Puisi bikinan gue kan katro semua. Nggak ada yg tau sih emang. Soalnya nyaris gak pernah gue tunjukin siapa2. Abis malu2in. Kalo gue nemu kertas2 coretan puisi gue jaman kuliah, gue mbacanya akan diam2. Takut ketauan. Coba deh, se-ekspresif mungkin ucapkan kata "Apa siiiiiiiiiiiiiiiiih????" . Naaah! Itu dia ekspresi gue kalo abis baca puisi bikinan gue sendiri.
Tapi gue HARUS berpuisi. Soalnya gue kudu nulis naskah yang salah satu karakternya adalah cowok penulis puisi (belom.... belom sampe seniman!). Naskah ini diangkat dari ketak ketiknya Ucup si pensuplai ide. Judulnya "Jangan Bilang Siapa-Siapa".
Tokoh pecinta puisi di cerita itu namanya Evan. Karakternya romantis dan bukan pemberontak. Sama banget deh ama gue (hihihi). Berhubung dikejar deadline dan kudu cepet, gue pun menghayal mati-matian (sumpah, biasanya untuk menghayal gue nggak perlu usaha keras). Menghayalnya sambil nelangsa... susahnya bikin puisi cinta kalo lagi nggak punya pacar (oh, itu nelangsa yang lain yah?). Hiks, hiks, hiks. Tapi untungnya, dalam waktu singkat, terciptalah beberapa puisi. Uaaaah, lega.
OK. Gue paste puisi2-nya Evan itu. Jangan bilang siapa-siapa, kalo gue merasa puisi gue itu tetep katro, meski kata Mas Produser syairnya cute.
Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk lirik lagu band-nya Aldo (sobatnya).
Kamu tahu aku tahu
Kamu mencintaiku dalam bisu
Keluarlah dan katakan
Aku siap mendengarkan
Karena sudah seribu kali kuucapkan
tapi ku hanya mendapat jawaban
dalam tatapan, dan senyuman
Tak cukup kata cinta bisa kuucap
Pada gadis dengan tatapan sehangat mentari
Tutur sehalus desir angin
dan hati sejernih embun pagi
Tak cukup kata
tapi ku harap dia selalu bisa merasakannya.
Puisi ini dibuat Evan untuk Debra, anak bandel pacar Aldo dan nggak suka puisi, tapi penasaran pengen dibikinin puisi tentang dia... karena dia mengaku narsis!
Pernahkah kamu membayangkan
Di antara bunga berwarna di taman
Tumbuh ilalang mencuat sendirian
Meliuk ditiup angin pagi, siang dan petang
Bebas, lepas, tanpa tinggalkan tanah yang dihujam akarnya
Dengan kelopak mekar di kepala
Ilalang sepenuhnya sadar
Ia dan bunga sama cantiknya
Ya
Ia cantik, karena ia indah sebagai ilalang
Di sini kita duduk dalam diam
senyummu menghalau kelam
aku menahan perasaan
karena aku selalu paham
persahabatan kita bisa mengeringkan laut dan menyalakan malam
(thx to Iwan, akhirnya gw sukses mengutip rayuan lo! huahahahaa)
Di bawah ini puisi yang dibuat Evan untuk Clara, sehari setelah diputusin.
Salahku takkan pernah habis
dan aku bukan orang yang sempurna
tapi aku hanya ingin kamu tahu
aku tak pernah ingin jadi kekasih yang buruk untukmu
See???
Eh, tapi.... liat deh posting berjudul "FLY". Itu puisi bikinan gue loh. IMHO, (sambil malu...) the best ever :)).
NB : Nyusul nih, ketinggalan di-post....
Bening itu
terpancar dari matamu
yang hitam namun secerah langit biru
dan aku luluh dalam pesonamu
Di dunia ini tak ada yang pasti
seperti letak ujung pelangi yang menyentuh bumi
tapi sungguh bisa dimengerti
kalau kamu adalah pelangi
yang datang tanpa pergi lagi
--
Udah ah... malu... gombalica banget.
3 comments:
daun pergi karena tertiup angin atau karena pohon tidak memintanya tinggal?
dia pergi karena tidak percaya akan diminta tinggal atau karena aku diam?
Bud, kapan atuh nulis lagi di Blog, Fan mu yg ini udah kangen menunggu masukan baru nih......
just read it, Oh May Gadddd ....
Post a Comment