Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Tuesday, January 07, 2014

Castaway on the Moon : Muaranya adalah Harapan (Awas Spoiler!)

Jangan tertipu sama posternya yang terkesan mirip poster film Dono-Kasino-Indro. Ini salah satu film terbaik yang pernah gue tonton!

Pesan di film Castaway on the Moon begitu verbal. Kata "harapan" atau "hope" atau apalah dalam bahasa Korea-nya itu ya.... diucapkan berulang kali di film Korea Selatan yang dirilis tahun 2009 ini.

Tapi buat penggemar film dengan pesan subtil, nggak perlu kecewa. Konflik dan alur cerita film ini oke punya, jadi nggak perlu menyayangkan betapa verbalnya pesan film ini. Komedinya satir. Endingnya: open ending.

Ceritanya...

Ada seorang cowok yang mau bunuh diri, udah nyoba berkali-kali tapi gagal terus. Akhirnya dia terdampar di sebuah pulau kecil di Sungai Han. Capek bunuh diri tapi nggak mati-mati, akhirnya dia berhenti mencoba bunuh diri, lalu bertekad melanjutkan hidup di tempat terasing itu, meski hidup ala manusia purba.

Kebalikan dari cowok yang semangat hidupnya tinggi itu, ada cewek yang justru hidup seperti asal hidup. Karena alasan tertentu, cewek ini mengurung diri di kamar 24 jam sehari, sepanjang tahun. Cewek ini baru 'hidup' kalau sudah masuk ke dunia cyber, dan doi kecanduan game online. Satu-satunya interaksi sama dunia di luar apartemennya adalah dengan meneropong.

Suatu hari, cewek ini melihat si cowok purba lewat teropongnya. Dia sempat mengira kalau dia meneropong bulan, dan cowok itu adalah alien. Lalu terjadilah kisah cinta yang unik antara mereka berdua. Mulai dari cara berkomunikasinya, sampai cara nunjukin gimana agungnya hidup dengan punya harapan, dan ngehe-nya hidup tanpa harapan.


Pengetahuan baru yang gue dapat.... 

Di film ini ada adegan kegiatan kota Seoul freezing selama beberapa menit saat dibunyikannya sirene kota. Ternyata, di Korea Selatan memang dua kali dalam setahun dibunyikan sirene super kencang begini. Gunanya untuk tanda latihan evakuasi penduduk, sebagai persiapan serangan Korea Utara. (sumber: imdb)

Emang nilai tambah tuh, kalau suatu cerita bisa memasukkan sesuatu yang khas daerah itu, terutama kalau sesuatu itu punya peran penting untuk alur dan kelokan (twist) cerita. Yah kayak manfaatin sirene itu.


Tentang keberhasilan film ini.... 

Film ini minim sekali dialog. Tapi dalam sedikit kata justru lebih banyak yang disampaikan. Mulai dari hubungan dengan keluarga, konsep diri, dan tentunya harapan itu tadi. Akting Jung Ryeo Won si pemeran cewek nggak pernah mengecewakan. Dan pemeran cowok itu, Jung Jae Young, bahkan lebih mengesankan lagi sebagai orang purba di pulau terabaikan, di masa modern.

Info tentang sutradara yang merangkap penulisnya, Hey Jun Lee, cuma seuprit. Tapi kalau baca dari situs IMDB, gue tertarik nyari film yang doi tulis: Au Revoir, UFO alias Annyeong UFO.

Sebagai bukti kalau Castaway on the Moon ini salah satu film terbaik yang pernah ada, ini list penghargaannya:
  • NETPAC Award - 2009 (29th) Hawaii International Film Festival - October 15–25, 2010
  • Best Actor (Jung Jae-Young) - 2009 (32nd) Golden Cinematography Awards - December, 2009
  • Audience Award - 2010 (12th) Udine Far East Film - April 23-May 1, 2010
  • Black Dragon Audience Award - 2010 (12th) Udine Far East Film - April 23-May 1, 2010
  • NYAFF 2010 Audience Award - 2010 (9th) New York Asian Film Festival - June 25 - July 8, 2010
  • Special Jury Prize: - 2010 (14th) Fantasia Film Festival - July 8–28, 2010
  • Audience Awards - Best Asian Film (Bronze) - 2010 (14th) Fantasia Film Festival - July 8–28, 2010

Jadi emang berkah nih film tentang Harapan ini. Baguslah. Ngingetin banyak orang, kalau sesusah apa pun hidupmu, kalau kamu punya harapan, kamu akan mengatasi semua halangan. Yesssss!!!


