Monday, December 23, 2013

Akademi Berbagi, LLD dan Cari Dana

Akademi Berbagi mau bikin Local Leaders Day lagi. Nanti, di bulan Maret 2014. Buat para relawan Akber (kependekan dari Akademi Berbagi), program LLD ini masuk daftar wajib ikut serta.

Program LLD ini mungkin semacam workshop kepemimpinan untuk para relawan Akber. Kenapa gue pakai kata "mungkin", karena gue belum pernah ikut. Gue belum ngeh ada Akber waktu ada LLD pertama, dua tahun lalu.

Program LLD 2014 rencananya berlangsung 3 hari. Antara lain diisi dengan sharing ilmu dari orang-orang yang udah ngelotok di bidangnya, antara lain Handry Satriago (CEO GE Indonesia) yang juga guru favoritnya para relawan Akber, serta Roby Muhammad (sosiolog).

Selain guru-guru hebat, ada sejumlah alasan lain kenapa LLD masuk daftar wajib ikut serta buat para relawan Akber:
  • Ini program nasional, artinya para relawan akber seluruh Indonesia akan berkumpul. Bagus buat jaringan dan membuka wawasan.  
  • Kegiatan ini terselenggara 2 tahun sekali, yang artinya kalau nggak ikut tahun 2014, mesti nunggu 2016 biar bisa ikut lagi. Nggak sabar deh nunggunya! :) 
  • Ke dalam organisasi, ini penyegaran buat relawan. Adalah manusiawi kalau para relawan lama-lama bosen bikin kelas reguler. Di LLD ini, para relawan-lah yang dibikinin kelas. :)
  • Ke dalam organisasi juga, bisa lebih solid. Usaha untuk bisa berangkat ke LLD itu bisa jadi cerita tersendiri, apalagi kalau duit susah. Muncul kegiatan usaha, tolong menolong, saling mengingatkan dan menyemangati biar cita-cita ikut LLD kesampaian :)
Sebagai kepala sekolah Akber Bekasi, gue pengen sebanyak-banyaknya relawan aktif bisa ikut LLD 2014. Manfaatnya banyak, dan manfaat itu buat mereka juga.

Tapi LLD 2014 diadakan di Salatiga, Jawa Tengah. Untuk ke sana perlu ongkos kereta PP + bis lokal + biaya makan di perjalanan. Panitia nasional menjamin biaya transportasi untuk 1 relawan saja dari tiap kota. Kalau ada relawan lain yang mau ikut, bayar ongkos sendiri. Penginapan sih pasti ditanggung panitia pusat.

Ada 10 relawan aktif Akber Bekasi yang terdaftar ikut LLD 2014. Dari 10 orang itu, ada yang  -insyaAllah- bisa bayar tiket PP tanpa kesulitan, tapi ada juga yang kesulitan lantaran masih mahasiswa, atau masih cari kerja, atau sudah kerja tapi gaji 5 koma (tanggal 5 sudah koma). Nah, biar sama rata sama rasa, kami harus cari dana untuk tiket PP 10 orang.

Ini yang gue cinta dari Akber. Buat relawannya, Akber nggak cuman ngasih pendidikan non formal tentang:
  • Leadership (tiap relawan dapat kesempatan jadi ketua kelas, memimpin tim untuk jumpalitan merencanakan dan menyelenggarakan kelas, dari nol sampai kelas selesai). 
  • Networking (waktu cari guru, murid dan donatur ruangan... juga ketika berhubungan sama Akber Pusat dan Akber2 kota lain), 
  • Negosiasi (waktu cari lokasi kelas, serta waktu deal tanggal dan materi dengan guru), 
  • Kreativitas (terobosan biar kelas nggak bosen, kelas bermanfaat buat murid-murid, dll). 
  • Bekerja cerdas (di setiap kegiatan akber, mulai dari cari guru, murid dan donatur ruangan, lalu di"paksa" jadi MC/penulis live tweet/tuan rumah yang baik, dll. kalo nggak bekerja cerdas, bisa pusing tuh). 
Nah, ilmu leadership, networking, negosiasi, kreativitas dan bekerja cerdas itu kini dipakai dalam bentuk lain: CARI DANA! 

Gimana cara Akber Bekasi cari dana untuk ke LLD 2014? Ada sejumlah usulan dari para relawan:
  • Membuat kelas yang pakai tiket. Usul ini ditolak Mbak Ainun selaku founder Akber. Soalnya Akber itu kan semangatnya belajar gratis. Semangat berbagi. Jadi usulan kelas pakai tiket : ditolak.  
  • Kirim proposal ke perusahaan-perusahaan. Ide yang bagus, tapi tidak semua perusahaan bisa mengucurkan dana untuk kegiatan sosial bukan? 
  • Jualan : ini paling mudah dilaksanakan segera. Asalkan jelas: barangnya apa, sumber dari mana, pasarnya siapa, gimana cara menjualnya, untungnya berapa buat Akber Bekasi. 
Dari sekian usulan, yang jalan duluan adalah jualan cistik. Nggak ada kata malu untuk jualan. Apalagi demi beli tiket ke LLD 2014. Kalo baru jualan yang bisa dilakukan, ya itulah yang kita lakukan. Pokoknya "think big, start small, move fast".

Cistik yang dijual para relawan Akber adalah cistik yang biasa gue jual pas lebaran. Cistik ini bikinan tante gue. Kejunya keju edam, jadi cheesy banget. Renyah. Boleh ngutang dulu (ini penting!!). Dan para relawan memanfaatkan jaringan masing-masing dalam menjual cistik edam itu. Ada relawan yang malu karena nggak bisa jualan. Apa yang dia lakukan?? Ikut jaga stand di acara yang mejanya kita tebengin dagangan cistik :))

Semua keuntungan untuk Akber Bekasi. Alhamdulillah sejak kick off 10 Desember 2014, untung yang masuk ke kantong Akber Bekasi nembus 1juta rupiah! Semoga kebayar semua ongkos PP Bekasi - Salatiga untuk 10 relawan itu ya Allah.... AAMIIN! 


Sunday, December 22, 2013

Di 22 Desember Ini...

Hari ini, 22 Desember 2013.
Digembar-gemborkan sebagai Hari Ibu.
Di kalender gue sih cukup terlihat sebagai Hari Minggu.

Terus terang, timeline penuh tweet puja puji pada ibu mengganggu gue pagi ini. Bukan berarti gue nggak hormat sama ibu. Tapi entah kenapa, di kebanyakan tweet itu gue nggak ngerasa tersentuh. Padahal itu buat ibu kan? Nggak berasa gitu kalau itu karena sayang.

