Tulisan mandeg? Horor tuh buat penulis.
Nah. Di bawah ini adalah rangkaian tweet penulis novel Macaroon Love plus penggagas @Kampung Fiksi, Winda Krisnadefa (@windakrisnadefa) tentang Tulisan Mandeg. Baik penyebab maupun tips mengatasinya, komplit doi beberkan. Terima kasih Mbak Winda! O iya, semua di-tweet tgl 12 Agustus 2013.
- Adakah yg skrg naskahnya lg stuck/mandeg krn berbagai alasan? #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Mau maksa nulis adegan klimaks tp ragu2, takut jadinya...ya maksa. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Giliran nulis aja tanpa arah, jadinya malah melebar kemana2. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Akhirnya berhenti nulis. Mood langsung menguap entah kemana :') #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Tau gk, penyebab #tulisanmandeg biasanya krn konsep ceritamu lemah. :) @KampungFiksi
- Tau gk, penyebab #tulisanmandeg biasanya krn konsep ceritamu lemah. :) @KampungFiksi
- Bs jd kamu nulis berangkat "hanya" dr ide dasar, gk bikin draft sama sekali. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Boro2 bikin draft, endingnya aja kamu msh blm tau mau gimana. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Byk yg ngira cara menulis ky gitu adlh "gaya menulis" seseorang, pdhl itu sbnrnya bkn gaya menulis #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Menurutmu emg gitu "gaya menulis" kamu, tulis aja dulu, ntar endingnya jg ketemu sendiri. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Gk semua org seberuntung itu lho! Apalagi kalau udh sering stuck, berarti ada yg salah :D #tulisanmandeg @KampungFiksi
- So kalo kata saya sih itu bukan "gaya menulis" melainkan "salah kaprah" krn nganggap enteng. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Gimana spy gk keterusan begitu terus? Gemes kan ngeliat naskah setengah jadi kamu numpuk? #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Sblm mulai menulis, kamu harus sdh memegang sebuah premis. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Premis ini adlh bentuk paling dasar dr ide cerita yg akan kamu tulis. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Kamu hrs punya tokoh, konflik, solusi dan ending. Itu yg disebut sbg premis. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Premis inilah yg akan menjadi panduan dasar kamu mengarahkan ceritamu. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Bahkan tdk semua penulis terkenal "berani" hanya berpegang pd premis lho... #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Penulis Leila S Chudori prnh ngasih liat peserta writing clinic Femina buku coret2an draft novelnya. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Jd jgn males nge-draft dan jgn anggap enteng proses menulis naskahmu. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Kalo penulisnya ngegampangin proses nulis naskahnya, pembaca jg mungkin akan anggap enteng kan? :) #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Cara plg mudah u/ meneruskan #tulisanmandeg kamu adlh menulis dgn ending yg sdh jelas. @KampungFiksi
- Ending inilah yg akan mengantarmu menuju akhir cerita. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Berikut ada bbrp adegan umum yg bs mengantar tokohmu menuju ending. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Bentuknya tdk hrs spt ini, tp setidaknya ini bentuk yg byk dipakai #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Buatlah point 1-12. Point 1: adegan pembuka. Point 12: adegan penutup. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Point antara 1 dan 12 adlh rangkaian adegan yg bersambung dr awal sampai akhir. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- Cara ini akan membantumu menemukan apa selanjutnya yg mungkin terjadi dlm ceritamu. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- ini contohnya. Point 1: tokohmu dlm keseharian (perkenalan tokoh) #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 2: tokohmu mengalami sebuah gejolak akibat pengaruh dr luar. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 3: tokohmu meminta pendapat ttg gejolak tsb dgn tokoh2 lain dlm cerita. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 4: tokohmu dipertemukan dgn bbrp pilihan. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 5: tokohmu membuat gebrakan yg tdk terduga. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 6: tokohmu mengalami masalah atau mndpt tantangan krn perbuatannya. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 7: tokohmu menghadapi tantangan yg makin besar (menuju klimaks). #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 8: tokohmu terpuruk (menuju solusi). #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 9: tokohmu berusaha bangkit kembali. #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 10: tokohmu mulai mendapatkan penyelesaian (menuju ending). #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 11: tokohmu dikonfrontasi dgn tokoh antagonis (klimaks). #tulisanmandeg @KampungFiksi
- point 12: tokohmu berhasil/gagal mencapai tujuannya (ending). #tulisanmandeg @KampungFiksi
- kira2 begitu, keliatannya teoritis sekali, tapi membantu u/ yg #tulisanmandeg :) @KampungFiksi
- lagian, biar teori sekeren apa, kalau gk nulis2 ya wasalam, tetep aja tuh #tulisanmandeg hahaha @KampungFiksi selamat menulis!
