Saturday, November 02, 2019

Sudut Pandang Unik dalam Membuat Ide Cerita

Bagaimana cara mendapatkan ide cerita? Jawaban standar adalah perbanyak pengetahuan, bisa dari baca, nonton, diskusi, atau jalan-jalan. Tapi bagaimana jika sudah melakukan itu semua eh ide cerita tidak muncul juga? 

Saya yakin itu bukan karena ide tidak muncul. Sebenarnya itu lebih ke perasaan bahwa ide yang mampir kok rasanya tidak unik, tidak istimewa, dan tidak menarik. 

Bisa jadi memang tidak menarik (lalu saya menertawakan diri sendiri, dengan sedih). 

Lalu bagaimana biar ide cerita jadi menarik? Sejauh ini yang pernah saya lakukan adalah : 

1. Cari karakter yang unik 

a. Menabrakkan kondisi. 
Misal umurnya sudah banyak tapi kelakuan masih bocah, atau orang miskin tapi gaya sosialita, atau sok berani padahal penakut, atau tampang rambo hati rinto, atau si ramah ternyata psycho, dan banyak lagi. Intinya di satu karakter itu ada satu sifat dominan dan satu sifat kebalikannya (kontrasnya). 

b. Beri kebiasaan verbal/suara si karakter. 
Untuk audio visual seperti serial tv, film, atau series di medsos, 

Misal, dulu ada tokoh drama radio suka teriak "Alamakjaaan" (jebakan umur banget). Karakter yang suka berpantun juga menarik. Atau bikin karakter yang suka plesetan kata, dan orang lain terpancing untuk membetulkannya sampai level kesal pengen nabok. 

Kalau karakternya mau dihidupkan buat podcast atau film, bisa menambahkan bunyi aneh, misalnya ketawa babi (seperti Sasha di serial OB). Masih banyak lagi kebiasaan verbal yang bisa disematkan ke karakter yang kita bangun, carilah. 

c. Beri kebiasaan perilaku. 
Misal suka garuk-garuk pantat (ewwww). Atau kalau jalan jinjit, bisa karena ingin jadi penari balet atau karena jijik takut menginjak kuman. Bisa juga kebiasaan jadwal, misal jam 6.30 pagi sudah berdiri menunggu MRT di stasiun Lebak Bulus sambil komat kamit menghafal (atau merapal) sesuatu. 

d. Jangan lupakan status si karakter. 
Apakah dia seorang anak? Anak dari siapa? Apakah dia mahasiswa? Mahasiswa jurusan apa dan di kampus yang bagaimana? Apakah dia usia dewasa? Bekerja? Di mana dan sebagai apa? Atau tidak bekerja tapi punya kesibukan lain? 

Tentu saja karakter ini tidak akan semuanya ditulis di sinopsis atau premise. Ini latar belakang karakter si tokoh saja, supaya karakter kita berdimensi, untuk memudahkan juga kalau kita mau bikin aksi-reaksi dia terhadap sesuatu. 

Sebenarnya masih banyak lagi printilan untuk membangun sebuah karakter tokoh cerita. Tapi memaksimalkan yang di atas ini menurut saya juga sudah OK. 


2. Cari setting yang unik 

Bisa setting waktu, atau setting tempat. 

a. Setting waktu misalnya kisah jaman perjuangan kemerdekaan RI, kisah era 90an, atau kisah fantasi tentang masa depan. 

b. Setting tempat misalnya Mars, dasar samudra, Seoul, Purwokerto. Itu untuk tempat yang luas, yang bisa dieksplorasi lagi jadi lokasi yang lebih spesifik. Untuk tempat yang lebih kecil bisa kapal pesiar, rumah terpencil, tempat pemancingan ikan, bahkan ada set yang hanya lift atau bilik telpon (mesti perhatiin setting waktu juga). 


3. Cari konflik yang unik 

Konflik atau benturan kepentingan berguna untuk membuat penonton/pembaca penasaran. Bagaimana peningkatan masalahnya, bagaimana nanti akhirnya, itulah yang ditunggu-tunggu. Tanpa konflik, penonton/pembaca sulit bertahan menyimak cerita kita.