Sekali lagi, ini perasaan gue aja sebagai pembaca timeline. (dan gue ngakak pas baca tweet seseorang yang bilang alangkah baiknya kalau tweet tentang ibu ini dilakukan bukan sambil goler-goler di tempat tidur. Hihihiii... THIS is what i meant).

Nah. Topik hari ibu jadi bahan obrolan pagi gue dan nyokap kali ini. Perlu nggak sih ucapan Hari Ibu?? Nyokap menjawab dengan ketus, "NGGAK PERLU!". Tapi dia senyam senyum sambil melanjutkan... "Kalo mau dijawab serius, cepek dulu.....". Lhaaaaaaa.

Sambil becanda gue sodorin seratus ribuan yang langsung nyokap sambar. Hahahaaa. Tapi kayaknya nyokap emang pengen jawab serius. Mungkin sekalian curcol. :)

Hari Ibu, kata nyokap, nggak perlu diucapin selamat pakai kata-kata.Apalagi kalau nggak dari hati. Heart can only be touched by heart. (Naaaa, ini yang gue maksud waktu ngomongin perasaan gue tentang tweet hari ibu). Nggak ada ibu yang nggak pengen anaknya hormat, sopan dan sayang sama si ibu. Jadi kalo ada anak yang kurang ajar... beuuh... hati ibu itu jadi hati paling teriris di dunia.

Nyokap bilang, memberi apresiasi pada ibu itu penting. Soalnya ibu itu yang hamil 9 bulan lebih, terus melahirkan anak. Itu berat tauk! Tapi kan ibu nggak mikirin berat. Yang ibu pikirin itu anaknya harus sehat, cukup makanan lahir dan batin.Terus setelah lahir, emangnya bisa seorang anak tumbuh besar sendiri? Bisa sih :) Tapi ibu yang baik akan jadi guru dan teman yang baik buat anaknya, dari mulai belajar ngomong, belajar makan, belajar jalan, belajar ilmu pengetahuan, belajar gaul, dst.

Bayangkan, kalau setelah besar... anak terus kurang ajar sama ibunya. Apa nggak sedih tu hati ibu? (mmmm... gue mulai parno, pernah kurang ajar apa aja ya sama nyokap?).

Lalu nyokap nyebut-nyebut Eyang Putri. Dan mata nyokap mulai berkaca-kaca ngebayangin perasaan ibunya yang udah tua dan sakit dan sudah seperti anak kecil lagi, dan nggak bisa doi datengin sering-sering karena nyokap sendiri mesti ngurusin pengobatan dirinya sendiri plus turun tangan handle cucu. (semoga di masa senjanya nyokap nggak kesepian kayak ibunya ya *ngomong sama diri sendiri, plus kirim telepati ke kakak gue :)) *).

O ya, gue sempet BBM teman-teman gue yang sudah jadi ibu. Cuman nanya: "gimana rasanya jadi ibu di jaman sekarang?"
Ada yang jawab. "Luar biasa".
Ada yang jawab. "Biasa aja." Lho???
Ada yang jawab. "Seperti jatuh cinta setiap hari. Hehehee, lebay ya?"
Ada yang jawab. "Jadi ibu jaman sekarang harus pintar-pintar dan jangan lemah." Like this! :)

Kalau ditanya tentang peran ibu, rata-rata jawabannya kurang lebih serupa. Intinya: nyiapin anak biar bisa mandiri di masa depan. (nggak ada yang jawab nyiapin jadi anak sholeh/sholeha. hehehee. atau mungkin nggak ke-survey, begitu).

Gue lupa, mestinya nggak cuman para ibu yang gue tanya. Tapi para perempuan lain yang belum jadi ibu mestinya ditanya juga. Hari Ibu itukan peringatan pembukaan Kongres Perempuan Nasional Indonesia (1928), momen di mana para perempuan berkongress untuk membahas peran perempuan di negara ini. Emang sih kebanyakan yang kongress waktu itu ibu-ibu. Tapi kalau ngomongin Hari Ibu, jadinya kita mikir domestik seperti curcolnya nyokap gue tadi (meski itu sangat berharga juga). Sementara kalo ngomongin Hari Perempuan, gue yakin 2000 persen meski nggak punya instagram.... pasti issue-nya lebih beragam.

"Gimana rasanya jadi Perempuan di jaman sekarang?".

"Hai Perempuan, apa peranmu di masa sekarang?".

**catet untuk dibahas di lain waktu**

Monday, December 02, 2013

Belajar Bahasa Isyarat secara Instan

Oktober 2013 lalu, Akademi Berbagi Bekasi bikin kelas setengah hari dengan guru-guru para Tuli (tuna rungu) plus translatornya. Seru kelasnya. Selain kita dapat pengetahuan tentang kondisi kaum tuli di Indonesia, perbandingannya dengan kondisi di negara-negara asing, kita juga belajar Bahasa Isyarat! 

Di bawah ini film dokumenter-nya. Karya videografer cewek seksi yang otaknya agak korslet tapi integritasnya oke banget, namanya Mut-mut :)). Video-nya inspiratif. Cekidot! 


Guru-guru Tuli ini tergabung dalam The Little Hijabi. Kepseknya Mas Rully Anjar, dan kemarin ketua geng gurunya adalah Mbak Galuh Sukmara, seorang tuli bergelar Doktor dari universitas di Australia yang sudah sering jadi pembicara di forum-forum difabel Indonesia maupun Internasional, dan menguasai bahasa isyarat dari berbagai negara. Hebat yah? 

Pokoknya di kelas kemarin, terlihat betul kalau keterbatasan itu bukan halangan untuk maju, berkembang, lalu berbagi. Maluuuu kalo gue yang lengkap ini malah nggak berbuat apa-apa. 


Sunday, September 15, 2013

Kelas Inspirasi, Bangun Mimpi Anak Indonesia dan Junjung Lagi Jasa Guru

Mengajar bukan hal asing buat gue. Tapi mengajar anak kelas 2 SD baru gue rasakan di Kelas Inspirasi. Tepatnya, di Kelas Inspirasi Bekasi, 11 September 2013. Kesannya?? Mau nangis!! 

Gue yang mau nangis, bukan anak-anak kelas 2 SD itu.

Bayangkan, pas gue ngajar, anak-anak itu ada yang naik-naik kursi, meja, bahkan bergulat di depan kelas. Kalau yang bergulat dilerai, maka di pojok lain akan muncul kehebohan lain. Bisa gulat, bisa jambak-jambakan. Gue teriak, nggak mereka denger. Gue bicara pelan, mereka jadi penasaran. Aha! Dapet deh perhatian mereka. Tapi pas gue ngomong dengan nada normal lagi, hyaaaaaa... kelas jadi kayak kapal pecah lagi. 

