Wednesday, January 25, 2012

Suspect X - Kasus Pembunuhan di Tangan Pakar Eksak


Seorang pria terbunuh di apartemen istrinya. Pembunuhnya? Istri dan anaknya sendiri! Sebab terjadi pembunuhan sampai adegan terbunuhnya si pria itu dipaparkan jelas di awal. Laah, ini cerita detektif. Kok pembunuhnya sudah dibocorin ke penonton?

Itulah serunya Suspect X, film detektif Jepang bergenre thriller-misteri buatan tahun 2008. Film ini TIDAK bikin penonton bertanya-tanya siapa pembunuhnya. Tapi film ini menceritakan bagaimana upaya seseorang agar pembunuh sebenarnya tidak ketahuan polisi meski sudah di depan mata, dan bagaimana upaya polisi melacak pembunuh yang disamarkan itu.

Ada formula "penonton tahu, aktor tidak tahu". Penonton tahu siapa pembunuhnya, tapi polisi tidak tahu. Jadi penonton menunggu kapan polisi tau, dan bagaimana caranya. Itulah yang dijual di film ini.

Ada juga battle of wits alias adu cerdas antara dua ahli ilmu eksak. Ini gue suka banget. Jenius Fisika vs Jenius Matematika. Si Jenius Fisika melindungi pembunuh, sedangkan si Jenius Matematika disewa polisi untuk melacak pembunuh.

Lihat contoh perhitungan yang gue bikin --dengan susah payah- ini :
Pada fakta-fakta berikut.... (akar36) X 19 - (28 : 4) + 7 = 100.
Tapi dengan fakta yang sama, jawaban bisa jauh berbeda... (akar36) X 19 - 28 : (4 + 7) = 7,819. Beda kan?? Padahal cuman dengan memindahkan tanda kurung!

Nah, begitu juga kerjaan si Jenius Fisika. Fakta-fakta yang ada di kasus pembunuhan ini dia mainkan, ibaratnya tanda kurungnya dia pindah-pindah, sehingga jawabannya (dalam hal ini: pembunuhnya) berbeda.

Si Jenius Matematika yang ganteng itu sebenarnya curiga sama si Ahli Fisika, yang ternyata dia kagumi kejeniusannya sejak masih kuliah. Tapi semua fakta TIDAK mengarah ke si Ahli Fisika, maupun ke si ibu dan anak. Si Ahli Matematika pun gelisah karena dia yakin perhitungannya ada yang salah. Tapi apa???

Jadi prediksi dan antisipasi Ahli Fisika, dilawan pakai analisa Ahli Matematika. Jawaban yang melenceng harus dapat jawaban tepat. Apakah akhirnya polisi bisa mengungkap pembunuh sebenarnya? Nonton aja filmnya :))

Oh iya. Yang bikin film ini tambah menarik buat gue, si Ahli Fisika ekspresinya lempeng-lempeng aja, sangat tidak menarik perhatian. Padahal dia yang atur semua agar kecurigaan polisi beralih dari si ibu dan anak yang dia lindungi. Kenapa dia begitu ingin melindungi keduanya?? Nah, itu diungkap di akhir film. Ternyata sangat menyentuh. Manusiawi banget. Bahkan semua karakter di sini film ini sangat manusiawi. Hmmmm... kecuali pria yang dibunuh itu. :))

Adaptasi

Suspect-X diangkat dari novel Jepang berjudul Yogisha X no Kenshin (The Devotion of Suspect-X) oleh Keiga Higashino. Novel ini best-seller di negerinya. Si penulis dapat sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan bergengsi Naoki Prize. Novelnya sendiri memenangkan Honkaku Mystery Grand Prize. Bahkan di Honkaku Mystery Best 10, yang merupakan buku panduan fiksi-misteri Jepang 2008, tertulis kalau Yogisha X no Kenshin menempati posisi 1. Ciyeeeehh!!