Cara mencari konflik. 

1). Tentukan konflik tokoh utama kita tuh menghadapi siapa. Apakah dia menghadapi diri sendiri? Atau dia menghadapi orang lain? Atau dia menghadapi alam (seperti film-film bencana alam)? Bisa juga dia menghadapi pemerintah, kekuatan supranatural, atau menghadapi apapun yang lebih powerful darinya.  

2). Pilih konflik yang hubungannya dekat dengan tokoh utama kita. Misal: 
  • kalau tokoh utama kita dokter hewan di sebuah kota kecil, maka konfliknya bisa berkaitan dengan hewan-hewan di sana, atau dengan masyarakat sana. 
  • jika tokoh utama kita perempuan single sandwich generation pekerja kantor, maka konfliknya bisa berkaitan dengan tekanan dunia kerja, tekanan ekonomi, dan/atau tekanan masyarakat terhadap perempuan single. 
  • jika tokoh utama kita laki-laki single punya anak (misalnya duda seperti di Train to Busan), maka konfliknya adalah hubungan dia dan anak, hubungan dia dan pekerjaan, dan kalau di Train to Busan ada konflik eksternal berupa sepasukan zombie yang menghalangi perjalanan dia mengantar anak ke tempat ibunya. 

3). Tentukan konflik eksternal dan internal si tokoh utama. 

Konflik eksternal adalah benturan kepentingan si tokoh utama dengan segala yang ada di luar dirinya. 
Sedangkan konflik internal adalah benturan kepentingan si tokoh utama dengan dirinya sendiri. Bisa juga disebut pergulatan batin. 

Contoh konflik eksternal, misalnya masalah dokter hewan dengan masyarakat sekitarnya. 
Contoh konflik internal, misalnya masalah si dokter hewan dengan keluarganya yang tak setuju pilihan karirnya yang membuat dia ngejomblo terus saking sering bergaul sama hewan. 


4). Cari konflik-konlik kecil yang meletus sebelum meledaknya konflik besar. 

Nah, ini memang perlu eksplorasi banget. Untuk konflik besar, kita harus mencari masalah yang besar. Misal konflik besarnya adalah "pernikahan pura-pura ini jangan sampai ketahuan orang lain". Nah ternyata ada konflik-konflik kecil yang menghiasi masalah besar ini. Bisa teman kepo yang punya feeling tajam, atau kejadian-kejadian yang bikin pernikahan yang mestinya pura-pura ini kok jadi ada perasaan mestinya ini pernikahan beneran. 



Wednesday, March 06, 2019

Kutipan Drakor

Apa yang ingin kamu katakan ke diri kamu sendiri?

Ini diambil dari drama Korea yang lagi diputar di negerinya sana, Romance is a Bonus Book.

Saat tokoh utamanya disuruh menulis apa yang ingin dia katakan ke dirinya sendiri..... inilah yang dia buat....



Dear Kang Dani (namanya si tokoh utama itu),  
We've already spent 37 years together. But you see, I still don't know you that well. So I plan to know more about you starting now.  
I know you've done your best, Dani. I'm sorry I didn't value you enough. I'm sorry I mistreated you. And... I'm sorry to let you feel small. I'm really sorry I've made you work so hard. It must have been hard for you. You've must have wanted to cry. But you've held out with a smile.  
Thanks for staying strong, Dani.  
And that's why... I want you to be happy from now on. Forget about yesterday. Live for today. Everyday, only think about your future. What do you want to do? And what do you like? Find the answers again. You have to, okay?  
Once again, you got this. Be victorious. You can do it.  
Stay strong until the end.  
(credit to penulis script-nya, dan translator-nya). 

Kang Dani, apakah kamu aku?? :))


Thursday, February 21, 2019

Emoh

Waktu kecil, saya denger ceramah (nama Ustadz-nya lupa), yang isinya kurang lebih, “Jadilah orang yang kedatangannya menyenangkan bagi yang didatangi. Jangan jadi orang yang pas kita datang, eh yang didatangin malah marah-marah meski dalam hati.”