Musnah sudah harapan untuk menceritakan profesi gue seperti yang udah gue rencanakan sebelumnya. Poster-poster film dan ftv yang gue print sobek karena anak-anak itu pengen melihat secara berebut. Boneka tangan yang gue bawa untuk simulasi membuat cerita juga kasihan nasibnya, soalnya ditarik sana sini sama anak-anak 2 SD itu, saking mereka pengen untuk bermain boneka. 

Ketika siangnya gue dapat kelas 3 SD, suasana lebih chaos lagi. Mereka sudah capek belajar, mau cepat pulang. Eeeeh, kok ada penulis skenario nongol mau cerita tentang sk-sk-kes-se-kenario. (Mereka susah nyebut skenario sekali jadi. Tau ada profesi penulis skenario aja mungkin baru hari itu). 

Pas gue dapat kelas 5 SD, hati gue nyaman tentram. Mungkin karena mereka sudah lebih "dewasa" ya. Lebih punya empati terhadap guru SD dadakan ini. Mereka lebih gampang diajak ngobrol. Lebih cepat paham situasi kerja penulis. Lebih mudah diajak bikin cerita anak-anak secara beramai-ramai. Juga lebih tertib waktu diminta bergantian memperagakan adegan cerita mereka pakai boneka tangan. 

Jadi sedikit nasehat untuk gue dan calon pengajar Kelas Inspirasi mendatang... lesson plan penting, tapi lebih penting latihan ngajarin anak-anak kecil yang bandel-bandel. :))) 

Dari chaos-nya murid kelas 2 dan 3 yang gue ajar... dan rata-rata pengajar di Kelompok 3 ini juga curhat yang serupa... gue jadi salut banget sama guru-guru SD! Gue cuman ngajar sekali itu aja. Guru-guru SD itu setiap hari. Bertahun-tahun. Hebatlah guru-guru SD itu. Selain menguasai ilmu pelajaran, mereka juga menguasai cara menguasai anak-anak (termasuk yang rusuh, hehehee). Makanya jangan remehkan guru SD. Di masa golden age anak, saat otak dan emosi anak lagi berkembang luar biasa cepat, peran mereka tiada tara dalam membentuk generasi penerus ini. 

Tugas kami sebagai guru-guru Kelas Inpirasi sangatlah remeh dibanding tugas guru-guru SD yang asli itu. Tapiiiii... bukan berarti nggak kalah penting. Guru-guru Kelas Inspirasi punya cita-cita mulia juga. Ingin mengenalkan dunia pada anak-anak SD itu. Paling tidak: tentang dunia kerja, dunia profesi, dunia nyata. Dan penjelasannya datang langsung dari praktisinya. Mau jadi apa mereka nanti, biar waktu yang menjawab. Yang jelas, dengan memberi eksposure pada anak-anak SD tentang profesi kami sendiri, kami ingin menginspirasi anak-anak itu supaya punya cita-cita tinggi, dan terdorong untuk mencapainya.

Soal anak-anak SD yang bandel itu... gue maklumin aja. Mereka bandelnya masih bandel anak-anak kok. Nggak kriminil. Mungkin mereka pengen sedikit "carmuk" aja di depan guru Kelas Inspirasi :)). Tapi begitu dapat perhatian mereka, dan mereka merasa mendapat manfaat dari kehadiran kita.... wuuuuiiiiiiihhhh..... ucapan terima kasih mereka kedengarannya merdu sekali :). Dan mendengar itu nikmatnya luar biasa. Apalagi kalau mereka lalu terinspirasi: "saya mau jadi penulis!" atau "saya mau jadi..... (sesuai apa yang baru diajarkan). Mungkin begitu juga ya yang dirasakan guru-guru yang mengajar dengan penuh dedikasi.  

O ya, kembali ke soal guru-guru SD yang asli. Yang bikin gue terkesan sama guru-guru itu adalah... mereka sangat ramah, dan sangat tau kalau kami para guru Kelas Inspirasi akan kelabakan menghadapi murid-murid kelas kecil (kelas 1 sd 3 SD). Jadi meski sebelumnya kami bilang ke guru-guru itu bahwa kami akan mengatasi semua murid, tapi mereka tetap stand by di luar kelas. Ternyata nggak percuma. Ada guru di kelompok 3 ini yang saking udah hopeless-nya ngajar di kelas 2, sampai menoleh ke luar kelas, ke wali kelas yang jaga-jaga di luar. Lalu dengan cepat, masuklah bu wali kelas... dan berangsur kelas itu bisa ditenangkan. Hidup guru SD!! 

Tuesday, September 03, 2013

Ulasan Tulisan Mandeg by Winda Krisnadefa

Tulisan mandeg? Horor tuh buat penulis. 

Nah. Di bawah ini adalah rangkaian tweet penulis novel Macaroon Love plus penggagas @Kampung Fiksi, Winda Krisnadefa (@windakrisnadefa) tentang Tulisan Mandeg. Baik penyebab maupun tips mengatasinya, komplit doi beberkan. Terima kasih Mbak Winda! O iya, semua di-tweet tgl 12 Agustus 2013.

- Adakah yg skrg naskahnya lg stuck/mandeg krn berbagai alasan? #tulisanmandeg @KampungFiksi

- Mau maksa nulis adegan klimaks tp ragu2, takut jadinya...ya maksa. #tulisanmandeg @KampungFiksi

- Giliran nulis aja tanpa arah, jadinya malah melebar kemana2. #tulisanmandeg @KampungFiksi

- Akhirnya berhenti nulis. Mood langsung menguap entah kemana :') #tulisanmandeg @KampungFiksi

Tau gk, penyebab #tulisanmandeg biasanya krn konsep ceritamu lemah. :) @KampungFiksi

Tau gk, penyebab #tulisanmandeg biasanya krn konsep ceritamu lemah. :) @KampungFiksi

Bs jd kamu nulis berangkat "hanya" dr ide dasar, gk bikin draft sama sekali. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Boro2 bikin draft, endingnya aja kamu msh blm tau mau gimana. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Byk yg ngira cara menulis ky gitu adlh "gaya menulis" seseorang, pdhl itu sbnrnya bkn gaya menulis #tulisanmandeg @KampungFiksi

Menurutmu emg gitu "gaya menulis" kamu, tulis aja dulu, ntar endingnya jg ketemu sendiri. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Gk semua org seberuntung itu lho! Apalagi kalau udh sering stuck, berarti ada yg salah :D #tulisanmandeg @KampungFiksi