Suspect-X masuk box office, dan bertengger di peringkat 3 film berpendapatan tertinggi 2008. Sebelumnya ada serial prekuel, yang notabene juga thriller-misteri. Judul serial TVnya: Galileo. Pemainnya kurang lebih sama kayak di film layar lebarnya. Tahun 2012 ini, akan dibuat film versi Korea Selatan, dengan judul (tentatif) Real Love. Secara gue suka genre thriller-misteri, gue tungguin versi Korea ini rilis di internet :)

--O--

Film Suspect X (2008)

Asal : Jepang
directed by Hiroshi Nishitani.
Pemain :

Tuesday, January 24, 2012

Razoon?

Ada film kartun lucu banget! Gw lupa, judulnya tuh Razoon ato apa. Baru sekali gue tonton, itu pun karena kemaren gue nemenin keponakan liat cartoon network.

OK. Katakanlah filmnya judulnya Razoon :) kalo salah ya maap :)) Episode yg gw liat ceritanya tentang ular yg pengen makan burung. Si ular nyelinap sana sini demi negrep si burung, tp selalu gagal... dgn cara tolol! :)

Contoh, dia nyamar jd daun2 di dahan pohon tinggi. Eeeh, daun2 itu dimakan jerapah. Secara si jerapah makan daun sambil narik2 daun... ketarik jugalah si ular. Hwaaaaa, gubrak!

Lalu si ular nyamar jd pohonnya skalian. Dia masuk lewat lubang pohon yg di bwh (dkt tanah), trus kepalanya nongol lewat lubang woodpecker dkt dahan atas. Trus si ular jalan bawa pohon (absurd kan?? Hahahahaaa). Di mana burung yg dia incar?? Lg berdiri di daun teratai di atas sebuah pond. Naaah, si ular gak sadar pond itu dalam. Jd pas udh nyampe tepi pond, dia tetep jalan tancap gas. Byuuuuurrrr! Kelelep deh dia di pond itu, skalian sama pohonnya :p.

Terakhir, si ular nyamar di antara bunga2 :)). Kepalanya dipasangin mahkota bunga. Yah, kurang lbh jd kayak bunga matahari gitu deh. Nah, dgn nyamar jd bunga, si ular mengawasi si burung yg lg terbang rendah menghisap madu di bunga sebelah. Pas si ular mau mangap makan burung... tiba2 ada lebah kecil terbang di dkt si ular.

Si lebah nyangka klo mahkota bunga yg satu itu bunga beneran! Padahal kan ular lg nyamar. Kesel dong si ular. Maka sama si ular... hap!... dimakan juga tu lebah biar gak ganggu. Heheheee, aman!!

Aman?! Tidak!! Krn pas si ular nengok, ternyata segerombol temen2 si lebah yg notabene lebah juga (!) lg terbang sambil menatap sebel si ular. Siap antup! Waaaa, si ular ketakutan. Kabuuuurrrr!!

Next scene-nya, si ular muncul udh bengkak2 keantup banyak lebah. :))

Benar2 ular tolol yg menghibur. Hahahahaaaa.

Saturday, January 14, 2012

Ondel Ondel Nyari Jodoh


Awaass!! Ada ondel-ondel nyari kerja plus nyari pacaaaarrr.

FTV ini bakal tayang di RCTI, Selasa 17 Januari 2012, jam 23 WIB.

Yang main : Mario Irwinsyah, Sabai Morschek, Alfie Alfandy, Marissa Jeffryna.

Produksinya MNC Pictures. Sutradaranya Gita Dirgahayu, penulisnya Budhita Arini.

Nonton aaaaaaaaaaaaahhhh!

Confrence Chat TAI

Sore tadi terjadi confrence chat tak ada itikad alias tai alias ngalor ngidul nggak juntrung antara sejumlah anak FISIP via bbm. Yang terlibat di sini ada gue, Desry, Armes, Shinto, Shinta, Dera, Ita, Octine. Semua di tempat masing-masing. Ada yang di rumah, di kantor, di jalan, atau mungkin di kamar mandi.