Ini bukan tentang penagih utang yang datang ke rumah orang yang dia beri utang. Bukan. Meski orang berutang kalo didatangin penagih utangnya biasanya tidak senang padahal orang berutang itu seharusnya memenuhi hak orang yang dia pinjam. Di sini saya nggak ngomongin itu.

Saya mau cerita, ada orang yang dengan pembawaannya sendiri, bikin orang lain tidak nyaman. Jangankan kalau dia benar-benar datang. Baru kabar hendak datang pun sudah bikin orang lain kepanasan. Beberapa orang di sekitar saya ada yang begitu. Saya ingin tau kenapa.

Semoga ini bisa buat pembelajaran saya sendiri.

Setelah mengamati, saya mengambil kesimpulan, orang-orang yang kedatangannya bikin orang lain tidak nyaman dan tidak senang adalah:

  1. Orang yang tidak sopan. 
  2. Orang yang mengeluh melulu. Entah karena tidak bersyukur, atau karena zona nyamannya ya mengeluh. FYI, mengeluh itu energi-nya negatif. Energi negatif itu melelahkan, dan menular juga. Tolong jangan bikin orang lain lelah dengan energi negatif itu.
  3. Orang yang tidak mengeluh, tapi ketahuan punya masalah, dan mau minta tolong kita padahal kita sendiri lagi susah. Energi negatif-nya itu lho… tetap terasa. 
  4. Orang yang terlalu antusias, tapi tidak mampu membuat kita ikut antusias melainkan bikin kita risih. Tapi kok ya nggak nyadar. Hmmmm. 
  5. Orang yang tidak bawa manfaat dalam arti luas. 

Dengan menyadari situasi yang bikin orang nggak nyaman itu, saya merasa perlu melatih diri supaya terhindar dari situasi tersebut.  
  1. Selalu bersifat sopan, baik tingkah maupun lisan. 
  2. Selalu bersyukur. Dan selalu berusaha jadi lebih baik, lebih mantap, lebih keren, lebih setrong. (lalu makin banyak yang bisa kita sukuri).
  3. Selalu berpikir positif. Lihat dari sudut pandang positif. Jangan lupa senyum. Sudah terbukti: Kalau kita senyum, yang tulus, susah lho berpikir negatif. Coba deh senyum sekarang. Yang tulus. Ketika senyum begitu, coba pikirin hal jelek. Bisakah? Kalo pun bisa, tahan berapa lama?? :) 
  4. Tidak mengukur orang lain dengan situasi diri sendiri, tapi ukurlah dengan situasi orang tersebut. (Ini di luar urusan kerjaan ya. Professional itu bahasan lain). 
  5. Berusaha jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, sesuai yang kita bisa. 

Terus, kalau udah terlanjur didatangin orang yang bikin kita nggak nyaman, mesti gimana? Ya tiap orang beda-beda caranya. Kalau saya: 
  1. Ramah. Tapi tidak welcome (ngerti lah ya maksudnya). 
  2. Cepat pergi. 
  3. Mendoakan semoga masalah dia cepat selesai dengan baik. 
  4. Mendoakan semoga dia tak lagi jadi masalah bagi orang lain, sebaliknya, dia jadi orang yang bermanfaat untuk yang lain.

Semoga dengan begini sama-sama enak ya. 


Wednesday, October 24, 2018

Ide Cerita yang Menjual

Ide cerita ada di mana-mana. Bener. Tinggal petik. Bener. Tapi untuk menyusun ide cerita yang besar dan laku, ada formulanya. 

Gue akan copas sejumput uraian dari blog Screenwriting Training. Uraian aslinya ada di sini https://www.patreon.com/posts/22176997. Di tulisan ini ide cerita disebut premise (alias cerita tentang apa). Jadi kalau baca kata premise, mengacu ke ide cerita ya. Yang dibahas adalah premise yang high-concept (alias besar dan laku). Beberapa highlightnya sila disimak di bawah ini.  

 

A high concept is a story premise that fits the following requirements:
a) It's unique; b) It appeals to a wide audience; c) It can be said in one sentence, and you can imagine the whole movie (or the entire novel, if you write not for screen). 