So kalo kata saya sih itu bukan "gaya menulis" melainkan "salah kaprah" krn nganggap enteng. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Gimana spy gk keterusan begitu terus? Gemes kan ngeliat naskah setengah jadi kamu numpuk? #tulisanmandeg @KampungFiksi

Sblm mulai menulis, kamu harus sdh memegang sebuah premis. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Premis ini adlh bentuk paling dasar dr ide cerita yg akan kamu tulis. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Kamu hrs punya tokoh, konflik, solusi dan ending. Itu yg disebut sbg premis. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Premis inilah yg akan menjadi panduan dasar kamu mengarahkan ceritamu. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Bahkan tdk semua penulis terkenal "berani" hanya berpegang pd premis lho... #tulisanmandeg @KampungFiksi

Penulis Leila S Chudori prnh ngasih liat peserta writing clinic Femina buku coret2an draft novelnya. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Jd jgn males nge-draft dan jgn anggap enteng proses menulis naskahmu. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Kalo penulisnya ngegampangin proses nulis naskahnya, pembaca jg mungkin akan anggap enteng kan? :) #tulisanmandeg @KampungFiksi

Cara plg mudah u/ meneruskan #tulisanmandeg kamu adlh menulis dgn ending yg sdh jelas. @KampungFiksi

Ending inilah yg akan mengantarmu menuju akhir cerita. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Berikut ada bbrp adegan umum yg bs mengantar tokohmu menuju ending. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Bentuknya tdk hrs spt ini, tp setidaknya ini bentuk yg byk dipakai #tulisanmandeg @KampungFiksi

Buatlah point 1-12. Point 1: adegan pembuka. Point 12: adegan penutup. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Point antara 1 dan 12 adlh rangkaian adegan yg bersambung dr awal sampai akhir. #tulisanmandeg @KampungFiksi

Cara ini akan membantumu menemukan apa selanjutnya yg mungkin terjadi dlm ceritamu. #tulisanmandeg @KampungFiksi

ini contohnya. Point 1: tokohmu dlm keseharian (perkenalan tokoh) #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 2: tokohmu mengalami sebuah gejolak akibat pengaruh dr luar. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 3: tokohmu meminta pendapat ttg gejolak tsb dgn tokoh2 lain dlm cerita. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 4: tokohmu dipertemukan dgn bbrp pilihan. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 5: tokohmu membuat gebrakan yg tdk terduga. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 6: tokohmu mengalami masalah atau mndpt tantangan krn perbuatannya. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 7: tokohmu menghadapi tantangan yg makin besar (menuju klimaks). #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 8: tokohmu terpuruk (menuju solusi). #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 9: tokohmu berusaha bangkit kembali. #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 10: tokohmu mulai mendapatkan penyelesaian (menuju ending). #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 11: tokohmu dikonfrontasi dgn tokoh antagonis (klimaks). #tulisanmandeg @KampungFiksi

point 12: tokohmu berhasil/gagal mencapai tujuannya (ending). #tulisanmandeg @KampungFiksi

kira2 begitu, keliatannya teoritis sekali, tapi membantu u/ yg #tulisanmandeg :) @KampungFiksi

lagian, biar teori sekeren apa, kalau gk nulis2 ya wasalam, tetep aja tuh #tulisanmandeg hahaha @KampungFiksi selamat menulis!


Saturday, August 31, 2013

A Genuine Hope

Rabu kemaren gue diundang seorang produser yang mau bikin film based on true story. 

Awalnya ketika mas prod itu cerita tentang kontennya, gue merasa keberatan dengan apa yang dia tekankan. Kekerasan. Tapi daripada langsung mundur, gue coba simak dulu sampe dapat gambaran lebih besar.

Ternyata pas ketemu narasumbernya dan dengerin cerita dia, terlihatlah hal-hal lain yang sangat menarik. Dengerin cerita dia bikin gue nangis, ketawa, dan berpikir bahwa hidup ini emang full of surprises.

Semoga kita bisa wujudkan project ini jadi keren banget ya, Bro!

-Pic from Fourthsquare

Thursday, August 15, 2013

Hidup adalah Revisi Melulu

Apa sih 'horor' bagi penulis (naskah)?

1. Writer's Block
2. Revisi

Gw mau bahas yang kedua. Revisi.

Revisi adalah perubahan naskah dari draft sebelumnya. Efeknya adalah naskah yang lebih kuat, cocok, juga bagus.

Buat gue, revisi terbagi jadi:

A. Revisi Minor: yg diubah sedikit. Misal: typo, kesalahan penulisan setting, salah dialog, salah ngasih reaksi. Bisa juga penambahan scene untuk memperkuat cerita, atau penghapusan scene untuk scene basa basi.
Revisi minor ini enteng ngerjainnya.

B. Revisi-nya banyak
Misal:
- Karena mengganti/menghilangkan/menambah sejumlah Tokoh Utama: misal2: seorang cerita gadis bedinda kerja di rumah majikan kaya yang ditinggali DUA bujangan keren, terus direvisi agar bujangannya jadi SATU saja.
- Karena mengubah situasi kondisi tokoh utama: misal2: anak patuh diubah jadi anak durhaka, sekolah anak berprestasi semua diubah jadi sekolah anak bermasalah semua.
- Karena mengubah setting : misal2: setting kota diubah jadi setting desa, setting papua diubah jadi setting wonogiri, kehidupan di sekolah orang kaya jadi kehidupan sekolah bobrok. 
- Karena mengubah periode dalam cerita : misal2: cerita jaman teknologi komunikasi sudah begitu canggih, eh diubah periodenya ke jaman telegram.

Revisi Banyak ini merepotkan. Soalnya menipu. Kesannya cuma hilang A, tapi efeknya bisa mengubah 50persen (bahkan lebih) cerita. Contohnya begini: Asih kerja di rumah majikan berisi 2 bujangan keren bisa memunculkan konflik cinta segitiga, tapi kalau di rumah itu cuma ada 1 bujangan keren ya bukan konflik cinta segitiga dooong? (Apa? Cinta segitiga masih ada karena ada sekretaris cantik? Heeeee, yang diomongin kan karakter-karakter di rumah itu, bukan yang di luar) .

Yang paling menyakitkan hati adalah revisi yang membelokkan cerita. Cerita bisa belok di segmen berapa pun. Makin awal cerita berbelok, makin banyak perubahan ceritanya, bahkan  cerita bisa di-ROMBAK TOTAL! (Ini asli super horor buat penulis :p) 

Karena merepotkan, Revisi Banyak ini sering bikin bete duluan. Padahal pas ngerjain revisi sih lanjut terus dan terus.

