Thursday, June 27, 2013

Foto Favorit Bulan Ini


Keponakan gw, Gifa (7th), lagi cerita ke Puti tentang tes akhirnya di sekolah. Saat itu Puti lagi nginep di rumahnya, khusus nemenin belajar untuk persiapan tes akhir.  

Menyenangkan ya, ketika banyak hal bisa diceritain ke orang tersayang.... :)

(Foto pake BB Torch1)

Mengatasi "Penyakit" Susah Konsentrasi dan Bosanan

--diambil dari kompas.com, link-nya ilang (mungkin yg paling bawah itu link-nya)--.

Kamis, 4 Oktober 2012 | 19:45 WIB

Ketika Anda sedang merasa bosan, maka yang terjadi adalah Anda akan susah untuk berkonsentrasi.

T:
Bu Ainy, bagaimana mengatasi "penyakit" susah konsentrasi dan rasa bosan? Dua rasa ini selalu mengganggu aktivitas saya sehari-hari, dan menyebabkan saya menjadi malas. Terima kasih, Bu Ainy, (Ukie Safitry, 20)

J:
Mbak Ukie yang budiman, Memang, susah konsentrasi dan rasa bosan adalah dua kondisi yang
sangat merugikan diri kita. Dua kondisi ini sebenarnya saling berhubungan. Masing-masing bisa menjadi penyebabnya. Artinya, ketika Anda sedang merasa bosan, maka yang terjadi adalah Anda akan susah untuk berkonsentrasi. Demikian halnya jika Anda susah konsentrasi.

Ketika Anda merasa susah untuk berkonsentrasi, maka dengan sendirinya Anda akan mudah merasa bosan.

Lantas apa yang perlu Anda lakukan agar menjadi mudah konsentrasi dan jauh dari rasa bosan? 

PERTAMA - Kenali penyebabnya. 

Ada dua kemungkinan penyebab gangguan tersebut.

Pertama, kemungkinan Anda memikirkan hal lain daripada memikirkan pekerjaan Anda saat itu. 
Kedua, Anda merasa tidak senang dengan apa yang Anda lakukan saat itu. Rasa tidak senang Anda pada suatu pekerjaan akan membuat Anda jengkel atau terpaksa saat melakukannya. Alhasil, fokus Anda terganggu, dan rasa bosan pun menumbuh.

Artinya, mengingat kembali apa sajakah yang Anda lakukan saat melakukan pekerjaan tersebut? Benarkah Anda saat itu benar-benar memikirkan pekerjaan yang saat itu Anda lakukan, atau justru
memikirkan hal atau masalah lain? Jika jawabannya adalah Anda telah memikirkan hal-hal lain daripada memikirkan pekerjaan Anda saat itu, maka inilah penyebabnya.

KEDUA - Lakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati. 

Melakukan pekerjaan apa pun dengan sepenuh hati akan membuat diri Anda merasa bahagia luar
biasa. Anda tahu mengapa? Karena ketika Anda melakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati, Anda akan merasa senang karenanya. Berita baiknya, Anda akan semakin mudah konsentrasi.

KETIGA - Bayangkan manfaat pekerjaan yang Anda lakukan, baik manfaat buat Anda maupun orang lain. 

Bayangkan senyum bahagia mereka yang menerima manfaat dari apa yang Anda lakukan. Lalu ucapkan puji syukur Alhamdulillah, karena Anda bisa melakukannya. Lakukan ini berkali-kali tanpa henti.

Rahasia untuk konsentrasi dan hidup penuh semangat tanpa ada rasa bosan adalah MEMASTIKAN SETIAP APA YANG KITA LAKUKAN MEMBERI MANFAAT KEPADA ORANG BANYAK. Memastikan kita MELAKUKANNYA DENGAN TULUS IKHLAS, sepenuh hati. Memastikan kita terus melakukannya tanpa pamrih.

Selamat melangkah dan menjadi pribadi yang fokus dan penuh semangat!