Seperti biasa, obrolan tai sama fisiper selalu bikin hati ringan tapi sakit jiwa makin parah. Tapi karena nyandu ya sudahlah, relakan. Nah, di confrence chat kali ini juga begitu. Setelah terlontar beberapa kalimat tanpa makna, yang ibarat kata lagi pemanasan, muncullah sejumlah keabsurdan dalam pembicaraan kami. Saking kebanyakan yang absurd, gue tulis yang paling gue inget aja.

Menurut Shinto, Armes menganggap pecel lele adalah seafood, karena lele adalah jenis ikan-ikanan. Nah, kalau gitu, kerang dan kepiting bukan seafood, karena bukan jenis ikan-ikanan. Kalau gitu juga, ayam termasuk seafood, karena ada orang-orang tertentu yang menyebut lauknya ikan-ayam. Benar begitu??

Masih menurut Shinto, Armes itu dulu nggak gaul. Soalnya dia baru tau kalau kepiting itu enak setelah dewasa. Ternyata Desry ngaku, dia juga baru tau kalau kepiting itu enak setelah dewasa. Octine langsung hewdeeeh hewdeeeh.... mempertanyakan dulu pada tinggal di mana? Emangnya di sana ada ketentuan kepiting adalah makanan orang dewasa?? Kok baru pada makan setelah dewasa???

Nanggepin Octine yang suka dipanggil Ocete, Armes berkilah, kan belum dewasa belum tau cara bukanya. Desry setuju, kalo belum akil balik nggak boleh dibuka, kata Desry. Nah, gue jadi bingung. Kepiting itu enak setelah konsumennya dewasa, atau setelah kepitingnya dewasa??? Menurut desry, that's open to any interpretation. Oooooo... ngerti deh maksudnya Jadi yang di-open itu nggak cuman kepiting. *polos mode on*

Di confrence chat ini, Desry juga dikomporin untuk memilih antara Goho dan Tingfu, dua fisiper bachelor yang istimewa banget deh.... (kalo lo sebangsa klingon). Secara menurut Octine atau Ita gitu deh... belum ada pernikahan sesama jurusan Sosiologi, maka Desry di-support abissss untuk pilih Goho, Tingfu, atau dua dosen senior (banget) yaitu -inisialnya aja ya- IC dan IG. :))

Buat Desry, siapa pun dia, yang penting yang getarannya kuat. Wooooooooooo! Ngomongin getaran langsung deh rame. Armes nuduh Desry senang yang bergetar. Sampe akhirnya ada yang ngusulin untuk beli kursi pijet getar aja, bisa bergetar atas bawah, bisa di-stel lama pula. Dua hari bisa tuh, selama listriknya kuat aja. Nah kan, gara-gara kursi pijet bergetar 2 hari, ada yang penasaran bisa nggak tuker tambah ama suami?? Hiyaaaaa!

Menjelang tengah malam, pembicaraan yang dimulai sore (lupa jam berapa) berakhir. Posisi masih di tempat masing-masing, nggak ada yang ketemuan. Padahal waktu masih sore ada yang nge-bbm "ketemuan yuuuuukkkk!!" yang tentunya nggak akan terjadi. Apa sebabnya???

Pertama, fisiper begitu labil dan in denial kalau sebenernya badan yang udah tua renta ini lebih suka istirahat di rumah daripada diseret ke cafe mana gitu buat ketemuan. Kedua, lagi ujan jek. Nggak ujan aja males gimana ujan?? Ketiga, ini nih kebiasan akut juga, ngajak ketemuan di tempat-tempat yang deket banget sama rumahnya. Yang di deket Lebak Bulus ngajak ketemuan di Citos. Yang di Bekasi ngajak ketemuan di Metropolitan Mall. Yang di Depok biasanya ngajak ketemuan di Cinere. Yang di Pejaten ngajak ketemuan di Pejaten Village. Halah, yang kelakuannya begini masih aja masih teriak-teriak "Kangeeeeeen! Ketemuan yuuuuuukkkkk!". Yang akhirnya tentu saja nggak jadi ketemuan. Hahahaaa.