Para penulis sering mengibaratkan Revisi Banyak ini dengan "bongkar baju" atau "renovasi sebagian rumah". Banyak kan yang bilang "daripada betulin ukuran baju jadi mending jahit dari awal"? Kalau di penulisan naskah, "daripada rombak mendingan bikin cerita dalam awal". Berat euy Revisi Banyak, tapi mau nggak mau ya harus dijalanin. 

Dan hari ini...
Gue baru terpikir...
Kalau jalan hidup manusia...
Isinya Revisi Melulu...
Baik revisi minor
Atau mayor

Pernah berencana jangka panjang tapi mendadak di tengah jalan harus berubah haluan?
Itu adalah revisi.

Menikah, kelahiran, kematian, muncul dan hilangnya kesempatan....
Itu mengandung revisi.

Revisi hidup sama kayak revisi naskah dalam level yang berbeda. Mau revisi minor kek, mau revisi banyak kek, dia jadi beban kalau dianggap beban. Tapi kalau dikerjakan terus dan dibawa asik, akhirnya selesai juga dan hasilnya ketemu apa yang kita mau. Seperti naskah yang biarpun cerita dibelokkan di mana pun akan menemukan alurnya lagi, hidup juga begitu. Mau belok di mana nih hidup? Di situ akan muncul cerita baru. Ending-nya gimana? Bisa sesuai rencana, tapi bisa juga ending baru tak disangka yang bikin kita tercengang begitu sampai di sana.

Jadi jangan patah semangat me-revisi melulu!

Fighting!

=====

NB: mungkin agak gak nyambung, tapi gue jadi inget sharing seorang ustad. Dia lempar pertanyaan, "takdir manusa bisa diubah ga?"
Jawabnya bisa. Caranya minta ke Allah. Allah kan yang bikin takdir, jadi ngubah takdir juga bisa doooong?

Thursday, June 27, 2013

Foto Favorit Bulan Ini


Keponakan gw, Gifa (7th), lagi cerita ke Puti tentang tes akhirnya di sekolah. Saat itu Puti lagi nginep di rumahnya, khusus nemenin belajar untuk persiapan tes akhir.  

Menyenangkan ya, ketika banyak hal bisa diceritain ke orang tersayang.... :)

(Foto pake BB Torch1)

Mengatasi "Penyakit" Susah Konsentrasi dan Bosanan

--diambil dari kompas.com, link-nya ilang (mungkin yg paling bawah itu link-nya)--.

Kamis, 4 Oktober 2012 | 19:45 WIB

Ketika Anda sedang merasa bosan, maka yang terjadi adalah Anda akan susah untuk berkonsentrasi.

T:
Bu Ainy, bagaimana mengatasi "penyakit" susah konsentrasi dan rasa bosan? Dua rasa ini selalu mengganggu aktivitas saya sehari-hari, dan menyebabkan saya menjadi malas. Terima kasih, Bu Ainy, (Ukie Safitry, 20)

J:
Mbak Ukie yang budiman, Memang, susah konsentrasi dan rasa bosan adalah dua kondisi yang
sangat merugikan diri kita. Dua kondisi ini sebenarnya saling berhubungan. Masing-masing bisa menjadi penyebabnya. Artinya, ketika Anda sedang merasa bosan, maka yang terjadi adalah Anda akan susah untuk berkonsentrasi. Demikian halnya jika Anda susah konsentrasi.

Ketika Anda merasa susah untuk berkonsentrasi, maka dengan sendirinya Anda akan mudah merasa bosan.

Lantas apa yang perlu Anda lakukan agar menjadi mudah konsentrasi dan jauh dari rasa bosan? 

PERTAMA - Kenali penyebabnya. 

Ada dua kemungkinan penyebab gangguan tersebut.

Pertama, kemungkinan Anda memikirkan hal lain daripada memikirkan pekerjaan Anda saat itu. 
Kedua, Anda merasa tidak senang dengan apa yang Anda lakukan saat itu. Rasa tidak senang Anda pada suatu pekerjaan akan membuat Anda jengkel atau terpaksa saat melakukannya. Alhasil, fokus Anda terganggu, dan rasa bosan pun menumbuh.

Artinya, mengingat kembali apa sajakah yang Anda lakukan saat melakukan pekerjaan tersebut? Benarkah Anda saat itu benar-benar memikirkan pekerjaan yang saat itu Anda lakukan, atau justru
memikirkan hal atau masalah lain? Jika jawabannya adalah Anda telah memikirkan hal-hal lain daripada memikirkan pekerjaan Anda saat itu, maka inilah penyebabnya.

KEDUA - Lakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati. 

Melakukan pekerjaan apa pun dengan sepenuh hati akan membuat diri Anda merasa bahagia luar
biasa. Anda tahu mengapa? Karena ketika Anda melakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati, Anda akan merasa senang karenanya. Berita baiknya, Anda akan semakin mudah konsentrasi.

KETIGA - Bayangkan manfaat pekerjaan yang Anda lakukan, baik manfaat buat Anda maupun orang lain. 

Bayangkan senyum bahagia mereka yang menerima manfaat dari apa yang Anda lakukan. Lalu ucapkan puji syukur Alhamdulillah, karena Anda bisa melakukannya. Lakukan ini berkali-kali tanpa henti.

Rahasia untuk konsentrasi dan hidup penuh semangat tanpa ada rasa bosan adalah MEMASTIKAN SETIAP APA YANG KITA LAKUKAN MEMBERI MANFAAT KEPADA ORANG BANYAK. Memastikan kita MELAKUKANNYA DENGAN TULUS IKHLAS, sepenuh hati. Memastikan kita terus melakukannya tanpa pamrih.

Selamat melangkah dan menjadi pribadi yang fokus dan penuh semangat!

Ainy Fauziyah, CPC
Leadership Motivator & Coach
Penulis buku best seller "Dahsyatnya Kemauan"
http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/03/1056472/twitter.com

Tuesday, May 21, 2013

Foto Favorit Bulan Ini


Beberapa hari lalu, keponakan bungsu gw, Sophie (2,5thn) mesti opname di RS. Gara-garanya dia pecicilan, trus... BUK! kepleset, jatuh, dan bibirnya kena ujung kursi besi sampai sobek. Alhasil, bibir Sophie harus dijahit. Operasi kecil deh.

Gambar ini diambil beberapa menit sebelum operasi. Eyang Putri-nya Sophie (alias nyokap gw) ceritanya mau menghibur dia. Tp malah dia yang menghibur Eyang Puti dengan mengoceh tentang Kisah 3 Babi Kecil.