Showing posts with label note to self. Show all posts
Showing posts with label note to self. Show all posts
Tuesday, September 03, 2013
Sunday, October 09, 2011
Ternyata Aku Butuh Kamu
Tadi siang rombongan calon penganten putra datang.
Ke rumah sebelah.
Calon penganten putrinya... memang anak perempuan si bapak rumah sebelah. Jadi bukan gue calonnya. Si calon penganten putra emang gak nyasar :))
Soal kedua calon penganten, mereka mau nikah bulan ini. Tadi siang sesi srah-srahan. Calon penganten pria bawa rombongan sekitar 30 orang. Terdiri dari ortu dan kerabat dekat. Sebaliknya, pihak calon penganten putri cuma 6 orang. Terdiri dari ortu, si calon penganten putri, dan 3 adiknya. Jadi 6 "lawan" sekitar 30 orang. Sepi ya?
Nggak usah disebut kenapa kubu tuan rumah begitu sepi. Yang jelas, di keluarga mereka nggak ada yang bisa jadi MC dan/atau wakil keluarga (to present the members of the family). Untung bokap gue plus 2 pasang tetangga lainnya hadir. Bokap jadi pengarah acara plus wakil keluarga, 1 tetangga lagi jadi MC. Tuan rumah pun lega. Acara berjalan seperti layaknya srah-srahan, terarah tapi santai, nggak acak adut berantakan.
Kalo acara itu terjadi beberapa tahun lalu, pasti garing. Soalnya keluarga itu masih menutup diri. Akibatnya tetangga juga malessss sama mereka. Nah, apa yang terjadi kalo saat itu mereka nerima rombongan calon penganten pria? Hmm... Mungkin rombongan tamu akan kaget "Enam orang?? Keluarga si cewek cuman segini??". Lalu tiap keluarga diem-dieman, karena anggota2 keluarga si cewek susah cair di suasana baru.
Jadi... Berkat akrab bertetangga, acara penting jadi rapi, kegaringan pas srah-srahan teratasi :).
Kejadian serupa pernah menimpa seorang sepupu jauh (buangett). Di hari srah-srahannya, di rumahnya cuman ada ortunya dan keluarga inti kakaknya. Sang ayah sebenarnya punya beberapa kakak, tapi nggak akrab. Bahkan sampai gak minat ngundang. Makanya beliau cukup stress pas hari srah-srahan anaknya, karena di rumah gak ada orang untuk nyambut rombongan calon besan!
Jadi pagi-pagi sekali, sang ayah nelpon bokap gw untuk datang. Lalu nyokap gue ngerahin adek2nya untuk datang juga. Jadilah kami jauh2 ngebut dari Bekasi ke tengah Jakarta. Hasilnya, sang ayah lega. Dia nggak perlu malu karena keluarganya nggak sepi amat. Acara berlangsung semarak karena yang bercanda jadi tambah banyak.
Jadi... Akrab sama keluarga (extended family) bikin lebih mudah untuk minta tolong. Selama minta tolongnya masuk akal, tentu saja.
