Tuesday, November 29, 2005

Gue Berpuisi, euy!

Aiiiih.... Bikin puisi!

Puisi bikinan gue kan katro semua. Nggak ada yg tau sih emang. Soalnya nyaris gak pernah gue tunjukin siapa2. Abis malu2in. Kalo gue nemu kertas2 coretan puisi gue jaman kuliah, gue mbacanya akan diam2. Takut ketauan. Coba deh, se-ekspresif mungkin ucapkan kata "Apa siiiiiiiiiiiiiiiiih????" . Naaah! Itu dia ekspresi gue kalo abis baca puisi bikinan gue sendiri.

Tapi gue HARUS berpuisi. Soalnya gue kudu nulis naskah yang salah satu karakternya adalah cowok penulis puisi (belom.... belom sampe seniman!). Naskah ini diangkat dari ketak ketiknya Ucup si pensuplai ide. Judulnya "Jangan Bilang Siapa-Siapa". Ceritanya tentang tiga sahabat (cowok) yang saking udah lama bener pacaran (masing2 pacaran sama cewek - jadi bukan homo), nekat ngetes "kesaktian" mereka ndeketin cewek-cewek lain.

Tokoh pecinta puisi di cerita itu namanya Evan. Karakternya romantis dan bukan pemberontak. Sama banget deh ama gue (hihihi). Berhubung dikejar deadline dan kudu cepet, gue pun menghayal mati-matian (sumpah, biasanya untuk menghayal gue nggak perlu usaha keras). Menghayalnya sambil nelangsa... susahnya bikin puisi cinta kalo lagi nggak punya pacar (oh, itu nelangsa yang lain yah?). Hiks, hiks, hiks. Tapi untungnya, dalam waktu singkat, terciptalah beberapa puisi. Uaaaah, lega.

OK. Gue paste puisi2-nya Evan itu. Jangan bilang siapa-siapa, kalo gue merasa puisi gue itu tetep katro, meski kata Mas Produser syairnya cute.


Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk lirik lagu band-nya Aldo (sobatnya).


Kamu tahu aku tahu
Kamu mencintaiku dalam bisu
Keluarlah dan katakan
Aku siap mendengarkan
Karena sudah seribu kali kuucapkan
tapi ku hanya mendapat jawaban
dalam tatapan, dan senyuman


Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk pacarnya, si lembut Clara.

Tak cukup kata cinta bisa kuucap
Pada gadis dengan tatapan sehangat mentari
Tutur sehalus desir angin
dan hati sejernih embun pagi
Tak cukup kata
tapi ku harap dia selalu bisa merasakannya.


Puisi ini dibuat Evan untuk Debra, anak bandel pacar Aldo dan nggak suka puisi, tapi penasaran pengen dibikinin puisi tentang dia... karena dia mengaku narsis!


Pernahkah kamu membayangkan

Di antara bunga berwarna di taman

Tumbuh ilalang mencuat sendirian

Meliuk ditiup angin pagi, siang dan petang
Bebas, lepas, tanpa tinggalkan tanah yang dihujam akarnya
Dengan kelopak mekar di kepala

Ilalang sepenuhnya sadar

Ia dan bunga sama cantiknya

Ya

Ia cantik, karena ia indah sebagai ilalang


Di bawah ini puisi yang ceritanya dibacakan seorang pujangga muda di sebuah malam apresiasi puisi.

Di sini kita duduk dalam diam

senyummu menghalau kelam

aku menahan perasaan

karena aku selalu paham

persahabatan kita bisa mengeringkan laut dan menyalakan malam


(thx to Iwan, akhirnya gw sukses mengutip rayuan lo! huahahahaa)

Di bawah ini puisi yang dibuat Evan untuk Clara, sehari setelah diputusin.


Salahku takkan pernah habis
dan aku bukan orang yang sempurna
tapi aku hanya ingin kamu tahu

aku tak pernah ingin jadi kekasih yang buruk untukmu


See???

Eh, tapi.... liat deh posting berjudul "FLY". Itu puisi bikinan gue loh. IMHO, (sambil malu...) the best ever :)).