Akrab banget ya, cucu sama Puti-nya... :)

Sunday, April 21, 2013

How You See Yourself

Gue baru liat iklan Dove, dan gue sangat suka dengan kedalaman pesannya.
Juga story-tellingnya.
Dan gue percaya, elo yang nonton iklan ini nemuin insight juga di sini....
Selamat merenung.




Tuesday, April 16, 2013

Your Hero: Top Ten Rules (Expanded) – Character Roles

http://thescriptlab.com/screenwriting/character/character-roles/959-your-hero-top-ten-rules-expanded

The most important character in your screenplay is your protagonist: your hero. Without her, there is no story. But when creating that unforgettable protagonist, you must know the entire iceberg, so follow these Ten Key Rules (now with expanded explanations), and you'll sculpt a hero that breaks the mold.

1. You must create an interesting protagonist, one that your audience will want to watch, hope, and fear for.
Heroes We Hope and Fear For
When creating your hero, audience connection is key. Your hero needs to be an interesting somebody who wants something badly and is having trouble getting it, AND also a somebody that the audience cares about – somebody they hope will obtain the main objective but fear the goal will be thwarted – by external forces or by the hero him/herself.

2. We don't have to feel sympathetic toward him/her (although it is a great help), but we must at the very least feelempathy.
Sympathy vs. Empathy
Creating a hero that we feel sympathetic toward is a HUGE help. It's almost impossible not to care if we feel sorry for someone else's misfortune, not to mention that sympathy often equates to likability – and a likeable hero is easy to hope and pray for. However, sympathy is not the essential ingredient. Empathy is the key. Not every hero is likeable or should be; there are many heroes (or antiheroes) that we dislike, but we stay with them because we're able to understand why they do as they do. In the film Monster (2003), for example, Aileen Wuornos (Charlize Theron) is a serial killer. Clearly, we should not like what she does nor condone her cold-blooded killings, but because we can empathize with the realities of her cruel childhood plagued by profound abuse, we hope she will be able to survive none the less.

3. We love to see characters acting bravely, so it is not only what the character is trying to accomplish that makes us cheer for him or her, but it's the lengths he/she is willing to go to get it. Make sure the lengths are far. We want a journey.
Acting Bravely
We fear protagonists will succumb to their weaknesses, but we hope that they will act bravely under extraordinary circumstances. There are few things more enjoyable for the audience than to see the ordinary protagonist thrust into an extraordinary situation and overcome insurmountable odds by simply just being brave.

4. Know your main character. His/her dreams, wants, and desires must be there on page one. Ask how we identify with, relate to, or are fascinated with him/her.
Know the Dream/Goal
This is more than just knowing the hero's main objective –that is, the pursuit of what your protagonist is trying to accomplish that gives shape to plotting the main story of the film. You must know every dream, want, and desire. Take, for example, an action film in which your hero is on a life and death pursuit to rescue his abducted daughter, the main objective is obvious, but what about all the other goals: does he regret the past and promise to be a better father, does he secretly wish for acceptance, or is it something more tangible, like the desire to take his daughter to a Yankee game for the first time? The more you understand what your hero wants – both internal and external – the easier it will be for your audience to champion his causes.

5. A central character cannot exist without conflict.Make sure you have enough obstacles (internal and external) that your character must face.
Conflict Is Bliss
Right when the audience thinks it can't get worse for your character(s), it gets worse; and when there is absolutely no way the situation can get more severe, it does; and finally, when there is no possibility things can deteriorate even more, it rains. It always rains. But the bestconflict occurs because of a character's own flaws: hubris, doubt, narcissism, jealousy, overconfidence, etc. because it is with the character's own flaw(s) that will get him or her into even more trouble, and self-induced trouble is a recipe for success.

6. Your main character must have a weakness (hopefully many). They are often oblivious of these weaknesses, or in denial, or constantly trying to hide from themselves.
Creating Weaknesses
Just as the best villains are the ones who are layered and complex – bad guys in whom the audience can empathize with – the same rule applies to your hero. When your hero is truly "good" in all situations, he is set and stony and not very interesting. We have no reason to fear for him because we know he will always do the right thing. However, if you establish early on that your hero has weaknesses (hopefully many) and is even oblivious of these weaknesses, or in denial, or constantly trying to hide them, then it's easy for your audience to fear.

7. Attack your main character at his/her weakest spot, and he/she will show things about him/herself that he/she doesn't want to reveal.
Attack! Go For the Jugular
And when you do this, really go for it. Hit your hero at his or her weakest spots, because when you corner your characters, and I mean really squeeze them, they will reveal things about themselves that you never even knew existed. And when characters are forced to reveal things they are unwilling to share – deep secrets and psychological scars – conflict is abundant, rich with emotion, and those are the scenes we want to see.

8. Your main character should not be aware of the full dimensions of thetheme atthe beginning of the story, but he/she will learn.
Character Awareness
Every action has a reaction, and nothing is as easy as it seems. The reality is that situations are complicated, especially what's beneath the surface, and even though it is obvious that your hero must be aware of the main objective, it is usually a mistake if your hero is aware of the full dimensions of the theme at the beginning of the story. It's okay for your audience to see the big picture (or not); sometimes you want your audience to discover along with your hero. But regardless of the creative decisions you make as to what the audience knows and when, it is important that your hero learns along the way. The theme – and its implications – should be revealed on your hero's journey.

9. Think of your main character unfavorably. This will make them believable and more human.
Thinking Unfavorably
This can take some practice, especially if you really love your character, but try to think of your protagonist unfavorably. The application of this approach will make them very real – because we all know that real people are incredibly flawed and do some pretty ugly things. To put it another way, when you like someone, it's often quite hard to look at their actions without a bias in their favor, and that lack of truthful insight can create an unattainable illusion, but if you erase that positive bias, you will immediately make your protagonist very human and more believable.

10. Change. Make sure your characters learn as they go. How does he change? What does she learn? How is he/she becoming someone different?
Character Arc: Growth vs. Change
By the end of his or her journey, your hero should be different because of the experience. If you don't show the possibility of moral transformation or an increase in wisdom in your protagonist(s), there really is no point in writing the screenplay at all, because one of the most fundamental human principles is that human beings do have the capacity to change. This is the character arc. But is there a difference between growth and change? I say yes; it's not just semantics. Knowledge is growth, but acting upon that knowledge is change. You need at least one.

Wednesday, April 10, 2013

Ngeblog via Email

Kebutuhan dan keinginan mendorong seseorang untuk bertindak dan belajar....

Gak usah jauh-jauh. Gw ingin ngeblog via email. Biar lebih praktis. Jadi tengah malam ini gw langsung buka mbah Google dan taraaaaaaa banyak blog yang mengajarkan itu.