Wednesday, January 25, 2012

Suspect X - Kasus Pembunuhan di Tangan Pakar Eksak


Seorang pria terbunuh di apartemen istrinya. Pembunuhnya? Istri dan anaknya sendiri! Sebab terjadi pembunuhan sampai adegan terbunuhnya si pria itu dipaparkan jelas di awal. Laah, ini cerita detektif. Kok pembunuhnya sudah dibocorin ke penonton?

Itulah serunya Suspect X, film detektif Jepang bergenre thriller-misteri buatan tahun 2008. Film ini TIDAK bikin penonton bertanya-tanya siapa pembunuhnya. Tapi film ini menceritakan bagaimana upaya seseorang agar pembunuh sebenarnya tidak ketahuan polisi meski sudah di depan mata, dan bagaimana upaya polisi melacak pembunuh yang disamarkan itu.

Ada formula "penonton tahu, aktor tidak tahu". Penonton tahu siapa pembunuhnya, tapi polisi tidak tahu. Jadi penonton menunggu kapan polisi tau, dan bagaimana caranya. Itulah yang dijual di film ini.

Ada juga battle of wits alias adu cerdas antara dua ahli ilmu eksak. Ini gue suka banget. Jenius Fisika vs Jenius Matematika. Si Jenius Fisika melindungi pembunuh, sedangkan si Jenius Matematika disewa polisi untuk melacak pembunuh.

Lihat contoh perhitungan yang gue bikin --dengan susah payah- ini :
Pada fakta-fakta berikut.... (akar36) X 19 - (28 : 4) + 7 = 100.
Tapi dengan fakta yang sama, jawaban bisa jauh berbeda... (akar36) X 19 - 28 : (4 + 7) = 7,819. Beda kan?? Padahal cuman dengan memindahkan tanda kurung!

Nah, begitu juga kerjaan si Jenius Fisika. Fakta-fakta yang ada di kasus pembunuhan ini dia mainkan, ibaratnya tanda kurungnya dia pindah-pindah, sehingga jawabannya (dalam hal ini: pembunuhnya) berbeda.

Si Jenius Matematika yang ganteng itu sebenarnya curiga sama si Ahli Fisika, yang ternyata dia kagumi kejeniusannya sejak masih kuliah. Tapi semua fakta TIDAK mengarah ke si Ahli Fisika, maupun ke si ibu dan anak. Si Ahli Matematika pun gelisah karena dia yakin perhitungannya ada yang salah. Tapi apa???

Jadi prediksi dan antisipasi Ahli Fisika, dilawan pakai analisa Ahli Matematika. Jawaban yang melenceng harus dapat jawaban tepat. Apakah akhirnya polisi bisa mengungkap pembunuh sebenarnya? Nonton aja filmnya :))

Oh iya. Yang bikin film ini tambah menarik buat gue, si Ahli Fisika ekspresinya lempeng-lempeng aja, sangat tidak menarik perhatian. Padahal dia yang atur semua agar kecurigaan polisi beralih dari si ibu dan anak yang dia lindungi. Kenapa dia begitu ingin melindungi keduanya?? Nah, itu diungkap di akhir film. Ternyata sangat menyentuh. Manusiawi banget. Bahkan semua karakter di sini film ini sangat manusiawi. Hmmmm... kecuali pria yang dibunuh itu. :))

Adaptasi

Suspect-X diangkat dari novel Jepang berjudul Yogisha X no Kenshin (The Devotion of Suspect-X) oleh Keiga Higashino. Novel ini best-seller di negerinya. Si penulis dapat sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan bergengsi Naoki Prize. Novelnya sendiri memenangkan Honkaku Mystery Grand Prize. Bahkan di Honkaku Mystery Best 10, yang merupakan buku panduan fiksi-misteri Jepang 2008, tertulis kalau Yogisha X no Kenshin menempati posisi 1. Ciyeeeehh!!