Ainy Fauziyah, CPC
Leadership Motivator & Coach
Penulis buku best seller "Dahsyatnya Kemauan"
http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/03/1056472/twitter.com

Tuesday, May 21, 2013

Foto Favorit Bulan Ini


Beberapa hari lalu, keponakan bungsu gw, Sophie (2,5thn) mesti opname di RS. Gara-garanya dia pecicilan, trus... BUK! kepleset, jatuh, dan bibirnya kena ujung kursi besi sampai sobek. Alhasil, bibir Sophie harus dijahit. Operasi kecil deh.

Gambar ini diambil beberapa menit sebelum operasi. Eyang Putri-nya Sophie (alias nyokap gw) ceritanya mau menghibur dia. Tp malah dia yang menghibur Eyang Puti dengan mengoceh tentang Kisah 3 Babi Kecil.

Akrab banget ya, cucu sama Puti-nya... :)

Sunday, April 21, 2013

How You See Yourself

Gue baru liat iklan Dove, dan gue sangat suka dengan kedalaman pesannya.
Juga story-tellingnya.
Dan gue percaya, elo yang nonton iklan ini nemuin insight juga di sini....
Selamat merenung.




Tuesday, April 16, 2013

Your Hero: Top Ten Rules (Expanded) – Character Roles

http://thescriptlab.com/screenwriting/character/character-roles/959-your-hero-top-ten-rules-expanded

The most important character in your screenplay is your protagonist: your hero. Without her, there is no story. But when creating that unforgettable protagonist, you must know the entire iceberg, so follow these Ten Key Rules (now with expanded explanations), and you'll sculpt a hero that breaks the mold.

1. You must create an interesting protagonist, one that your audience will want to watch, hope, and fear for.
Heroes We Hope and Fear For
When creating your hero, audience connection is key. Your hero needs to be an interesting somebody who wants something badly and is having trouble getting it, AND also a somebody that the audience cares about – somebody they hope will obtain the main objective but fear the goal will be thwarted – by external forces or by the hero him/herself.

2. We don't have to feel sympathetic toward him/her (although it is a great help), but we must at the very least feelempathy.
Sympathy vs. Empathy
Creating a hero that we feel sympathetic toward is a HUGE help. It's almost impossible not to care if we feel sorry for someone else's misfortune, not to mention that sympathy often equates to likability – and a likeable hero is easy to hope and pray for. However, sympathy is not the essential ingredient. Empathy is the key. Not every hero is likeable or should be; there are many heroes (or antiheroes) that we dislike, but we stay with them because we're able to understand why they do as they do. In the film Monster (2003), for example, Aileen Wuornos (Charlize Theron) is a serial killer. Clearly, we should not like what she does nor condone her cold-blooded killings, but because we can empathize with the realities of her cruel childhood plagued by profound abuse, we hope she will be able to survive none the less.

3. We love to see characters acting bravely, so it is not only what the character is trying to accomplish that makes us cheer for him or her, but it's the lengths he/she is willing to go to get it. Make sure the lengths are far. We want a journey.
Acting Bravely
We fear protagonists will succumb to their weaknesses, but we hope that they will act bravely under extraordinary circumstances. There are few things more enjoyable for the audience than to see the ordinary protagonist thrust into an extraordinary situation and overcome insurmountable odds by simply just being brave.

4. Know your main character. His/her dreams, wants, and desires must be there on page one. Ask how we identify with, relate to, or are fascinated with him/her.
Know the Dream/Goal
This is more than just knowing the hero's main objective –that is, the pursuit of what your protagonist is trying to accomplish that gives shape to plotting the main story of the film. You must know every dream, want, and desire. Take, for example, an action film in which your hero is on a life and death pursuit to rescue his abducted daughter, the main objective is obvious, but what about all the other goals: does he regret the past and promise to be a better father, does he secretly wish for acceptance, or is it something more tangible, like the desire to take his daughter to a Yankee game for the first time? The more you understand what your hero wants – both internal and external – the easier it will be for your audience to champion his causes.