Nah, biar nggak soal srah-srahan melulu, ntar ada yang ngira gue minta kawin, cerita ketiga gue ambil bukan soal srah-srahan. Kali ini soal pertemanan.
Beberapa tahun lalu, ada temen gue yang sukses banget di pekerjaannya. Dia sibuk berat. Dia mencintai lingkungan barunya. Ambisinya terus dikejar. SMS dari teman-teman lamanya nyaris nggak ada yang dia jawab, saking udah kecapekan ato begitu sibuk sama urusannya. Undangan dari temen-temennya nggak ada yang dia datengin, kecuali satu kawinan temen kami, yang bapaknya notabene klien dia. Singkatnya, dia "hilang" dari peredaran.
Roda berputar. Kantornya bangkrut. Konon bosnya tertipu (sinetron banget!). Dia jadi seperti hilang pegangan. Biasanya sibuk kerja, sekarang bengong. Biasanya lingkungannya ramai, sekarang kosong. Dia inget temen-temennya. Tapi dia nggak percaya diri menghubungi mereka. Soalnya dia baru sadar, bertahun-tahun nggak pernah nanggepin temen-temennya. Stress-nya pun nambah.
Lalu dia putus cinta. Badannya jadi kuruuuuus banget. Tetep nggak ada temen yang tau. Sampe akhirnya dia memberanikan diri menghubungi satu orang, orang yang dia pikir paling mungkin nerima orang yang bertahun-tahun mengacuhkannya. Singkat kata, beberapa teman akhirnya berkumpul dan nerima cerita dia. Akhirnya dia lega.
Cerita berakhir happy ending? No. Temen stress ini telanjur kecewa sama dunia. Dia berpikir negatif pada hampir semua orang. Dia mengira temen-temennya menganggap dia rendah. Akhirnya dia menyeleksi temen. Eh, belakangan, temen yang terseleksi juga dicurigain. Hasilnya, sekarang dia (kembali) ditinggalin orang-orang. Tragis.
Moral of the story tulisan ini adalah, kita selalu butuh orang lain.
Efek dari sikap kita ke orang, bisa balik ke kita kapan aja.
Kita baik sama orang lain, orang lain akan baik pada kita.
Kita cuekin orang lain, orang lain akan cuek sama kita. Pas kita butuh? Nah lo! Gak ada orang!
Jadi baik-baiklah pada orang lain, baik pikiran maupun perbuatan. (asal jangan lugu tentunyaaa).
Ke rumah sebelah.
Calon penganten putrinya... memang anak perempuan si bapak rumah sebelah. Jadi bukan gue calonnya. Si calon penganten putra emang gak nyasar :))
Soal kedua calon penganten, mereka mau nikah bulan ini. Tadi siang sesi srah-srahan. Calon penganten pria bawa rombongan sekitar 30 orang. Terdiri dari ortu dan kerabat dekat. Sebaliknya, pihak calon penganten putri cuma 6 orang. Terdiri dari ortu, si calon penganten putri, dan 3 adiknya. Jadi 6 "lawan" sekitar 30 orang. Sepi ya?
Nggak usah disebut kenapa kubu tuan rumah begitu sepi. Yang jelas, di keluarga mereka nggak ada yang bisa jadi MC dan/atau wakil keluarga (to present the members of the family). Untung bokap gue plus 2 pasang tetangga lainnya hadir. Bokap jadi pengarah acara plus wakil keluarga, 1 tetangga lagi jadi MC. Tuan rumah pun lega. Acara berjalan seperti layaknya srah-srahan, terarah tapi santai, nggak acak adut berantakan.
Kalo acara itu terjadi beberapa tahun lalu, pasti garing. Soalnya keluarga itu masih menutup diri. Akibatnya tetangga juga malessss sama mereka. Nah, apa yang terjadi kalo saat itu mereka nerima rombongan calon penganten pria? Hmm... Mungkin rombongan tamu akan kaget "Enam orang?? Keluarga si cewek cuman segini??". Lalu tiap keluarga diem-dieman, karena anggota2 keluarga si cewek susah cair di suasana baru.