Suspect-X masuk box office, dan bertengger di peringkat 3 film berpendapatan tertinggi 2008. Sebelumnya ada serial prekuel, yang notabene juga thriller-misteri. Judul serial TVnya: Galileo. Pemainnya kurang lebih sama kayak di film layar lebarnya. Tahun 2012 ini, akan dibuat film versi Korea Selatan, dengan judul (tentatif) Real Love. Secara gue suka genre thriller-misteri, gue tungguin versi Korea ini rilis di internet :)

--O--

Film Suspect X (2008)

Asal : Jepang
directed by Hiroshi Nishitani.
Pemain :

Monday, January 02, 2012

Adaptasi Manga ke Live Action



















Banyak manga (komik Jepang) yang diadaptasi jadi film live action (film yang pemerannya orang beneran, bukan animasi). Itazura na Kiss, Hana Yori Dango (Boys Over Flower), Detektif Conan, dll. Favorit gue masih Garasu no Kamen (Glass Mask atau Topeng Kaca) karya Shizue Miuchi, yang live actionnya bikin gue naksir berat sama Seiichi Tanabe si pemeran Masumi Hayami.

Gue nggak bahas cerita-cerita di atas :). Udah lupa detilnya. Yang mau gue bahas adalah film Jepang yang baru gue tonton, jadi masih anget di kepala. Judulnya From Me to You, adaptasi manga Kimi ni Todoke. Gambarnya yang di foto atas itu tuh, yang di bawah judul. Filmnya sih gue suka, dan ocehan gue soal film itu udah gue tulis di post sebelum ini.

Manga Kimi ni Todoke terbit dari tahun 2005, sampe sekarang (menurut wikipedia yg gue akses jam 11 malem tgl 2 Januari 2012) sudah ada 14 volume dan belum tuntas. Mengadaptasi serial manga 14 volume jadi film yang cuman 2 jam, jidat si penulis skenario film pasti berkerut. Gue nebak-nebak manakah bagian cerita yang dibuang? Mana pula yang diubah demi logika film?? Nah, dari membandingkan tontonan dan contekan wikipedia, ini yang gue dapat :

1. Menghilangkan beberapa karakter

Di antara karakter di manga yang nggak muncul di film live action adalah : Kento Miura (cowok populer yang naksir Sawako juga, dan akhirnya bikin Kazehaya cemburu), Tomoko Endo dan Eriko Hirano (dua temen deket yang masuk kelompok Sawako juga, di manga mau nunjukin temen Sawako banyak, tapi di film malah jadi kebanyakan kali), Joe Jonouchi(karakter komedik yang suka jadi nyamuk nyempil di tengah Sawako-Kazehaya, yang justru sering menggagalkan pedekatenya Kazehaya ke Sawako), Yoshiuki "Zen" Arai (mantan guru kelasnya Sawako), dan Shino (cewek temen masa kecil Sawako).

2. Menghilangkan / mengubah beberapa detil cerita

Karena ada karakter yang hilang, akibatnya ada juga cerita yang nggak bisa masuk ke film. Di film From Me to You nggak ada tuh Kazehaya yang gemes karena pedekate-nya ke Sawako gagal karena gangguan Joe, wong tokoh Joe-nya juga nggak masuk film. Nggak ada pula Kazehaya cemburu pada cowok populer yang jadi saingannya, Kento Miura.

Tapi tanpa karakter hilang pun, cerita film bisa gak mirip manga-nya. Contoh, menurut wiki, karakter Ayane di manga bermulut silet, tapi seinget gue ucapan Ayane di film nggak silet-silet amat, malah terkesan penuh dukungan. (ato karena gue nggak ngerti bahasa Jepang dan hanya ngandelin English translation aje ye?). Di manga, karakter Ayane juga suka nendang Kazehaya kalo dipikirnya abis nyakitin hati Sawako, kalo di film nggak ada tuh Ayane nendang cowok.

Kata wiki, di manga si Ayane sempet deket sama Pin si guru tengil. Di film nggak ada! Pin si guru tengil nggak pernah ada romance ama murid mana pun.

