aja filmnya :))

Oh iya. Yang bikin film ini tambah menarik buat gue, si Ahli Fisika ekspresinya lempeng-lempeng aja, sangat tidak menarik perhatian. Padahal dia yang atur semua agar kecurigaan polisi beralih dari si ibu dan anak yang dia lindungi. Kenapa dia begitu ingin melindungi keduanya?? Nah, itu diungkap di akhir film. Ternyata sangat menyentuh. Manusiawi banget. Bahkan semua karakter di sini film ini sangat manusiawi. Hmmmm... kecuali pria yang dibunuh itu. :))

Adaptasi

Suspect-X diangkat dari novel Jepang berjudul Yogisha X no Kenshin (The Devotion of Suspect-X) oleh Keiga Higashino. Novel ini best-seller di negerinya. Si penulis dapat sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan bergengsi Naoki Prize. Novelnya sendiri memenangkan Honkaku Mystery Grand Prize. Bahkan di Honkaku Mystery Best 10, yang merupakan buku panduan fiksi-misteri Jepang 2008, tertulis kalau Yogisha X no Kenshin menempati posisi 1. Ciyeeeehh!!

Suspect-X masuk box office, dan bertengger di peringkat 3 film berpendapatan tertinggi 2008. Sebelumnya ada serial prekuel, yang notabene juga thriller-misteri. Judul serial TVnya: Galileo. Pemainnya kurang lebih sama kayak di film layar lebarnya. Tahun 2012 ini, akan dibuat film versi Korea Selatan, dengan judul (tentatif) Real Love. Secara gue suka genre thriller-misteri, gue tungguin versi Korea ini rilis di internet :)

--O--

Film Suspect X (2008)

Asal : Jepang
directed by Hiroshi Nishitani.
Pemain :

Tuesday, January 24, 2012

Razoon?

Ada film kartun lucu banget! Gw lupa, judulnya tuh Razoon ato apa. Baru sekali gue tonton, itu pun karena kemaren gue nemenin keponakan liat cartoon network.

OK. Katakanlah filmnya judulnya Razoon :) kalo salah ya maap :)) Episode yg gw liat ceritanya tentang ular yg pengen makan burung. Si ular nyelinap sana sini demi negrep si burung, tp selalu gagal... dgn cara tolol! :)

Contoh, dia nyamar jd daun2 di dahan pohon tinggi. Eeeh, daun2 itu dimakan jerapah. Secara si jerapah makan daun sambil narik2 daun... ketarik jugalah si ular. Hwaaaaa, gubrak!

Lalu si ular nyamar jd pohonnya skalian. Dia masuk lewat lubang pohon yg di bwh (dkt tanah), trus kepalanya nongol lewat lubang woodpecker dkt dahan atas. Trus si ular jalan bawa pohon (absurd kan?? Hahahahaaa). Di mana burung yg dia incar?? Lg berdiri di daun teratai di atas sebuah pond. Naaah, si ular gak sadar pond itu dalam. Jd pas udh nyampe tepi pond, dia tetep jalan tancap gas. Byuuuuurrrr! Kelelep deh dia di pond itu, skalian sama pohonnya :p.

Terakhir, si ular nyamar di antara bunga2 :)). Kepalanya dipasangin mahkota bunga. Yah, kurang lbh jd kayak bunga matahari gitu deh. Nah, dgn nyamar jd bunga, si ular mengawasi si burung yg lg terbang rendah menghisap madu di bunga sebelah. Pas si ular mau mangap makan burung... tiba2 ada lebah kecil terbang di dkt si ular.

Si lebah nyangka klo mahkota bunga yg satu itu bunga beneran! Padahal kan ular lg nyamar. Kesel dong si ular. Maka sama si ular... hap!... dimakan juga tu lebah biar gak ganggu. Heheheee, aman!!

Aman?! Tidak!! Krn pas si ular nengok, ternyata segerombol temen2 si lebah yg notabene lebah juga (!) lg terbang sambil menatap sebel si ular. Siap antup! Waaaa, si ular ketakutan. Kabuuuurrrr!!

Next scene-nya, si ular muncul udh bengkak2 keantup banyak lebah. :))

Benar2 ular tolol yg menghibur. Hahahahaaaa.

Saturday, January 14, 2012

Ondel Ondel Nyari Jodoh


Awaass!! Ada ondel-ondel nyari kerja plus nyari pacaaaarrr.

FTV ini bakal tayang di RCTI, Selasa 17 Januari 2012, jam 23 WIB.

Yang main : Mario Irwinsyah, Sabai Morschek, Alfie Alfandy, Marissa Jeffryna.

Produksinya MNC Pictures. Sutradaranya Gita Dirgahayu, penulisnya Budhita Arini.