Oh fisipers, meski kau sering galau, labil, garing, nggak nyambung dan budek, but i love you soooooo!!!

Monday, January 02, 2012

Adaptasi Manga ke Live Action



















Banyak manga (komik Jepang) yang diadaptasi jadi film live action (film yang pemerannya orang beneran, bukan animasi). Itazura na Kiss, Hana Yori Dango (Boys Over Flower), Detektif Conan, dll. Favorit gue masih Garasu no Kamen (Glass Mask atau Topeng Kaca) karya Shizue Miuchi, yang live actionnya bikin gue naksir berat sama Seiichi Tanabe si pemeran Masumi Hayami.

Gue nggak bahas cerita-cerita di atas :). Udah lupa detilnya. Yang mau gue bahas adalah film Jepang yang baru gue tonton, jadi masih anget di kepala. Judulnya From Me to You, adaptasi manga Kimi ni Todoke. Gambarnya yang di foto atas itu tuh, yang di bawah judul. Filmnya sih gue suka, dan ocehan gue soal film itu udah gue tulis di post sebelum ini.

Manga Kimi ni Todoke terbit dari tahun 2005, sampe sekarang (menurut wikipedia yg gue akses jam 11 malem tgl 2 Januari 2012) sudah ada 14 volume dan belum tuntas. Mengadaptasi serial manga 14 volume jadi film yang cuman 2 jam, jidat si penulis skenario film pasti berkerut. Gue nebak-nebak manakah bagian cerita yang dibuang? Mana pula yang diubah demi logika film?? Nah, dari membandingkan tontonan dan contekan wikipedia, ini yang gue dapat :

1. Menghilangkan beberapa karakter

Di antara karakter di manga yang nggak muncul di film live action adalah : Kento Miura (cowok populer yang naksir Sawako juga, dan akhirnya bikin Kazehaya cemburu), Tomoko Endo dan Eriko Hirano (dua temen deket yang masuk kelompok Sawako juga, di manga mau nunjukin temen Sawako banyak, tapi di film malah jadi kebanyakan kali), Joe Jonouchi(karakter komedik yang suka jadi nyamuk nyempil di tengah Sawako-Kazehaya, yang justru sering menggagalkan pedekatenya Kazehaya ke Sawako), Yoshiuki "Zen" Arai (mantan guru kelasnya Sawako), dan Shino (cewek temen masa kecil Sawako).

2. Menghilangkan / mengubah beberapa detil cerita

Karena ada karakter yang hilang, akibatnya ada juga cerita yang nggak bisa masuk ke film. Di film From Me to You nggak ada tuh Kazehaya yang gemes karena pedekate-nya ke Sawako gagal karena gangguan Joe, wong tokoh Joe-nya juga nggak masuk film. Nggak ada pula Kazehaya cemburu pada cowok populer yang jadi saingannya, Kento Miura.

Tapi tanpa karakter hilang pun, cerita film bisa gak mirip manga-nya. Contoh, menurut wiki, karakter Ayane di manga bermulut silet, tapi seinget gue ucapan Ayane di film nggak silet-silet amat, malah terkesan penuh dukungan. (ato karena gue nggak ngerti bahasa Jepang dan hanya ngandelin English translation aje ye?). Di manga, karakter Ayane juga suka nendang Kazehaya kalo dipikirnya abis nyakitin hati Sawako, kalo di film nggak ada tuh Ayane nendang cowok.

Kata wiki, di manga si Ayane sempet deket sama Pin si guru tengil. Di film nggak ada! Pin si guru tengil nggak pernah ada romance ama murid mana pun.