Dengan menyebut ide cerita itu dalam satu kalimat, lantas orang yang denger langsung antusias, tertarik, penasaran, pengen tau detilnya, kepo sama endingnya, bahkan kalo bisa tercengang dengan moral of the story-nya.... itulah high concept story.  


High concept story itu harus pas banget, tepat sasaran, ke target penontonnya. 
“Jurassic Park” is high-concept, too, for the same reason: it is clear to its intended audience. And so is “Sharknado” or “Snakes on a Plane” or “Grand Piano” (a sniper threatens to shoot a pianist if during a concert he plays one wrong note). For those hypothetical people who don’t know what a “sniper” and “piano” are, “Grand Piano” as a concept makes zero sense.
Toddlers, for example, wouldn’t respond with genuine enthusiasm to the concept of “Grand Piano” – they are not the target audience; but they would instantly recognize “Finding Nemo” as high concept! “Finding Nemo” is much higher concept than “Grand Piano” – because even a toddler can understand it. (“Peppa the Pig”, however, is not high-concept; it’s a character-driven story.)
Kalimatnya harus SEDERHANA! Yang sangat mudah dipahami. Mau temanya bukan yang sehari-hari macam manusia robot atau kehancuran dunia, tetap premis-nya harus disusun dalam kalimat SEDERHANA. 


Di beberapa referensi (udah lupa dari mana aja, banyak deh pokoknya, baik internet maupun seminar), premise itu bisa dirumuskan begini: 
Premis: seseorang yang unik - ingin sesuatu yang di luar kemampuannya atau di luar normanya. 
Kalau mau lebih lengkap lagi: 
Premis: seseorang yang unik - ingin sesuatu yang di luar kemampuannya atau di luar normanya - lalu dia menemukan hambatan yang luar biasa atau aneh.  

Di bawah ini ada beberapa contoh premis dari tulisan di blog screenwriting training tadi: 
A helpless Broadway ingĂ©nue drives a powerful alpha male mad with desire, and then to his doom: to the violent death by machine-gun and fall from the top of the world's tallest skyscraper… oh, and the alpha male happens to be a 60-feet tall prehistoric gorilla ("King Kong").
A chief of police, terrified of water, must battle and defeat the largest known specimen of the most ancient, most powerful water predator: a great white shark from hell ("Jaws"). 
A powerless woman must survive the catastrophe of the world's largest transatlantic steamer – and find new, meaningful life ("Titanic"). 
A man with debilitating memory loss must put together crumbling clues he can't remember, in order to solve the unsolvable murder of his wife ("Memento").
A tiny, peace-loving humanoid creature must travel the world and defeat the most powerful ancient superhuman evil that ever existed – in its stronghold, guarded by armies of vicious monsters ("Lord of the Ring").
A tinyfish must cross the ocean and rescue his son from a fish tank on the other side of the world (“Finding Nemo”). 
An abused orphaned teenager discovers that he’s a wizard whose destiny is to defeat the world’s most potent and feared dark wizard (“Harry Potter”).  
An aging priest must battle his ultimate enemy: Devil himself, and the only way to win is to allow Devil to possess him ("The Exorcist").
Ternyata eh ternyata, semua premise yang disebut di atas itu ada KESAMAANNYA. 
      Biggest ship in the world to ever sink; a giant ape falling from the world's tallest skyscraper; the world’s tallest skyscraper on fire; the largest and oldest water predator; an unsolvable murder mystery must be solved by someone who can't solve the mystery where he put his toothbrush 30 seconds ago; biggest and most dangerous supernatural evil entity – in Middle-Earth or in the entire Christendom – etc.
         Every one of these concepts describes something extreme: the giant ape; the tallest skyscraper; the biggest ship; the outsized shark; a fish tank in a house on the other side of a huge ocean. Usually this is counterbalanced by extremely vulnerable hero or heroine: the cop who can't swim; a tiny hobbit creature; a helpless damsel in distress; an aging pastor. 


Gimana caranya bikin high concept story dari usual concept story? 