Terlalu banyak yang bisa dijadiin catatan, karena gue nggak baca seri manga-nya maka ngeri juga gue nulis panjang-panjang. Tapi sepertinya kisah di film tuh cuman sampe manga volume sekian deh, karena ending yang gue liat di film, sebenarnya ada perkembangannya lagi di manga. Misal, perubahan karakter cewek saingan Sawako, hubungan Chizuru dan Ryu setelah keduanya sama-sama patah hati, dll.

Nggak ada adaptasi yang 100% sama dengan asalnya.

Ya iyalaaah. Karakter mediumnya aja beda. Manga dan Film. Di manga, pernyataan sikap bisa ditulis, isi pikiran bisa di-tulis, volume bisa belasan bahkan puluhan sehingga banyak cerita bisa digali, karakter bisa banyak toh nggak bayar banyak pemain, dll. Di film, prinsipnya show and don't tell, durasinya terbatas (120 menit maksimal... mana mungkin cerita belasan volume manga masuk kumplit di situ?), dan karena durasi terbatas maka jumlah karakternya juga disesuaikan.

Dari perubahan-perubahan yang ditulis di atas aja, udah bisa ditebak ada reaksi suka dan nggak suka dari pemirsanya. Gue misalnya, meski nggak baca manga-nya nih, tapi gue lebih suka kalo ada Kento Miura si saingan Kazehaya itu. Pengen tau gimana reaksi Kazehaya. Emang di film ada Ryu yang sempet dicemburuin Kazehaya, tapi Ryu kan pendiam dan suka ama cewek lain, bukan lawan sepadan buat Kazehaya.

Karena gue nggak baca manga-nya (ulang terussss biar nggak disalahin, hahahaa), gue juga nggak tau apa yang gue harapin dari tokoh-tokoh di film From Me to You. Jadi pas gue nonton, gue cuman terganggu sama Ayane dan Chizuri yang rasanya kok copy cat characters alias nggak ada bedanya. Kalo sama produser-produser gue, karakter begitu pasti dihapus aja salah satunya.

Ini berbeda waktu gue udah baca manga Garasu no Kamen dan akhirnya nonton live action-nya. Pertama kali liat Masumi Hayami... halah... gue nggak suka! Jelek! Tua! Terlalu ceking! Terlalu tinggi buat Maya! Masumi Hayami harusnya charming sejak pertama kali muncul. Dan komentar temen gue yang juga pecinta garasu no kamen pun sama. Negatif. Meski akhirnya kami ngakuin kalo Seiichi Tanabe si Masumi Hayami itu charming and also sexy in his own way, tapi kan kami ngakuin dia cocok jadi Masumi Hayami pake proses marah-marah dan nolak-nolak dulu. Soal cerita? Yes, ada yang beda dari manga. Gue lupa apa tapi pas nonton gue mikir kayaknya di manga gak gitu. Tapi gue puas sama penceritaan di dorama. Gue juga angkat dua jempol untuk tiap pemain dorama Garasu No Kamen. Gue cuman kecewa sama ending (di episode tambahan) yang ngulur-ngulur kepanjangan. Mungkin untuk memenuhi kontrak durasi, sementara cerita harus dijaga agar nggak berkembang lagi, hanya sebatas nyelesain konflik yang belum tuntas, secara penulis aslinya udah stop nulis saat cerita masih nggantung banget.

Oh iya. Satu lagi. Manga City Hunter! Adaptasinya ke film yang dibintangi Jacky Chan ada perubahan, jadi lebih megah kasusnya. Gue suka film ini karena kocak, meski banyak nemuin perbedaan di karakter Ryo Saeba si City Hunter. Sedangkan adaptasi ke serial korea yang dibintangi Lee Min Ho, wuuuuhhhh itu rombak abis! , cerita, setting, nama-nama.... ganti semua! Malah bisa dibilang, yang dipake hanyalah judul "City Hunter". Gue kelar nonton ke-16 episode serial City Hunter Korea, tapi tanpa antusias. Bukan karena perombakan total tadi, melainkan karena bocen.... perkembangan ceritanya lamaaaa dan bolak balik. Alasan gue nyelesain serial ini karena pengen tau apakah si City Hunter Lee Min Ho ini tuntas ngebalas dendamnya (secara ceritanya tentang balas dendam)??