Terlalu banyak yang bisa dijadiin catatan, karena gue nggak baca seri manga-nya maka ngeri juga gue nulis panjang-panjang. Tapi sepertinya kisah di film tuh cuman sampe manga volume sekian deh, karena ending yang gue liat di film, sebenarnya ada perkembangannya lagi di manga. Misal, perubahan karakter cewek saingan Sawako, hubungan Chizuru dan Ryu setelah keduanya sama-sama patah hati, dll.

Nggak ada adaptasi yang 100% sama dengan asalnya.

Ya iyalaaah. Karakter mediumnya aja beda. Manga dan Film. Di manga, pernyataan sikap bisa ditulis, isi pikiran bisa di-tulis, volume bisa belasan bahkan puluhan sehingga banyak cerita bisa digali, karakter bisa banyak toh nggak bayar banyak pemain, dll. Di film, prinsipnya show and don't tell, durasinya terbatas (120 menit maksimal... mana mungkin cerita belasan volume manga masuk kumplit di situ?), dan karena durasi terbatas maka jumlah karakternya juga disesuaikan.

Dari perubahan-perubahan yang ditulis di atas aja, udah bisa ditebak ada reaksi suka dan nggak suka dari pemirsanya. Gue misalnya, meski nggak baca manga-nya nih, tapi gue lebih suka kalo ada Kento Miura si saingan Kazehaya itu. Pengen tau gimana reaksi Kazehaya. Emang di film ada Ryu yang sempet dicemburuin Kazehaya, tapi Ryu kan pendiam dan suka ama cewek lain, bukan lawan sepadan buat Kazehaya.

Karena gue nggak baca manga-nya (ulang terussss biar nggak disalahin, hahahaa), gue juga nggak tau apa yang gue harapin dari tokoh-tokoh di film From Me to You. Jadi pas gue nonton, gue cuman terganggu sama Ayane dan Chizuri yang rasanya kok copy cat characters alias nggak ada bedanya. Kalo sama produser-produser gue, karakter begitu pasti dihapus aja salah satunya.

Ini berbeda waktu gue udah baca manga Garasu no Kamen dan akhirnya nonton live action-nya. Pertama kali liat Masumi Hayami... halah... gue nggak suka! Jelek! Tua! Terlalu ceking! Terlalu tinggi buat Maya! Masumi Hayami harusnya charming sejak pertama kali muncul. Dan komentar temen gue yang juga pecinta garasu no kamen pun sama. Negatif. Meski akhirnya kami ngakuin kalo Seiichi Tanabe si Masumi Hayami itu charming and also sexy in his own way, tapi kan kami ngakuin dia cocok jadi Masumi Hayami pake proses marah-marah dan nolak-nolak dulu. Soal cerita? Yes, ada yang beda dari manga. Gue lupa apa tapi pas nonton gue mikir kayaknya di manga gak gitu. Tapi gue puas sama penceritaan di dorama. Gue juga angkat dua jempol untuk tiap pemain dorama Garasu No Kamen. Gue cuman kecewa sama ending (di episode tambahan) yang ngulur-ngulur kepanjangan. Mungkin untuk memenuhi kontrak durasi, sementara cerita harus dijaga agar nggak berkembang lagi, hanya sebatas nyelesain konflik yang belum tuntas, secara penulis aslinya udah stop nulis saat cerita masih nggantung banget.

Oh iya. Satu lagi. Manga City Hunter! Adaptasinya ke film yang dibintangi Jacky Chan ada perubahan, jadi lebih megah kasusnya. Gue suka film ini karena kocak, meski banyak nemuin perbedaan di karakter Ryo Saeba si City Hunter. Sedangkan adaptasi ke serial korea yang dibintangi Lee Min Ho, wuuuuhhhh itu rombak abis! , cerita, setting, nama-nama.... ganti semua! Malah bisa dibilang, yang dipake hanyalah judul "City Hunter". Gue kelar nonton ke-16 episode serial City Hunter Korea, tapi tanpa antusias. Bukan karena perombakan total tadi, melainkan karena bocen.... perkembangan ceritanya lamaaaa dan bolak balik. Alasan gue nyelesain serial ini karena pengen tau apakah si City Hunter Lee Min Ho ini tuntas ngebalas dendamnya (secara ceritanya tentang balas dendam)??