Gampang. Taroh tokoh utama di situasi yang sangat di luar kemampuannya. Kontraskan bener-bener kondisi tokoh utama dengan situasi dia saat dia sangat menginginkan sesuatu. 
“A young woman must survive the sinking of a small boat” wouldn’t be a high-concept story: the fact that it’s the largest passenger ship is what makes it high concept. But if we absolutely had to have a story about a small boat – no problem: we’ll just have to have a small kid stuck on that boat in the middle of the ocean, in the company of an enormous vicious tiger (“Life of Pi”).
“An aging pastor must confront a sinner face to face”: not a high concept, but “an aging pastor must battle the Devil by becoming possessed” is. “A suburban two-story house is on fire”: not a high concept; but “the world’s tallest skyscraper on fire” is.
Or some examples from TV. “A loser chemistry teacher finds out he has lung cancer”: not a high concept. But “A loser chemistry teacher finds out he has the terminal lung cancer, and discovers his unlikely true purpose in becoming the most powerful and feared drug lord in America” – is a high-concept story. 
“A charming asshole advertising executive deals with identity crisis”: not a high-concept. But: “A son of a whore (literally) assumes a stolen identity to refashion himself as a charming asshole advertising executive – and ends up finding self-respect and creating the world's most famous advertising campaign” is (“Mad Men”).
A high concept must describe an extraordinary situation; something in it must be taken beyond the extreme. Maximum polarization of the dramatic conflict has to be present. A small car being chased by a huge semi ("Duel"); a failed boxer must go the distance against the world heavyweight champion ("Rocky"); an old guy who can't drive a car takes his lawn mower across several states to meet his old estranged brother ("Straight Story"); a small kid left home alone must defend his house and survive in a cat-and-mouse game against a duo of adult career criminals holding him under siege ("Home Alone"); a shy, submissive math teacher must defend his house against the invasion of an army of brutal bullies ("Straw Dogs") - in all cases, the adversity is polarized and there seems to be no way the hero can win. 

Jika ada situasi yang biasa-biasa aja, jadikan gak biasa. Tentu saja dengan cara yang masuk akal. 
A scientist discovers a way to bring dinosaurs back to life via DNA found in the stomach of a prehistoric mosquito preserved in amber. Science is what makes it plausible.
The largest ship in the world sinks, and a helpless girl must survive the sinking: this is based on a true story; and the producer went to greatest lengths to amplify plausibility through excruciatingly meticulous historic and technical details.
A chemistry teacher transforms into the most relentless drug lord in America – here, too, science (his expertise in chemistry) is what makes it plausible ("Breaking Bad").
"Mad Men" are set against the backdrop of real events of historic 1960's America, and so is "11/22/63" (Stephen King's novel based on the high-concept idea about a man who goes back in time to prevent the most famous political assassination in US history).
A Princeton math professor must overcome the world's most widespread and debilitating mental illness: schizophrenia – and become a great husband, father, teacher and one of the world top mathematicians, a winner of the Nobel prize in math. Simple? Check. Extreme adversity against the impossible odds, making it implausible? Check. Made plausible through science and being based on true story? Check. Conclusion: this is a high-concept story ("A Beautiful Mind"). It's also extremely specific. Not “a guy battles mental illness” but “a Princeton professor battles schizophrenia”. Which is another key element of a proper high concept. It must be expressed as specifically as possible. 

Ringkasnya, untuk bikin ide cerita yang high concept perlu: 
1. Make the concept simple, to be easily understood by the widest target audience. 2. Take it beyond extreme, by polarizing the adversity to the point of implausible. 3. Make the implausible seem plausible. 4. Be specific. 5. (Optionally), offer an unfamiliar view of something very familiar.

Mari kita coba. Fighting! 

Sunday, September 30, 2018

Maunya Apa

Minta bikin plot sampe habis, di tengah2 diganti.
Bikin plot lagi sampe habis, belum dibaca sampai habis, udah minta ganti di tengah.
Mending kalo gantinya bisa diterusin lika likunya panjang. Kalo nggak??

Nggak abis pikir sama orang yang baca plot gue main delete banyak scene padahal itu scene kuncian, yang akan dilanjut ke episode2 berikutnya.