5. A central character cannot exist without conflict.Make sure you have enough obstacles (internal and external) that your character must face.
Conflict Is Bliss
Right when the audience thinks it can't get worse for your character(s), it gets worse; and when there is absolutely no way the situation can get more severe, it does; and finally, when there is no possibility things can deteriorate even more, it rains. It always rains. But the bestconflict occurs because of a character's own flaws: hubris, doubt, narcissism, jealousy, overconfidence, etc. because it is with the character's own flaw(s) that will get him or her into even more trouble, and self-induced trouble is a recipe for success.

6. Your main character must have a weakness (hopefully many). They are often oblivious of these weaknesses, or in denial, or constantly trying to hide from themselves.
Creating Weaknesses
Just as the best villains are the ones who are layered and complex – bad guys in whom the audience can empathize with – the same rule applies to your hero. When your hero is truly "good" in all situations, he is set and stony and not very interesting. We have no reason to fear for him because we know he will always do the right thing. However, if you establish early on that your hero has weaknesses (hopefully many) and is even oblivious of these weaknesses, or in denial, or constantly trying to hide them, then it's easy for your audience to fear.

7. Attack your main character at his/her weakest spot, and he/she will show things about him/herself that he/she doesn't want to reveal.
Attack! Go For the Jugular
And when you do this, really go for it. Hit your hero at his or her weakest spots, because when you corner your characters, and I mean really squeeze them, they will reveal things about themselves that you never even knew existed. And when characters are forced to reveal things they are unwilling to share – deep secrets and psychological scars – conflict is abundant, rich with emotion, and those are the scenes we want to see.

8. Your main character should not be aware of the full dimensions of thetheme atthe beginning of the story, but he/she will learn.
Character Awareness
Every action has a reaction, and nothing is as easy as it seems. The reality is that situations are complicated, especially what's beneath the surface, and even though it is obvious that your hero must be aware of the main objective, it is usually a mistake if your hero is aware of the full dimensions of the theme at the beginning of the story. It's okay for your audience to see the big picture (or not); sometimes you want your audience to discover along with your hero. But regardless of the creative decisions you make as to what the audience knows and when, it is important that your hero learns along the way. The theme – and its implications – should be revealed on your hero's journey.

9. Think of your main character unfavorably. This will make them believable and more human.
Thinking Unfavorably
This can take some practice, especially if you really love your character, but try to think of your protagonist unfavorably. The application of this approach will make them very real – because we all know that real people are incredibly flawed and do some pretty ugly things. To put it another way, when you like someone, it's often quite hard to look at their actions without a bias in their favor, and that lack of truthful insight can create an unattainable illusion, but if you erase that positive bias, you will immediately make your protagonist very human and more believable.

10. Change. Make sure your characters learn as they go. How does he change? What does she learn? How is he/she becoming someone different?
Character Arc: Growth vs. Change
By the end of his or her journey, your hero should be different because of the experience. If you don't show the possibility of moral transformation or an increase in wisdom in your protagonist(s), there really is no point in writing the screenplay at all, because one of the most fundamental human principles is that human beings do have the capacity to change. This is the character arc. But is there a difference between growth and change? I say yes; it's not just semantics. Knowledge is growth, but acting upon that knowledge is change. You need at least one.

Wednesday, April 10, 2013

Ngeblog via Email

Kebutuhan dan keinginan mendorong seseorang untuk bertindak dan belajar....

Gak usah jauh-jauh. Gw ingin ngeblog via email. Biar lebih praktis. Jadi tengah malam ini gw langsung buka mbah Google dan taraaaaaaa banyak blog yang mengajarkan itu.

Caranya gampang. Tinggal masuk ke DASHBOARD, klik SETTINGS, lalu klik MOBILE AND EMAIL, trus isi alamat email dengan format: namablog.*****@blogger.com. Bintang-bintang itu isi sendiri, jadi deh sebuah alamat email. Nanti kalau mau mengisi blog via email, tinggal kirim surat ke alamat tersebut. Otomatis judul emailnya akan jadi judul posting, dan isi emailnya jadi isi posting.

Dan ini adalah percobaannya. Contoh gambar yang gw upload di sini adalah bagan karakter salah satu mini seri gw bersama scriptwriter Raha Kurnia.

Next, gw mau bikin tabulasi di blog gw ini. Dulu pernah donlot video tutorialnya, tp sebelum gw tonton, laptop gw matot alias mati total. Hard disknya kebakar. Hilang deh itu video tutorial.