Caranya gampang. Tinggal masuk ke DASHBOARD, klik SETTINGS, lalu klik MOBILE AND EMAIL, trus isi alamat email dengan format: namablog.*****@blogger.com. Bintang-bintang itu isi sendiri, jadi deh sebuah alamat email. Nanti kalau mau mengisi blog via email, tinggal kirim surat ke alamat tersebut. Otomatis judul emailnya akan jadi judul posting, dan isi emailnya jadi isi posting.

Dan ini adalah percobaannya. Contoh gambar yang gw upload di sini adalah bagan karakter salah satu mini seri gw bersama scriptwriter Raha Kurnia.

Next, gw mau bikin tabulasi di blog gw ini. Dulu pernah donlot video tutorialnya, tp sebelum gw tonton, laptop gw matot alias mati total. Hard disknya kebakar. Hilang deh itu video tutorial.

Setelah itu, gw ingin bisa nulis lagu yang liriknya "ini lagu gueeeee" kalo kata pemirsanya.

Setelah itu, gw ingin jago Caustic 2.

Setelah itu... *ugh, makin sadar kalo makin tuwir makin banyak keinginan*

Wednesday, March 27, 2013

Dorama Rasa Korea

Lama nggak nonton dorama Jepang, akhirnya gue mantengin "Rich Man, Poor Woman", dalam tiga hari tamat 11 episode.

Jujur, awalnya waktu baca judul yang berbahasa Inggris, gue pikir ini serial Korea. Serial Jepang kan biasanya tetap dipampang pake bahasa Jepang, meski ditulis pake huruf latin.

Buat yang pengen tau gimana kerja di perusahaan IT yang funky, di sini ada gambarannya. Yang pengen tau serunya dunia pembuat program / aplikasi komputer, di sini ada gambarannya.

Tapi buat gue, daya tarik pertama dorama bergenre komedi romantis ini adalah judulnya. "Rich Man, Poor Woman" menyiratkan Cinderella Story. Cewek miskin ketemu cowok kaya, akhirnya si cowok kaya jatuh cinta. Ini formula konflik yang sangat digemari penonton (terutama cewek) yang senang bermimpi. :)) Gue pikir seru nih buat dipelajarin. Sekalian juga pengen mimpi aaaaaaaah.

And you know what.... Oguri Shun si tokoh utama di sini bener-bener jadi cowok impian. Muda, sukses, jenius, ganteng, ambisius, drop out sekolah tapi berhasil membangun perusahaan IT yang maju, cewek-cewek di kantor dan di mana aja terpesona liat dia, tapiiiii... dia cuek sama cewek. Hahahaaa. Tipikal karakter di drama Korea.

Sedangkan ceweknya, si Ishihara Satomi, adalah cewek miskin, lulusan Universitas Tokyo, yang struggling cari kerja, termasuk ke perusahaannya Oguri Shun. Langsung kebayang kan, love-line alias jalinan kisah cintanya gimana? :)

Dengan dua karakter itu aja, gue langsung inget sama drama-drama Korea dengan tipe karakter mirip. Misal, Protect The Boss (di mana Choi Kang Hee si cewek miskin nyaris ditolak masuk di perusahaannya Jisung si cowok kaya), atau Wild Romance (Lee Si-Young si cewek miskin berantem sama Lee Dong Wook si atlet kaya tapi akhirnya jadi bodyguardnya ), atau King of Dramas (di mana Jung Ryu-Won si cewek miskin yang struggling jadi penulis drama, harus berjuang bikin naskah yang bagus sekaligus menundukkan kerasnya hati Kim Kyung Min si produser bertangan dingin tapi berhati beku).

Wuuuih, dorama rasa Korea! 

Alur cerita Rich Man Poor Woman ternyata cepet bo. Gue pikir di episode 1 akan lambat kayak dorama-dorama yang pernah gue tonton. Ternyata ngebut, scene-nya pendek-pendek, penuh kejadian, sambung menyambung, banyak karakter yang diperkenalkan dan dibangun, tapi semuanya tetep kembalinya ke dua karakter utama tadi... Oguri Shun sama Ishihara. Cepatnya alur episode 1 ini mengingatkan gue sama serial Korea yang rata-rata ngebut di episode perdana.

Yang juga mengingatkan gue sama serial Korea adalah set-nya. Mewah buanget! Sedan sport si Oguri Shun itu gonta ganti. Set kantornya kayak lounge hotel bintang lima, tapi seru kayak cafe. Hi-tech dengan giant screen di mana-mana. Tentu saja kos-an si cewek sederhana banget. Tapi mewahnya set si Oguri bener-bener nggak gue sangka. Emangnya ada sponsor yah? Gue pikir cuman serial Korea yang bisa bermewah-mewah dengan banyaknya iklan hardsale (product placement).

Dan sori kalo loncat ke episode final... bocoran dikit... ada segmen yang sangaaaaaaat Korea (kecampur Hollywood). Kalo mau tau apa yang gue maksud, tonton lah sendiri. Hueheheheee.

Trus apa yang rasa Jepang di dorama ini? 

Ini menurut gue lho ya.... Meski konfliknya besar (bisnis dan jati diri plus nyari ibu), tapi ceritanya nggak mendayu-dayu atau dilebay-lebayin kayak di serial Korea. Di dorama ini gue nggak nemuin karakter yang jahat-nya tuh jahaaaaaaaaattt sampe pengen gue gampar. Persaingan cinta nggak pake potong-potongan jalan, tapi dihadapi dengan wajar (dan menurut gue ini lebih riil).

Si cewek, alias Ishihara, digambarkan clumsy. Tapi ekspresi, suara dan tingkah lakunya sangat lemah lembut dan takut-takut, nggak kayak cewek-cewek clumsy serial Korea yang digambarkan pencilakan. Entah kenapa, gue selalu berpikir kalau komediknya Korea itu salah satu andalannya adalah cewek pencilakan. Sementara karakter cewek di dorama Jepang nggak pencilakan. (meski menurut gue karakter duodol dan pencilakan paling top dan jadi benchmark adalah Aiko Sato di Itazura na Kiss, dorama tahun 1996).

Overall, dorama ini bagus. Ringan. Seger di mata, seger di hati terutama hati pemimpi. Hahahaaa.

Dorama ini nyeritain bahwa meski lo sekolah tinggi-tinggi, nggak jaminan gampang cari kerja! Orang drop out bisa sukses kok. Dan orang drop out yang sukses bisa menghina-hina lulusan universitas sebagai contoh hasil pendidikan yang gagal. Nah lho!!