Meski ada adaptasi cerita yang gue nggak suka, tapi gue selalu salut sama yang mengadaptasi. Butuh effort, men! Pake mikir. Pake ilmu. Dan lihat... untuk manga yang diadaptasi jadi film ... jumlahnya masih banyak aja (lihat tahun pembuatannya). Semoga di Indonesia juga mirip-mirip gitu, makin banyak karya tulis (novel atau cerpen) yang diadaptasi jadi film... dan gue yang nulis skrip-nya. Ngarep asliiii! :))

From Me To You


Ini film kedua yang gue tonton di tahun 2012. Film Jepang, judulnya From Me to You. Judul Jepang-nya Kimi ni Todoke. Ini film remaja, para karakternya aja berseragam SMA. Seger di mata.

Namanya juga cerita anak SMA. Konfliknya seputar romance, persahabatan dan pencarian jatidiri. Ceritanya ringan, tapi banyak menebar nasehat-nasehat yang nggak menggurui.

Belakangan setelah ubek-ubek wikipedia, gue baru tau kalo film ini sukses di Jepang. Di minggu pertama penayangannya, 25-26 September 2010, From Me to You jadi film terlaris kedua di sana. Hebat euy.

Sinopsis

Tokoh utama di film ini adalah cewek SMA bernama Sawako, yang di sekolahnya suka diolok-olok sebagai Sadako, karakter horor di film The Ring. Tak cuma itu, beberapa siswa juga kaget beneran kalau didekati Sawako yang rambutnya lurus panjang menutupi sebagian mukanya, persis gaya rambut Sadako. Belum lagi bicaranya yang pelan cenderung bisik-bisik. Bikin merinding anak sekolah.

Saat banyak yang jauhin Sawako, ada satu cowok yang asik-asik aja sama doi. Namanya Kazehaya. Mereka pertama kali ketemu di jalan. Sawako nunjukin arah sekolah ke Kazehaya, dan sejak itu Kazehaya nandain Sawako sebagai gadis yang baik. Tak seperti Sawako yang minderan, Kazehaya ramah dan vokal. Dia langsung populer di sekolah. Banyak cewek suka sama dia, termasuk Kirumi, cewek cantik bekas temen SMP-nya.

Sikap Kazehaya yang asik aja ke Sawako awalnya bikin gadis itu bingung. Gimana nggak, karena hampir semua anak di sekolahnya mengolok dia, akhirnya dia tak punya kawan. Padahal dia pengen berteman. Saking pengennya, dia bersedia jadi hantu di jurit malam. Nggak papa deh jadi hantu, yang penting dirinya bermanfaat, dan ujungnya temen-temen mau main sama dia.

Dari jurit malam itu, Sadako eh Sawako dapat 2 sahabat cewek. Namanya Chizuru dan Ayane, dua cewek tomboy yang iseng, pemberani, kurang pinter tapi jago banget sepakbola. Sawako juga jadi dekat sama Kazehaya, ketua panitia jurit malam... yang ternyata diam-diam naksir Sawako. Grup kecil mereka dilengkapi cowok pendiam dan acuh bernama Ryu.

Dengan cara masing-masing, kelima anak ini menghargai persahabatan mereka. Sawako yang penggugup itu nekat menyuruh penggosip di sekolah menarik omongan sinisnya tentang Chizuru dan Ayane. Di kesempatan lain, Chizuru dan Ayane yang siap senggol bacok rela tak membalas perlakuan pembenci Sawako, karena menghormati keputusan Sawako. Ryu si pendiam ternyata pengamat yang baik. Kazehaya yang bijaksana selalu menyarankan langkah terbaik (versi dia) menghadapi masalah. Pendeknya, "Kita sudah berteman sebelum kita tahu kalau kita berteman," kata Chizuru.