Setelah itu, gw ingin bisa nulis lagu yang liriknya "ini lagu gueeeee" kalo kata pemirsanya.

Setelah itu, gw ingin jago Caustic 2.

Setelah itu... *ugh, makin sadar kalo makin tuwir makin banyak keinginan*

Wednesday, March 27, 2013

Dorama Rasa Korea

Lama nggak nonton dorama Jepang, akhirnya gue mantengin "Rich Man, Poor Woman", dalam tiga hari tamat 11 episode.

Jujur, awalnya waktu baca judul yang berbahasa Inggris, gue pikir ini serial Korea. Serial Jepang kan biasanya tetap dipampang pake bahasa Jepang, meski ditulis pake huruf latin.

Buat yang pengen tau gimana kerja di perusahaan IT yang funky, di sini ada gambarannya. Yang pengen tau serunya dunia pembuat program / aplikasi komputer, di sini ada gambarannya.

Tapi buat gue, daya tarik pertama dorama bergenre komedi romantis ini adalah judulnya. "Rich Man, Poor Woman" menyiratkan Cinderella Story. Cewek miskin ketemu cowok kaya, akhirnya si cowok kaya jatuh cinta. Ini formula konflik yang sangat digemari penonton (terutama cewek) yang senang bermimpi. :)) Gue pikir seru nih buat dipelajarin. Sekalian juga pengen mimpi aaaaaaaah.

And you know what.... Oguri Shun si tokoh utama di sini bener-bener jadi cowok impian. Muda, sukses, jenius, ganteng, ambisius, drop out sekolah tapi berhasil membangun perusahaan IT yang maju, cewek-cewek di kantor dan di mana aja terpesona liat dia, tapiiiii... dia cuek sama cewek. Hahahaaa. Tipikal karakter di drama Korea.

Sedangkan ceweknya, si Ishihara Satomi, adalah cewek miskin, lulusan Universitas Tokyo, yang struggling cari kerja, termasuk ke perusahaannya Oguri Shun. Langsung kebayang kan, love-line alias jalinan kisah cintanya gimana? :)

Dengan dua karakter itu aja, gue langsung inget sama drama-drama Korea dengan tipe karakter mirip. Misal, Protect The Boss (di mana Choi Kang Hee si cewek miskin nyaris ditolak masuk di perusahaannya Jisung si cowok kaya), atau Wild Romance (Lee Si-Young si cewek miskin berantem sama Lee Dong Wook si atlet kaya tapi akhirnya jadi bodyguardnya ), atau King of Dramas (di mana Jung Ryu-Won si cewek miskin yang struggling jadi penulis drama, harus berjuang bikin naskah yang bagus sekaligus menundukkan kerasnya hati Kim Kyung Min si produser bertangan dingin tapi berhati beku).

Wuuuih, dorama rasa Korea! 

Alur cerita Rich Man Poor Woman ternyata cepet bo. Gue pikir di episode 1 akan lambat kayak dorama-dorama yang pernah gue tonton. Ternyata ngebut, scene-nya pendek-pendek, penuh kejadian, sambung menyambung, banyak karakter yang diperkenalkan dan dibangun, tapi semuanya tetep kembalinya ke dua karakter utama tadi... Oguri Shun sama Ishihara. Cepatnya alur episode 1 ini mengingatkan gue sama serial Korea yang rata-rata ngebut di episode perdana.

Yang juga mengingatkan gue sama serial Korea adalah set-nya. Mewah buanget! Sedan sport si Oguri Shun itu gonta ganti. Set kantornya kayak lounge hotel bintang lima, tapi seru kayak cafe. Hi-tech dengan giant screen di mana-mana. Tentu saja kos-an si cewek sederhana banget. Tapi mewahnya set si Oguri bener-bener nggak gue sangka. Emangnya ada sponsor yah? Gue pikir cuman serial Korea yang bisa bermewah-mewah dengan banyaknya iklan hardsale (product placement).

