Friday, September 30, 2011

Debus di Bus

Seorang cowok remaja yang ceking, berkulit gelap kusam, berambut pendek acak-acakan meloncat ke bus metromini jurusan Tanah Abang - Pasar Minggu. Sejenak dia tatap seisi bus dengan matanya yang beler. Sungguh mengingatkan gue pada tipikal preman terminal. Lalu cowok itu mengambil sebuah benda kecil dari kantong celana jeans belel sobek-sobeknya. Benda itu dia tunjukkan ke semua penumpang. "Bapak-bapak! Ibu-ibu! Ini silet!"

Wakwaww! Para penumpang bis bereaksi. Ada yang megangin tasnya erat-erat. Ada yang duduknya jadi gelisah. Ada yang nengok-nengok ke pintu bis dan siap kabur. Ada juga yang berbisik lirih nama Tuhan-nya. Gue termasuk yang pertama. Gue pikir, cowok ini pasti mau cari duit! Tapi pake cara apa? Ngancem bunuh diri? Nyilet-nyilet penumpang??

"Silet ini bukan buat ngebajak bus!" teriak cowok ceking itu. Huaaaah! Lega dikiiit. Tapi tunggu. "Daripada saya ngerampok, ngebunuh, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu.... lebih baik saya cari uang dengan silet ini! Saya mau bikin pertunjukan debus!"

Ebuset! Dia emang mau bikin pertunjukan horor!

"Liat tangan saya!" teriaknya lagi sambil menepuk-nepuk lengannya. Sebagian penumpang menurut, sebagian yang lain buang muka. Udah eneg duluan. "Dan liat silet di tangan saya yang lain! Saya akan menyilet tangan saya!"

Sret!!

Aaaaah! Penonton kaget. Dan ngeri.

"Tangan saya nggak apa-apa!" teriak si cowok ceking sambil menunjukkan tangannya yang gitu-gitu aja. "Nggak ada darah. Nggak ada luka. Saya ulangi lagi nih!"

Sret!!

Penumpang ngerasa terteror.

Srett!!

Haiyaaaah! Penumpang makin ngerasa terteror.

Bahkan ada satu ibu yang terlihat mau muntah.

"Sekian debus dari saya, Bapak-bapak, Ibu-ibu! Saya lakukan ini karena saya cari uang! Daripada saya merampok atau membunuh. Lebih baik saya main debus! Tolong hargai usaha saya, Bapak-bapak, Ibu-ibu! Seribu dua ribu rupiah dari kantong anda, tak akan membuat anda jatuh miskin!"

Cowok ceking itu menyimpan siletnya lagi. Lalu dia mengeluarkan kantong bekas packaging permen dan menyodor-nyodorkannya ke depan muka tiap penumpang. Minta uang. Dua ibu masing-masing nyemplungin 1 koin ke kantong permen itu. Penumpang lainnya memberi isyarat 5 jari yang artinya: tidak. Dan si cowok ceking ngomel-ngomel sendiri. Ternyata "teror"nya nggak cukup sakti untuk meraup banyak uang di situ. Untung dia nggak nyilet orang.

Debus di bus emang baru sekali ini gue liat. Tapi "ngamen" versi ngancem di bus udah banyak macemnya. Bisa ngamen puisi, bisa ngamen lagu, tapi maaf aja ya... semua asal bunyi, nggak pake hati. Biasanya pelakunya dua orang ato lebih. Tampilan luar kurang lebih baju lusuh, muka beler, gaya sok jagoan, kalo ngomong teriak-teriak, dan ada ucapan "Daripada kami jadi pencuri atau pembunuh... lebih baik kami....."

Kenyataannya, belom pernah ada berita pengamen bermodel ngancem begini bikin keributan beneran di bus, apalagi sampe nyuri ato malah membunuh. Tapi ngamen ngancem gini asli bikin parno. Semoga kalo pun ada efek separah-parahnya, itu cukup bikin parno aja. Lebih dari itu? Naudzubillahi min dzalik.

Tuesday, September 20, 2011

Bude Nggak Punya Bahan Obrolan

Gue punya bude-jauh (kakak sepupu nyokap) berumur nyaris 70 tahun. Biar pun udah sepuh, semangat ngobrolnya sangat tinggi. Dia pasti menyapa duluan setiap kenalan yang dia temuin, lalu mengobrol. Ehm, ngobrolnya cenderung nyinyir sih.

Setelah bertahun-tahun ilang kontak, bude dan gue ketemu lagi nih kemaren. Ketemuannya di rumah adek sepupu nyokap, yang karena kehendak Allah baru aja dipanggil ke sisiNya alias meninggal. Gue tadinya nggak ngeh ada dia, dan baru noleh setelah dia manggil-manggil beberapa kali, "Dita! Dita!"

Gue datengin si bude. Cium tangan. Lalu basa basi. Si bude nanya kabar gue, kabar kakak gue, dan anak-anaknya kakak gue.

Bude : Oooo! Terus... kamu kapan nyusul??

Gue : Hah?? *ternganga, inget jenazah di ruangan itu*

Bude : Kok malah hah heh? Kamu kapan nyusul??

Gue : *asli bingung* .... Nyusul siapa??

Bude : Nyusul kakakmu!

Halaaaah! Nggak ada obrolan lain apa ya? Secara di rumah ini lagi suasana duka. Secara jenazah terbaring nggak jauh dari gue dan dia. Masih mending gue nggak tanya balik, "Bude kapan nyusul??".

Monday, September 12, 2011

Good to be Back

Baby it's good to be back
So good to be back
Honey it's good to be back
In your arms again

-- swing out sisters --

Back ke mana? Ke blogger. Kembali nulis di blog yang udah lama banget gue tinggalin. Seperti kembali bercerita ke temen lama.

Seperti temen lama, yang nerima gue apa adanya, begitu juga dengan menulis di blog ini. Blog ini nerima apapun tulisan gue apa adanya, tanpa protes (ya iyalah! gmana caranya protes???).

Masalahnya, cerita gue sepertinya nggak banyak yang baru. Soal cinta? Datang dan pergi belum ada yang awet, hikssss. Soal kerjaan? Kerjaan utama tetep nulis, honor naik, tapi nggak bombastis (oh para produser, kalo naikin honor yang boros dong please, hehehe). Soal pertemanan? Make new friends and keep the old. Soal kecerdasan? Haaaah, no comment.

Singkatnya, hidup gue gini-gini aja. Mengalir kayak air. Kadang lewat selokan, kadang lewat lautan, kadang jadi awan, kadang jadi hujan. For your information, selokan sampe hujan itu gue tulis tanpa itikad alias pengen nulis begitu aja. Jangan tanya maknanya karena gue juga bingung.

Hmm.... Sebagai orang berusia 30an, sepertinya gue udah ngelewatin quarter life crisis. Sepertinya yaaaaa. Sepertinya! Inget, sepertinyaaaa! :) Sekarang emang masih suka galau, tapi hellooooow... siapa sih hare gene yang nggak pernah galau?? Gue beruntung masih punya ortu dan sahabat untuk sharing, dan blog ini untuk bercerita tentunya.

So... Honey, it's good to be back!