Wednesday, November 23, 2011

Dari Sebuah Halte Busway

Setelah beberapa bulan nggak naik trans Jakarta, pekan lalu gue nge-busway lagi (catatan : istilah busway mungkin gak tepat karena yang dimaksud busway itu jalur-nya, bukan bis-nya. Bisnya ya bis trans Jakarta).

Gue naik jam 3 sore dari halte Pasar Genjing. Timing yang salah. Soalnya saat itu sejumlah suporter Timnas bola menyesaki bis transJakarta untuk ke Gelora Bung Karno. Maklum, waktu itu Timnas mau tanding lawan Vietnam di semifinal Sea Games.

Alhasil, karena nggak tahan sesak, gue turun di halte Pasar Rumput. Rencana ke Blok M gue batalin aja. Mending pulang ke Bekasi. Dari halte Pasar Rumput ke terminal Manggarai kan deket banget tuh, terminal paling deket malah. Jadi gue mutusin naik trans Jakarta lagi ke arah balik (arah Pulo Gadung).

Tapiiiiii... nunggu bis transJakarta sama aja kaya nunggu pemerintah ngumumin Idul Fitri tahun ini. Laamaaaaa. Nggak dateng-dateng.

Setengah jam gue berdiri di dalam halte, barulah satu bis baru dateng. Itu pun bis penuh. Jadi petugas trans Jakarta ngelarang calon penumpang masuk ke bis. Eaalaaaah. Bis terpaksa dibiarkan jalan terus tanpa nambah penumpang. Kami di halte terpaksa nunggu lagi.

Sekitar 30 menit kemudian, datang lagi bis trans Jakarta dari arah Kuningan. Eh penuh juga! Petugas trans Jakarta tetap ngelarang calon penumpang naik bus. Maka bis kedua tadi berangkat lagi setelah nurunin 1 penumpang. Calon penumpang di halte Pasar Rumput pun tetep segitu-gitu aja, 6 orang.

Kesel nunggu kelamaan, akhirnya gue motret-motret aja dari halte. Motret-nya sambil sebel, lantaran ngeliat banyak kendaraan pribadi lewat jalur busway yang mestinya steril itu.

Nih hasil fotonya. Seri foto ini gue kasih judul "Macet Kemrecet Pasar Rumput Manggaracet".

Mobil pribadi masuk jalur busway.

Motor pribadi masuk jalur busway.

Metromini masuk jalur busway.

Manusia pun make jalur busway.

Motor lancar di jalur busway. Jalur biasa macet mah sebodo teuing.


Tuesday, November 15, 2011

Muntah Dulu Aaaaah

Udah lama gak nulis skrip sitkom (situasi komedi/komedi situasi), giliran dapet PR nulis sitkom.... alamaaaaaak!

Apa yang gue anggap lucu, belom tentu di rapat naskah dinilai lucu. Apa yang gue anggap nggak lucu, ternyata di forum rapat dinilai lucu. 

Secara umum, skrip gue dinilai gak lucu, adegan kurang lebay, cerita kurang greget, kurang heboh, kurang bombastis, kurang ini itu.... hiyaaaaa... puyeng lah gue.

Prinsipnya, untuk menulis skrip sitkom, ya mesti lucu di naskah, bukan di pikiran lo, bukan di omongan lo. Indikator naskah komedi?? Yang baca ketawa. Ngakak akan lebih bagussss. 

Kalo senyum-senyum doang gimana? Itu belom lucu! Silakan bikin lagi sampe lucu! Gak lucu juga?? Silakan stureisssss.


Friday, November 04, 2011

Tuesday, November 01, 2011

A Game for Outing


Jangan bingung jika pas lagi outing kamu lupa bawa kartu atau permainan yang bisa buat seru-seruan rame-rame.

Dua kali gue ikut geng kantornya-nya Desry ke luar kota, dua kali pula gue terlibat di sebuah game seru. Mainnya bisa berjam-jam. Pesertanya antara 3 sampe .... 10 orang! Mau lebih dari 10 orang juga masih mungkin, bikin lebih menegangkan, tapi jadi lebih susyahhh.