Dan sori kalo loncat ke episode final... bocoran dikit... ada segmen yang sangaaaaaaat Korea (kecampur Hollywood). Kalo mau tau apa yang gue maksud, tonton lah sendiri. Hueheheheee.

Trus apa yang rasa Jepang di dorama ini? 

Ini menurut gue lho ya.... Meski konfliknya besar (bisnis dan jati diri plus nyari ibu), tapi ceritanya nggak mendayu-dayu atau dilebay-lebayin kayak di serial Korea. Di dorama ini gue nggak nemuin karakter yang jahat-nya tuh jahaaaaaaaaattt sampe pengen gue gampar. Persaingan cinta nggak pake potong-potongan jalan, tapi dihadapi dengan wajar (dan menurut gue ini lebih riil).

Si cewek, alias Ishihara, digambarkan clumsy. Tapi ekspresi, suara dan tingkah lakunya sangat lemah lembut dan takut-takut, nggak kayak cewek-cewek clumsy serial Korea yang digambarkan pencilakan. Entah kenapa, gue selalu berpikir kalau komediknya Korea itu salah satu andalannya adalah cewek pencilakan. Sementara karakter cewek di dorama Jepang nggak pencilakan. (meski menurut gue karakter duodol dan pencilakan paling top dan jadi benchmark adalah Aiko Sato di Itazura na Kiss, dorama tahun 1996).

Overall, dorama ini bagus. Ringan. Seger di mata, seger di hati terutama hati pemimpi. Hahahaaa.

Dorama ini nyeritain bahwa meski lo sekolah tinggi-tinggi, nggak jaminan gampang cari kerja! Orang drop out bisa sukses kok. Dan orang drop out yang sukses bisa menghina-hina lulusan universitas sebagai contoh hasil pendidikan yang gagal. Nah lho!!

Si Oguri Shun boleh aja maki-maki anak buahnya yang dia nilai nggak becus. Tapi dia konsekuen, dia bikin konsep sendiri, dia bikin program, dia lembur 2 hari 2 malem. Sampe akhirnya program siap dan hasilnya jauh lebih mengesankan daripada bikinan anak-anak buahnya itu. Si Ishihara yang dihina-hina Oguri juga nggak kalah sinting. Dokumen setebel-tebel bantal dia lalap semalaman supaya dapet pengetahuan untuk ngobrol sama seorang penanam modal. Strategi Oguri agar penanam modal yang susah didekati akhirnya mau invest pun diperlihatkan. Artinya, di film ini digambarkan kalau sukses itu kuncinya kerja keras dan kerja cerdas. Keren!

Matsumoto Jun di balik layar

Surprise juga gue baca nama Matsumoto Jun sebagai produser. Gue kira cowok imut itu artis doang, plus penyanyi sama boyband-nya, Arashi. Emang sih dia artis top banget. Tapi dengan tampang imutnya, nggak ngira aja dia juga bisa jadi produser. Hahahahaa, sori Jun-chan.

MatsuJun dan Oguri Shun itu pernah kerjasama sebagai pemain. Tahun 2002 mereka main bareng di Gokusen. Trus tahun 2005, mereka jadi anggota F4 di Hana Yori Dango (pendahulunya Boys Before Flowers). Sempat juga ada judul Wagaya no Rekishi, tapi Oguri hanya jadi bintang tamu. Di semuanya itu MatsuJun yang jadi peran utama.

Oguri Shun sendiri terakhir gue liat di Detective Conan Live Action. Dia nggak mengesankan di situ. Kalo di Rich Man Poor Woman sih okesip banget. :))

--O--

Credit foto

Friday, March 08, 2013

Nggak Mau Kehilangan Momen

"Nggak mau kehilangan momen," adalah alasan Mama kalo tetap ngurusin Eyang Putri meski Mama udah kecapekan.

Usia Mama 59 tahun. Eyang Putri 78 tahun. Mama sudah pensiun, tapi masih ngajar Bahasa Inggris 2 kelas seminggu biar nggak tumpul, plus les ngaji 2 kali seminggu, plus bolak balik ke rumah kakak untuk nginep dan main sama 3 cucu yang lagi lucu-lucunya. Eyang Putri? Udah hampir 5 bergantung 95% pada orang lain (baca: suster yang dikontrak untuk mendampinginya hampir 24/7). Eyang Putri tinggal di rumah Om, salah satu adik Mama. Sehari-harinya... sama Suster. (Makasih Om dan Tante yang ketempatan Eyang. Semoga besarnya pengorbanan merawat ortu renta di rumah memperbesar rizki).