Nonton aaaaaaaaaaaaahhhh!

Confrence Chat TAI

Sore tadi terjadi confrence chat tak ada itikad alias tai alias ngalor ngidul nggak juntrung antara sejumlah anak FISIP via bbm. Yang terlibat di sini ada gue, Desry, Armes, Shinto, Shinta, Dera, Ita, Octine. Semua di tempat masing-masing. Ada yang di rumah, di kantor, di jalan, atau mungkin di kamar mandi.

Seperti biasa, obrolan tai sama fisiper selalu bikin hati ringan tapi sakit jiwa makin parah. Tapi karena nyandu ya sudahlah, relakan. Nah, di confrence chat kali ini juga begitu. Setelah terlontar beberapa kalimat tanpa makna, yang ibarat kata lagi pemanasan, muncullah sejumlah keabsurdan dalam pembicaraan kami. Saking kebanyakan yang absurd, gue tulis yang paling gue inget aja.

Menurut Shinto, Armes menganggap pecel lele adalah seafood, karena lele adalah jenis ikan-ikanan. Nah, kalau gitu, kerang dan kepiting bukan seafood, karena bukan jenis ikan-ikanan. Kalau gitu juga, ayam termasuk seafood, karena ada orang-orang tertentu yang menyebut lauknya ikan-ayam. Benar begitu??

Masih menurut Shinto, Armes itu dulu nggak gaul. Soalnya dia baru tau kalau kepiting itu enak setelah dewasa. Ternyata Desry ngaku, dia juga baru tau kalau kepiting itu enak setelah dewasa. Octine langsung hewdeeeh hewdeeeh.... mempertanyakan dulu pada tinggal di mana? Emangnya di sana ada ketentuan kepiting adalah makanan orang dewasa?? Kok baru pada makan setelah dewasa???

Nanggepin Octine yang suka dipanggil Ocete, Armes berkilah, kan belum dewasa belum tau cara bukanya. Desry setuju, kalo belum akil balik nggak boleh dibuka, kata Desry. Nah, gue jadi bingung. Kepiting itu enak setelah konsumennya dewasa, atau setelah kepitingnya dewasa??? Menurut desry, that's open to any interpretation. Oooooo... ngerti deh maksudnya Jadi yang di-open itu nggak cuman kepiting. *polos mode on*

Di confrence chat ini, Desry juga dikomporin untuk memilih antara Goho dan Tingfu, dua fisiper bachelor yang istimewa banget deh.... (kalo lo sebangsa klingon). Secara menurut Octine atau Ita gitu deh... belum ada pernikahan sesama jurusan Sosiologi, maka Desry di-support abissss untuk pilih Goho, Tingfu, atau dua dosen senior (banget) yaitu -inisialnya aja ya- IC dan IG. :))

Buat Desry, siapa pun dia, yang penting yang getarannya kuat. Wooooooooooo! Ngomongin getaran langsung deh rame. Armes nuduh Desry senang yang bergetar. Sampe akhirnya ada yang ngusulin untuk beli kursi pijet getar aja, bisa bergetar atas bawah, bisa di-stel lama pula. Dua hari bisa tuh, selama listriknya kuat aja. Nah kan, gara-gara kursi pijet bergetar 2 hari, ada yang penasaran bisa nggak tuker tambah ama suami?? Hiyaaaaa!

Menjelang tengah malam, pembicaraan yang dimulai sore (lupa jam berapa) berakhir. Posisi masih di tempat masing-masing, nggak ada yang ketemuan. Padahal waktu masih sore ada yang nge-bbm "ketemuan yuuuuukkkk!!" yang tentunya nggak akan terjadi. Apa sebabnya???

Pertama, fisiper begitu labil dan in denial kalau sebenernya badan yang udah tua renta ini lebih suka istirahat di rumah daripada diseret ke cafe mana gitu buat ketemuan. Kedua, lagi ujan jek. Nggak ujan aja males gimana ujan?? Ketiga, ini nih kebiasan akut juga, ngajak ketemuan di tempat-tempat yang deket banget sama rumahnya. Yang di deket Lebak Bulus ngajak ketemuan di Citos. Yang di Bekasi ngajak ketemuan di Metropolitan Mall. Yang di Depok biasanya ngajak ketemuan di Cinere. Yang di Pejaten ngajak ketemuan di Pejaten Village. Halah, yang kelakuannya begini masih aja masih teriak-teriak "Kangeeeeeen! Ketemuan yuuuuuukkkkk!". Yang akhirnya tentu saja nggak jadi ketemuan. Hahahaaa.

Oh fisipers, meski kau sering galau, labil, garing, nggak nyambung dan budek, but i love you soooooo!!!