Mainnya silahkan di mana aja. Di mobil, di rumah, di outdoor, bisa! Alatnya pun gampang banget! Cuman (maksimal) 10 jari pesertanya.

Cara mainnya? Tinggal teriak, "Pancasila ada beraaaapaaaaa?". Terus para peserta game nunjukin sejumlah jarinya. Terserah mau berapa jari. Tapi maksimal 10, karena nggak pake jari kaki.

Lalu jumlah jari yang ditunjukin itu dihitung. Jumlah jari menunjukkan abjad. Misal, 1 jari = huruf A. Lima jari = huruf E. Tiga belas jari = M. Kalo jumlah jari lebih dari 26, berarti muter lagi dong dari huruf A.

Truuuussss... kalo udah kepilih satu abjad, setiap peserta harus nyebut judul lagu, atau awal bait / awal kalimat lagu tertentu. Sebenernya bisa juga diganti nama negara ato judul film. Tapi percaya deh, lebih gampang pake judul lagu. Lebih banyak yang tau. Mana terserah pula mau pake lagu apa. Lagu nasional, lagu daerah, lagu pop anak sampe dewasa, lagu rock, lagu orang bule, lagu Rohani... terserah!

Permainan ini cukup menegangkan, kalo kita belom tau mesti nyebut lagu apa, padahal bentar lagi giliran kita. Makin tegang lagi kalo pas giliran kita nyebut, kita masih blank. Ditambah lagi itungan satu...dua...tiga.... ampe sepuluh... yang disebut temen-temen yang emang niat bikin kita makin sutrissss! Kalo nggak bisa juga? Sentil! Then you're out!

Lucunya permainan ini, kalo udah kepepet, suka muncul judul-judul kreatif. Misal :

Lagu dari huruf P!
"Peeling.... wowowo peeling." (itu feeling! maksa deh).
Lagu dari huruf F!
"Ferempuan desa...." (itu pake Pe bukan eP!).
Lagu dari huruf I!
"I-book lagiiiii ah! I-book lagi." (mestinya : mabuk lagiii...).

Atau... satu lagu bisa dieksploitasi untuk jawaban beberapa huruf. Misal :

Lagu dari huruf N!
"Neng, di sini aje Neng!" (lagunya Benyamin S - Idar Royani).
Lagu dari huruf B!
"Bang, di sono aje Bang!" (idem).
Lagu dari huruf O!
"Ogah ah di sini aaaajee". (ya lirik lagu yg sama).

Nggak jarang terjadi, antar peserta nyaris saling mencekik.
Contoh, lagu dari huruf K!
Peserta 1 : (nada lagu Kukukukuruyuk). "Kokorono tomo..."
Peserta 2 : Eeeeh, curang lo, ngambil dua lagu sekaligus!
Peserta 1 : Itu satu lagu! Kokoro no tomo!
Peserta 2 : Kokoro no tomo nadanya nggak gitu! Itu lagu kukuruyuk.
Peserta 1 : Itu nadanya kokoro no tomo! (ngotot).
Peserta 2 : Tapi nada lo kukuruyuk! Kukuruyuk ya kukuruyuk aja! Gue nih, yang udah nyiapin kokoro no tomo yang bener!!

Halaaah. Pertengkaran itu ternyata berdasarkan kepentingan pribadi. Peserta 1 nggak mau dibilang salah, peserta 2 nggak mau kecurian lagu. Keputusan akhir biasanya si peserta 2 disuruh nyari lagu lain, tapi peserta 1 tetep dimarahin orang-orang segrup. Meski begitu, peserta 1 gak peduli dimarahin, yang penting gilirannya selamaaattt.

Terakhir gue main "Pancasila Ada Berapa" ini berdelapan orang, ngabisin sekitar 3 jam. Itu pun terpaksa distop karena kami mesti bobo, besok kudu trekking dari subuh (yang mana daripada akhirnya kami gak trekking juga lantaran kesiangan!).

Nggak tau juga kenapa mesti pake nyebut "Pancasila ada berapa". Soalnya kalo yang ditanya sila Pancasila, ya jawabnya pasti lima! Tapi ini bukan soal PPKN. Ini game yang asli seru. Keseruannya nularin orang yang denger!! Nggak percaya? Silakan coba!