Meski ada adaptasi cerita yang gue nggak suka, tapi gue selalu salut sama yang mengadaptasi. Butuh effort, men! Pake mikir. Pake ilmu. Dan lihat... untuk manga yang diadaptasi jadi film ... jumlahnya masih banyak aja (lihat tahun pembuatannya). Semoga di Indonesia juga mirip-mirip gitu, makin banyak karya tulis (novel atau cerpen) yang diadaptasi jadi film... dan gue yang nulis skrip-nya. Ngarep asliiii! :))

From Me To You


Ini film kedua yang gue tonton di tahun 2012. Film Jepang, judulnya From Me to You. Judul Jepang-nya Kimi ni Todoke. Ini film remaja, para karakternya aja berseragam SMA. Seger di mata.

Namanya juga cerita anak SMA. Konfliknya seputar romance, persahabatan dan pencarian jatidiri. Ceritanya ringan, tapi banyak menebar nasehat-nasehat yang nggak menggurui.

Belakangan setelah ubek-ubek wikipedia, gue baru tau kalo film ini sukses di Jepang. Di minggu pertama penayangannya, 25-26 September 2010, From Me to You jadi film terlaris kedua di sana. Hebat euy.

Sinopsis

Tokoh utama di film ini adalah cewek SMA bernama Sawako, yang di sekolahnya suka diolok-olok sebagai Sadako, karakter horor di film The Ring. Tak cuma itu, beberapa siswa juga kaget beneran kalau didekati Sawako yang rambutnya lurus panjang menutupi sebagian mukanya, persis gaya rambut Sadako. Belum lagi bicaranya yang pelan cenderung bisik-bisik. Bikin merinding anak sekolah.

Saat banyak yang jauhin Sawako, ada satu cowok yang asik-asik aja sama doi. Namanya Kazehaya. Mereka pertama kali ketemu di jalan. Sawako nunjukin arah sekolah ke Kazehaya, dan sejak itu Kazehaya nandain Sawako sebagai gadis yang baik. Tak seperti Sawako yang minderan, Kazehaya ramah dan vokal. Dia langsung populer di sekolah. Banyak cewek suka sama dia, termasuk Kirumi, cewek cantik bekas temen SMP-nya.

Sikap Kazehaya yang asik aja ke Sawako awalnya bikin gadis itu bingung. Gimana nggak, karena hampir semua anak di sekolahnya mengolok dia, akhirnya dia tak punya kawan. Padahal dia pengen berteman. Saking pengennya, dia bersedia jadi hantu di jurit malam. Nggak papa deh jadi hantu, yang penting dirinya bermanfaat, dan ujungnya temen-temen mau main sama dia.

Dari jurit malam itu, Sadako eh Sawako dapat 2 sahabat cewek. Namanya Chizuru dan Ayane, dua cewek tomboy yang iseng, pemberani, kurang pinter tapi jago banget sepakbola. Sawako juga jadi dekat sama Kazehaya, ketua panitia jurit malam... yang ternyata diam-diam naksir Sawako. Grup kecil mereka dilengkapi cowok pendiam dan acuh bernama Ryu.

Dengan cara masing-masing, kelima anak ini menghargai persahabatan mereka. Sawako yang penggugup itu nekat menyuruh penggosip di sekolah menarik omongan sinisnya tentang Chizuru dan Ayane. Di kesempatan lain, Chizuru dan Ayane yang siap senggol bacok rela tak membalas perlakuan pembenci Sawako, karena menghormati keputusan Sawako. Ryu si pendiam ternyata pengamat yang baik. Kazehaya yang bijaksana selalu menyarankan langkah terbaik (versi dia) menghadapi masalah. Pendeknya, "Kita sudah berteman sebelum kita tahu kalau kita berteman," kata Chizuru.