Si Oguri Shun boleh aja maki-maki anak buahnya yang dia nilai nggak becus. Tapi dia konsekuen, dia bikin konsep sendiri, dia bikin program, dia lembur 2 hari 2 malem. Sampe akhirnya program siap dan hasilnya jauh lebih mengesankan daripada bikinan anak-anak buahnya itu. Si Ishihara yang dihina-hina Oguri juga nggak kalah sinting. Dokumen setebel-tebel bantal dia lalap semalaman supaya dapet pengetahuan untuk ngobrol sama seorang penanam modal. Strategi Oguri agar penanam modal yang susah didekati akhirnya mau invest pun diperlihatkan. Artinya, di film ini digambarkan kalau sukses itu kuncinya kerja keras dan kerja cerdas. Keren!

Matsumoto Jun di balik layar

Surprise juga gue baca nama Matsumoto Jun sebagai produser. Gue kira cowok imut itu artis doang, plus penyanyi sama boyband-nya, Arashi. Emang sih dia artis top banget. Tapi dengan tampang imutnya, nggak ngira aja dia juga bisa jadi produser. Hahahahaa, sori Jun-chan.

MatsuJun dan Oguri Shun itu pernah kerjasama sebagai pemain. Tahun 2002 mereka main bareng di Gokusen. Trus tahun 2005, mereka jadi anggota F4 di Hana Yori Dango (pendahulunya Boys Before Flowers). Sempat juga ada judul Wagaya no Rekishi, tapi Oguri hanya jadi bintang tamu. Di semuanya itu MatsuJun yang jadi peran utama.

Oguri Shun sendiri terakhir gue liat di Detective Conan Live Action. Dia nggak mengesankan di situ. Kalo di Rich Man Poor Woman sih okesip banget. :))

--O--

Credit foto

Friday, March 08, 2013

Nggak Mau Kehilangan Momen

"Nggak mau kehilangan momen," adalah alasan Mama kalo tetap ngurusin Eyang Putri meski Mama udah kecapekan.

Usia Mama 59 tahun. Eyang Putri 78 tahun. Mama sudah pensiun, tapi masih ngajar Bahasa Inggris 2 kelas seminggu biar nggak tumpul, plus les ngaji 2 kali seminggu, plus bolak balik ke rumah kakak untuk nginep dan main sama 3 cucu yang lagi lucu-lucunya. Eyang Putri? Udah hampir 5 bergantung 95% pada orang lain (baca: suster yang dikontrak untuk mendampinginya hampir 24/7). Eyang Putri tinggal di rumah Om, salah satu adik Mama. Sehari-harinya... sama Suster. (Makasih Om dan Tante yang ketempatan Eyang. Semoga besarnya pengorbanan merawat ortu renta di rumah memperbesar rizki).

Balik lagi ke Mama....

Mama selalu kepikiran Eyang Putri. Eyang Putri ditinggal-tinggal Suster nggak ya? (secara udah pasrah tiduran mulu). Sering diajak ngobrol nggak? (secara Eyang Putri udah diem melulu). Apakah formulir kontrol yang Mama bikin (nyontek dari RS) terisi bener ato asal-asalan? Siapa aja yang sering jenguk Eyang? (pertanyaan terakhir selalu jadi misteri, bukan misteri siapa yang jenguk, melainkan misteri siapa yang mau menyempatkan waktunya untuk jenguk).

Karena selalu kepikiran, maka Mama selalu bela-belain nengok Eyang. Pagi nengok, malem nengok. Kadang pagi nengok, siang tetep di situ, sore masih di situ, malem baru pulang. Ayah sampe sebel karena merasa dicuekin. Hihihiiii.Sementara Mama merasa udah minta ijin.

Kalo waktunya Eyang Putri cek up ke RS, Mama akan pusing. Mama sibuk ngatur hari dan jam berapa Eyang Putri ke RS, siapa anggota keluarga yang akan nemenin (jangan cuman sama suster),  ngatur catatan, uang yang akan keluar, juga urusan pendaftaran pasien di hari H. Biasanya sih end up-nya yang nganter Mama sendiri (sama Ayah), gue, atau ada lagi salah satu adik Mama yang rumahnya dekat rumah kami. Orang lainnya paling supirnya Om atau suster.  

Suster juga ngasih PR. Kalo dia minta cuti, pasti Mama cari infal, briefing infal, juga ngawasin kerjaannya. Maklum, Eyang Putri itu beberapa kali sehari harus dipindah ke kursi roda. Dengan kondisi badan serba kaku akibat penyakit, tekniknya juga harus diperhatikan, biar nggak menyakitkan Eyang Putri.

Pernah Mama sedang senang-senangnya main sama cucu, ditelpon susternya Eyang Putri yang mendadak minta cuti. Anak sakit adalah alasan si suster. Alhasil, Mama (dan Ayah) naik taksi ke rumah Om (tempat tinggal Eyang Putri sekarang) untuk nego sama si suster agar tidak dadakan. Maklumlah waktu itu Om dan Tante yang punya rumah lagi Umroh. 

Melihat jumpalitannya Mama mikir dan berbuat untuk Eyang Putri, gue sama Ayah suka protes: Kok nggak sayang ama diri sendiri sih??? Tapi Mama malah ngambek kalau diprotes. "Mama nggak  mau kehilangan momen!" kata Mama.

"Mama mau ngerawat Eyang Putri waktu dia masih hidup, masih bisa denger, bisa lihat. Mama mau puas-puasin deket Eyang Putri. Mama nggak mau waktu Eyang Putri udah meninggal, baru nyesel kenapa nggak ngurus orang tua...."

Mulia bener Mama....

Padahal Mama sendiri juga sakit. Lever. Konsumsi obat udah seumur hidup. Bolak balik cek up ke dokter. Nggak boleh capek. Pikiran nggak boleh terbebani. Tapi masih aja Mama jumpalitan....

Dan gue baru aja menemukan tafsir baru dari kalimat Mama "Nggak Mau Kehilangan Momen".

Gara-garanya, kami lagi ngobrolin lucunya kelakuan cucu-cucu Mama (alias keponakan gue). Di ujung pembicaraan seru itu, Mama yang habis ngerawat luka-luka di badannya (efek penyakit) bilang, "Untuk cucu-cucu, Mama Nggak Mau Kehilangan Momen".

Dueng! Kesannya Mama ngomongin ujung usianya sendiri. Gue langsung sesak nafas. Untung ada BB yang bisa jadi pengalih. Kalo nggak, mungkin Mama bakal liat kalo mata gue berair.

InsyaAllah Mama nggak kehilangan momen yaaa. Anak-anaknya Mama juga. Cucu-cucu Mama juga. Dan soal umur, semoga kita nggak kehilangan momen untuk persiapan menuju umur terakhir. Aamiin.