Tapi kata pertemanan juga yang bikin Kazehaya susah ngaku naksir sama Sawako. You know lah, takut ditolak sama temen sendiri. Salah satu formula romantic comedy, udah suka, tapi nggak berani ngomong, akhirnya salah paham, jadi runyam. Yang lucu, kelima anak ini mengelompok lagi jadi kelompok lebih kecil-kecil untuk curhat soal perasaan romantis mereka ke seseorang. Tapi kalau curhat, ada pesan-pesan: jangan bilang-bilang ke doi (orang yang ditaksir)! Hmmm... sounds familiar!

Nah, sikap Kazehaya ke Sawako makin lama makin ketauan naksirnya. Tapi dasar Sawako polos, lugu, punya temen cowok juga cuman dua.... dia nggak ngerti sikap Kazehaya selama ini tuh karena jatuh cinta. Padahal Sawako juga udah naksir berat sama Kazehaya. Tapi karena nggak PD, pas Sawako keceplosan ngomong suka, dia akan buru-buru jelasin kalau suka-nya itu sebagai teman aja. Whoaa! Kalo gini terus, kapan jadiannyaaaa?? Mana pula Sawako terbiasa mementingkan perasaan orang lain daripada perasaan sendiri, makin susah deh PR buat Kazehaya :).




Meski film ini bikin gue nunggu-nunggu kapan dan gimana Sawako - Kazehaya jadian, sebenernya film ini lebih dominan cerita tentang persahabatan daripada romance-nya. Ini menurut gue lho. Bahkan di otak gue, premise film ini adalah kalau kamu punya masalah, sahabat sejatilah yang akan membantumu (selain ortu). Tapi karena romance di film ini digarap manis, kuat, dan bikin penasaran, jadinya romance-nya mudah diingat dan diresapi. Halaaaaah.

Dari manga

Konflik di film From Me to You bejibun. Ada konflik Sawako dan Kazehaya, Sawako-Chizuru-Ayane, Sawako dan Kirumi, Ryu dan gadis yang ditaksirnya, Chizuru dan cowok yang ditaksirnya, Ayane dan pacarnya yang mahasiswa, dll. Karakter yang terlibat juga banyak. Selain lima orang itu, ada ortu Sawako, Pin si guru tengil, Kirumi, cewek-cewek penggosip, dll. Untung semuanya nggak bikin bingung penonton. Porsi lebih banyak di dinamika persahabatan Sawako-Chizuru-Ayane dan tentu saja kisah hati Sawako-Kazehaya.

Banyaknya konflik ternyata karena film ini adaptasi dari serial Manga, komik Jepang, karya Karuo Shiina, berjudul Kimi ni Todoke. Manga-nya terbit sejak 2005 dan sampai terakhir gue akses halamannya di wiki (2 Januari 2012 jam 22.51), udah ada 14 volume... and keep going.

Gue belum baca manga-nya. Tapi dari wiki, gue bayangin komiknya pasti seru banget. Kalo ada waktu dan ada yang minjemin, mau deh gue baca semuanya! :)

Suksesnya manga ini membuat Kimi no Todoke diadaptasi jadi serial novel pendek. Penulis novelnya beda, bukan si mangaka (pembuat manga). Selain itu juga dibikin anime-nya. Ada film live action-nya (film yang pemainnya orang beneran, bukan animasi) yang gue tulis di atas. Bahkan ada game Nintendo-nya segala. Kalo sistem royaltinya canggih, Karuo Shiina udah kaya raya nih.

Gue membandingkan manga dan adaptasi live actionya. Sila baca di tulisan berikutnya. Kalo tulisan ini kepanjangan, pening juga bacanya nggak?

Friday, December 23, 2011

Marriage is a Crazy Thing


Ini film Korea Selatan. Baru aja gue temuin di Youtube pas lagi nyari2 film romantic comedy (romcom) Korea. Tanpa melihat posternya dulu, gue pikir Marriage is a Crazy Thing jenis film dudul karena judulnya ada "crazy"nya. Well, ternyata gue yang dudul, karena ini film drama.

Meski nggak sesuai harapan, alias bukan romcom melainkan drama, tapi gue tonton juga film ini ampe abis. Awalnya, karena di 10 scene pertama aja ada sex scene yang cukup liar. Hahahaa. Tapi selanjutnya, gue bertahan nonton sampe tuntas karena ceritanya ternyata dalem, plus akting dan chemistry pemain-pemainnya yang top.