Jadi... Berkat akrab bertetangga, acara penting jadi rapi, kegaringan pas srah-srahan teratasi :).
Kejadian serupa pernah menimpa seorang sepupu jauh (buangett). Di hari srah-srahannya, di rumahnya cuman ada ortunya dan keluarga inti kakaknya. Sang ayah sebenarnya punya beberapa kakak, tapi nggak akrab. Bahkan sampai gak minat ngundang. Makanya beliau cukup stress pas hari srah-srahan anaknya, karena di rumah gak ada orang untuk nyambut rombongan calon besan!
Jadi pagi-pagi sekali, sang ayah nelpon bokap gw untuk datang. Lalu nyokap gue ngerahin adek2nya untuk datang juga. Jadilah kami jauh2 ngebut dari Bekasi ke tengah Jakarta. Hasilnya, sang ayah lega. Dia nggak perlu malu karena keluarganya nggak sepi amat. Acara berlangsung semarak karena yang bercanda jadi tambah banyak.
Jadi... Akrab sama keluarga (extended family) bikin lebih mudah untuk minta tolong. Selama minta tolongnya masuk akal, tentu saja.
Nah, biar nggak soal srah-srahan melulu, ntar ada yang ngira gue minta kawin, cerita ketiga gue ambil bukan soal srah-srahan. Kali ini soal pertemanan.
Beberapa tahun lalu, ada temen gue yang sukses banget di pekerjaannya. Dia sibuk berat. Dia mencintai lingkungan barunya. Ambisinya terus dikejar. SMS dari teman-teman lamanya nyaris nggak ada yang dia jawab, saking udah kecapekan ato begitu sibuk sama urusannya. Undangan dari temen-temennya nggak ada yang dia datengin, kecuali satu kawinan temen kami, yang bapaknya notabene klien dia. Singkatnya, dia "hilang" dari peredaran.
Roda berputar. Kantornya bangkrut. Konon bosnya tertipu (sinetron banget!). Dia jadi seperti hilang pegangan. Biasanya sibuk kerja, sekarang bengong. Biasanya lingkungannya ramai, sekarang kosong. Dia inget temen-temennya. Tapi dia nggak percaya diri menghubungi mereka. Soalnya dia baru sadar, bertahun-tahun nggak pernah nanggepin temen-temennya. Stress-nya pun nambah.
Lalu dia putus cinta. Badannya jadi kuruuuuus banget. Tetep nggak ada temen yang tau. Sampe akhirnya dia memberanikan diri menghubungi satu orang, orang yang dia pikir paling mungkin nerima orang yang bertahun-tahun mengacuhkannya. Singkat kata, beberapa teman akhirnya berkumpul dan nerima cerita dia. Akhirnya dia lega.
Cerita berakhir happy ending? No. Temen stress ini telanjur kecewa sama dunia. Dia berpikir negatif pada hampir semua orang. Dia mengira temen-temennya menganggap dia rendah. Akhirnya dia menyeleksi temen. Eh, belakangan, temen yang terseleksi juga dicurigain. Hasilnya, sekarang dia (kembali) ditinggalin orang-orang. Tragis.
Moral of the story tulisan ini adalah, kita selalu butuh orang lain.
Efek dari sikap kita ke orang, bisa balik ke kita kapan aja.
Kita baik sama orang lain, orang lain akan baik pada kita.
Kita cuekin orang lain, orang lain akan cuek sama kita. Pas kita butuh? Nah lo! Gak ada orang!
Jadi baik-baiklah pada orang lain, baik pikiran maupun perbuatan. (asal jangan lugu tentunyaaa).
Subscribe to:
Posts (Atom)