Setelah scene2 itu didelete, kosong deh episode itu. Cerita jadi nggak bersisa. Mau cerita tentang apa, coba? Nggak ada. Akhirnya cerita yang ada ditarik-tarik, jadi dragging.

Yang parah, next episodes yang udah ditulis plotnya pun sekarang ikutan kosong. Lha wong kuncian2 ceritanya dihapus semua, jadi nggak ada yang bisa diterusin.

Mana nggak ngasih saran mesti diganti apa.

Ujung-ujungnya, kuncian yang udah dihapus diminta dibalikin lagi, padahal cerita udah dibongkar. 

Hedeeeeuuh. 

Wednesday, September 06, 2017

Current Watching

"Film-film lo kan film-film jadul." someone said. Iya juga sih. Film jadul, terutama series jadul yang gue tonton tu di mata gue masih bagus2 aja, yang sitkom juga masih lucu meski cara ngebangun kelucuan dan naroh punch-nya beda dengan cara ngelucu kekinian yang menurut gue lebih ke skecth (bahkan lebih pendek lagi). Tapi yang lebih penting dari semua itu, nonton series jadul bikin gue nostalgia masa kecil dengan segala kebahagiaan di tengah kekurangannya.

Berkat internet, gue bisa nonton lagi series jadul ini:


Sumber dari sini 

Gue masih nyari Seeing Things, serial komedi detektif Kanada yang tahunnya lebih jadul lagi. Mungkin taun 80an. Itu kesukaan emak gue, dan gue nonton itu waktu masih kecil - jadi gue lupa apa yang gue tonton. Gue pengen nonton karena pengen tau kenapa dulu emak gue suka banget sama series itu. Plus kalo cerita detektif ya biasanya sih gue seneng-seneng aja ngikutin.

Dan gue lagi tunggu kesempatan buat nonton lagi:
Hart to Hart  (serial detektif kesukaan bokap nyokap)
Just Shoot Me (bukan cerita detektif tapi cerita tentang orang2 di sebuah kantor majalah).
Love Boat (sitkom siang di RCTI yg di tahun 90an aja udah terlihat kejadulannya).

Kalo serial baru? Ng.... gue bukan penunggu serial (Hollywood) baru. gue nunggu dikasih tau temen2 aja deh bagusnya suruh nonton apaan. :))

Please please please.... kalo film baru film Indonesia nonton di bioskop aja yah. Capek tau bikin film tuh. Kalo langsung ditungguin di internet rasanya gimanaaaa gitu. (#cedih).



Friday, June 30, 2017

Jumpalitan Bareng ANGRY BOSS

Berkat "teror" :) teman baik mantan produser Pondok Pak Cus, akhirnya gue mencemplungkan diri di project sitkom ini. Jadilah gue jumpalitan antara The East dan Angry Boss. Dua-duanya jadi headwriter. Mejret, pusing, makin kurang tidur, tapi dinikmati aja. Alhamdulillah.

Sayang, Angry Boss yang diproduksi MD Entertainment dan tayang di Trans TV ini cuman 16 episode. Bungkus sebelum lebaran 2017.

Padahal menurut gw dan tim, serial ini lucu banget. Tim penulis makin terbentuk tulisan komedinya. Kerjasama dengan tim produksi juga manis dan seru. Pemainnya asik dan gila-gila, sampe susah nentuin pemain favorit, dari si Boss, Incess, Ella, Khey, dst bahkan sampai supirnya. Mana semakin lama semakin gesrek pula mereka.

Nasib... belum rejeki jadi serial panjang ya.

Trailer:

Tetep bersyukur ada sitkom ini. Gak cuman untuk penyegaran otak dari kepusingan jadi penulis The East, tapi juga senaaaaang karena reuni tim Pondok Pak Cus extended version, dan tentu saja nambah rejeki.

Ini episode 1 Angry Boss yang naskahnya sampe draft 5, dan retake 2x, preview 3x sampe eneg. Wkwkwkkwww. Kalau mau nonton episode-episode selanjutnya tinggal ditelusuri di youtube. Enjoy!