Marriage is a Crazy Thing bercerita tentang pencarian teman hidup. Joon Young, seorang dosen sastra Inggris, bertemu Yun Hee, seorang desainer lampu di sebuah kencan buta. Ini bukan kencan buta pertama buat masing-masing. Tapi sejak itu Joon Young dan Yun Hee tak bisa berpisah lama-lama. Mereka saling kecanduan secara fisik dan emosional. Padahal cita-cita hidup Joon Young dan Yun Hee bertolak belakang.

Yun Hee menginginkan suami kaya, yang bisa menjamin kenyamanan hidupnya secara finansial. Sedangkan Joon Young hanyalah seorang dosen tidak tetap, penghasilannya pas-pasan, dan tidak mau menikah karena takut menjamin hidup seorang istri.

Karena itu Yun Hee tetap mencari calon-calon suami yang sesuai keinginannya. Ada dokter, lawyer, yang notabene berpenghasilan tinggi dengan kehidupan sosial kelas A, tapi tak ada yang bisa mengalahkan ikatan emosional Yun Hee pada Joon Young. Nah, Joon Young juga begitu. Meski dia kencan sama perempuan lain, tapi tetap baliknya ke Yun Hee lagi. Bahkan buat Joon Young, akhirnya tak ada perempuan lain selain Yun Hee.

Yun Hee akhirnya menikah dengan seorang dokter, pria yang sesuai kriterianya. Sedangkan Joon Young tetap dengan hidupnya yang stagnan. Hubungan keduanya sempat garing. Tapi seperti sepasang soulmate, mereka selalu bersama lagi. Apa pun yang telah terjadi, Yun Hee tetap mempertahankan Joon Young sebagai kekasih gelapnya, dan Joon Young tetap bertahan jadi kekasihnya, serumit apa pun hubungan mereka, bahagia meskipun getir.

Menang awards

Marriage is a Crazy Thing adalah film Korea Selatan produksi tahun 2002. Ini film kedua Yoo Haa, penulis-sutradara yang juga dosen dan penyair kontemporer. Menurut gue, ini film bagus banget, baik secara isi maupun gambar. Tapi gue nggak nemuin informasi apakah film ini menang awards atau tidak. Kalau pemain-pemain utamanya sih dapat penghargaan dari festival-festival film di negerinya.

Kam Wu-Seong yang berperan sebagai Joon Young, menyabet gelar Best Actor di Grime Awards 2002 dan Best New Actor di Korean Film Awards 2002. Sementara Uhm Jum-hwa yang berperan sebagai Yun-Hee merebut Best Actress di Baeksang Arts Awards 2003.

Potret perempuan di Korea?

Sejumlah penonton yang komentar di imdb, yang notabene dari negara-negara di luar Korea, menyayangkan film ini nggak terkenal di negara mereka (dibanding apa ya?).

Tapi ada komentar menarik, yang bilang kalau kondisi Yun Hee di film Marriage... banyak terjadi di Korea Selatan, negeri yang maju secara teknologi dan ekonomi tapi membuat hidup penduduknya kering lantaran tekanan pekerjaan, sosial dan budaya. Perempuan-perempuan mencari suami berpenghasilan tinggi agar hidup mereka aman secara finansial, namun harus memendam ego dalam-dalam ketika suami-suami mereka selingkuh akibat tekanan dan/atau hubungan kerja. Yang penting hidup mereka sudah terjamin. Tambahan lagi, budaya di sana mewajibkan istri mengabdi ke suami. Nah, karakter Yun Hee mewakili pemberontakan perempuan-perempuan yang tertekan egonya, ketika ia mempertahankan suami yang menjamin hidupnya, sekaligus mempertahankan perselingkuhan, partnership (and love of her life?) dengan seorang dosen miskin.

Mungkin kondisi Yun Hee dan Joon Young bukan kondisi umum di Korsel, tapi jelas ada. Film Marriage is a Crazy Thing menangkap itu dan menggambarkannya dengan sederhana, lalu menyisakan diskusi buat penontonnya. Satu dari sekian film Korea yang bikin gue banyak belajar lah. Belajar apa? Hehehee, menurut lo apa??