Tapi kata pertemanan juga yang bikin Kazehaya susah ngaku naksir sama Sawako. You know lah, takut ditolak sama temen sendiri. Salah satu formula romantic comedy, udah suka, tapi nggak berani ngomong, akhirnya salah paham, jadi runyam. Yang lucu, kelima anak ini mengelompok lagi jadi kelompok lebih kecil-kecil untuk curhat soal perasaan romantis mereka ke seseorang. Tapi kalau curhat, ada pesan-pesan: jangan bilang-bilang ke doi (orang yang ditaksir)! Hmmm... sounds familiar!

Nah, sikap Kazehaya ke Sawako makin lama makin ketauan naksirnya. Tapi dasar Sawako polos, lugu, punya temen cowok juga cuman dua.... dia nggak ngerti sikap Kazehaya selama ini tuh karena jatuh cinta. Padahal Sawako juga udah naksir berat sama Kazehaya. Tapi karena nggak PD, pas Sawako keceplosan ngomong suka, dia akan buru-buru jelasin kalau suka-nya itu sebagai teman aja. Whoaa! Kalo gini terus, kapan jadiannyaaaa?? Mana pula Sawako terbiasa mementingkan perasaan orang lain daripada perasaan sendiri, makin susah deh PR buat Kazehaya :).




Meski film ini bikin gue nunggu-nunggu kapan dan gimana Sawako - Kazehaya jadian, sebenernya film ini lebih dominan cerita tentang persahabatan daripada romance-nya. Ini menurut gue lho. Bahkan di otak gue, premise film ini adalah kalau kamu punya masalah, sahabat sejatilah yang akan membantumu (selain ortu). Tapi karena romance di film ini digarap manis, kuat, dan bikin penasaran, jadinya romance-nya mudah diingat dan diresapi. Halaaaaah.

Dari manga

Konflik di film From Me to You bejibun. Ada konflik Sawako dan Kazehaya, Sawako-Chizuru-Ayane, Sawako dan Kirumi, Ryu dan gadis yang ditaksirnya, Chizuru dan cowok yang ditaksirnya, Ayane dan pacarnya yang mahasiswa, dll. Karakter yang terlibat juga banyak. Selain lima orang itu, ada ortu Sawako, Pin si guru tengil, Kirumi, cewek-cewek penggosip, dll. Untung semuanya nggak bikin bingung penonton. Porsi lebih banyak di dinamika persahabatan Sawako-Chizuru-Ayane dan tentu saja kisah hati Sawako-Kazehaya.

Banyaknya konflik ternyata karena film ini adaptasi dari serial Manga, komik Jepang, karya Karuo Shiina, berjudul Kimi ni Todoke. Manga-nya terbit sejak 2005 dan sampai terakhir gue akses halamannya di wiki (2 Januari 2012 jam 22.51), udah ada 14 volume... and keep going.

Gue belum baca manga-nya. Tapi dari wiki, gue bayangin komiknya pasti seru banget. Kalo ada waktu dan ada yang minjemin, mau deh gue baca semuanya! :)

Suksesnya manga ini membuat Kimi no Todoke diadaptasi jadi serial novel pendek. Penulis novelnya beda, bukan si mangaka (pembuat manga). Selain itu juga dibikin anime-nya. Ada film live action-nya (film yang pemainnya orang beneran, bukan animasi) yang gue tulis di atas. Bahkan ada game Nintendo-nya segala. Kalo sistem royaltinya canggih, Karuo Shiina udah kaya raya nih.

Gue membandingkan manga dan adaptasi live actionya. Sila baca di tulisan berikutnya. Kalo tulisan ini kepanjangan, pening juga bacanya nggak?