NB : Nyusul nih, ketinggalan di-post....

Bening itu
terpancar dari matamu
yang hitam namun secerah langit biru
dan aku luluh dalam pesonamu

Di dunia ini tak ada yang pasti
seperti letak ujung pelangi yang menyentuh bumi
tapi sungguh bisa dimengerti
kalau kamu adalah pelangi
yang datang tanpa pergi lagi

--

Udah ah... malu... gombalica banget.


Wednesday, November 02, 2005

Idul Fitri

Idul Fitri di depan mata. Sedih rasanya, karena bulan Ramadhan ini gue nggak terlalu maksimal memanfaatkannya. Padahal, obral pahala konon gila-gilaan. Diskon ampunan dosa ditawar-tawarkan. Untuk manusia yang bodoh dan lemah kayak gue, mestinya bulan Ramadhan bener-bener jadi bulan gemblengan. Pantes nggak ya gue minta kesempatan hidup untuk ketemu lagi sama bulan Ramadhan?

Gue sendiri inget, di bulan Ramadhan ini, gue sempet ngambek berat ke ortu, gue sempet ngecewain ex temen-temen sekelas yang gue janjiin buka puasa bareng, gue sempet bohong demi kepentingan gue sendiri, dan banyak lagi catetan salah gue. Sholat? Aduh, berapa kali gue lewatin.

Padahal mestinya gue malu. Rizki buat gue udah banyak banget. Ortu yang pengertian, sodara-sodara yang sayang, temen-temen yang setia kawan, tetangga-tetangga yang kompak nggak ketulungan, kerjaan yang (meski sering bikin pusing) menyenangkan, kesehatan, tabungan, kesempatan ketemu orang, keleluasaan perasaan dan pikiran….

Gue selalu take it for granted kalo Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Apa yang dia nggak kasih ke gue, pasti (gue sadarin maupun nggak) dikompensasi dalam hal lain. Tapi kenapa gue suka nggak tau diri?

Tapi yang lewat nggak boleh disesalin ya. Semoga gue selalu inget untuk memperbaiki diri. Makanya selain sedih, gue juga bahagia dengan hampir lewatnya Ramadhan ini. Soalnya sejak pagi, SMS mengalir dari banyak manusia. Isinya puisi-puisi pendek, tentang maaf dan doa. Siapa yang nggak suka sih didoain yang baik-baik?

Ini yang gue paling nikmatin dari awal dan akhir Ramadhan, menjelang Idul Fitri. Suasananya mendukung banget buat silaturahmi secara hangat. Sama siapa aja. Temen deket, temen yang lamaaaaaaaaaa banget nggak ketemu, kerabat yang suka sebel-sebelan, bawahan susah diatur, bos bertaling nyeremin, klien bawel… semua bicara dengan bahasa yang sama, “maaf lahir batin”. We’re belong to a “mohon maaf lahir batin” family :).

Nggak hanya itu. Bahkan dengan tetangga sholat Ied pun –yang gue nggak kenal— usai sholat bisa salaman dan rangkulan sambil nangis-nangisan. Emang kata-katanya “maaf”…. Tapi bukan maaf yang gue rasa-in (secara gue nggak tau salahnya dia apa, dan gue juga biasanya cepet maafin orang) …. Saat itu, gue merasa… gue punya banyak sodara. Sodara yang dipersatukan hati.

“Ketika takbir membahana, bergemuruh seisi buana, puasa tersempurnakan, zakat tertunaikan, syukur dihaturkan, maaf dipertukarkan. Minal Aidin wal faidizin”.
(puisi SMS yg nyampe paling pagi, dari Lady)

Eh, eh… Btw, mau tau SMS yang paling bikin gue ketawa?

"Ass. Wr. Wb. Ketika fajar menyingsing, langit.... Ah, susah mau berpuitis ria. Langsung aja maaf lahir batin ya. Wass. Mediko, Irma, Raihan".
(dari pak Mediko, KCC - u rock !)


SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA ALLAH SWT MENERIMA IBADAH KITA
amiin…

-----