Balik lagi ke Mama....

Mama selalu kepikiran Eyang Putri. Eyang Putri ditinggal-tinggal Suster nggak ya? (secara udah pasrah tiduran mulu). Sering diajak ngobrol nggak? (secara Eyang Putri udah diem melulu). Apakah formulir kontrol yang Mama bikin (nyontek dari RS) terisi bener ato asal-asalan? Siapa aja yang sering jenguk Eyang? (pertanyaan terakhir selalu jadi misteri, bukan misteri siapa yang jenguk, melainkan misteri siapa yang mau menyempatkan waktunya untuk jenguk).

Karena selalu kepikiran, maka Mama selalu bela-belain nengok Eyang. Pagi nengok, malem nengok. Kadang pagi nengok, siang tetep di situ, sore masih di situ, malem baru pulang. Ayah sampe sebel karena merasa dicuekin. Hihihiiii.Sementara Mama merasa udah minta ijin.

Kalo waktunya Eyang Putri cek up ke RS, Mama akan pusing. Mama sibuk ngatur hari dan jam berapa Eyang Putri ke RS, siapa anggota keluarga yang akan nemenin (jangan cuman sama suster),  ngatur catatan, uang yang akan keluar, juga urusan pendaftaran pasien di hari H. Biasanya sih end up-nya yang nganter Mama sendiri (sama Ayah), gue, atau ada lagi salah satu adik Mama yang rumahnya dekat rumah kami. Orang lainnya paling supirnya Om atau suster.  

Suster juga ngasih PR. Kalo dia minta cuti, pasti Mama cari infal, briefing infal, juga ngawasin kerjaannya. Maklum, Eyang Putri itu beberapa kali sehari harus dipindah ke kursi roda. Dengan kondisi badan serba kaku akibat penyakit, tekniknya juga harus diperhatikan, biar nggak menyakitkan Eyang Putri.

Pernah Mama sedang senang-senangnya main sama cucu, ditelpon susternya Eyang Putri yang mendadak minta cuti. Anak sakit adalah alasan si suster. Alhasil, Mama (dan Ayah) naik taksi ke rumah Om (tempat tinggal Eyang Putri sekarang) untuk nego sama si suster agar tidak dadakan. Maklumlah waktu itu Om dan Tante yang punya rumah lagi Umroh. 

Melihat jumpalitannya Mama mikir dan berbuat untuk Eyang Putri, gue sama Ayah suka protes: Kok nggak sayang ama diri sendiri sih??? Tapi Mama malah ngambek kalau diprotes. "Mama nggak  mau kehilangan momen!" kata Mama.

"Mama mau ngerawat Eyang Putri waktu dia masih hidup, masih bisa denger, bisa lihat. Mama mau puas-puasin deket Eyang Putri. Mama nggak mau waktu Eyang Putri udah meninggal, baru nyesel kenapa nggak ngurus orang tua...."

Mulia bener Mama....

Padahal Mama sendiri juga sakit. Lever. Konsumsi obat udah seumur hidup. Bolak balik cek up ke dokter. Nggak boleh capek. Pikiran nggak boleh terbebani. Tapi masih aja Mama jumpalitan....

Dan gue baru aja menemukan tafsir baru dari kalimat Mama "Nggak Mau Kehilangan Momen".

Gara-garanya, kami lagi ngobrolin lucunya kelakuan cucu-cucu Mama (alias keponakan gue). Di ujung pembicaraan seru itu, Mama yang habis ngerawat luka-luka di badannya (efek penyakit) bilang, "Untuk cucu-cucu, Mama Nggak Mau Kehilangan Momen".

Dueng! Kesannya Mama ngomongin ujung usianya sendiri. Gue langsung sesak nafas. Untung ada BB yang bisa jadi pengalih. Kalo nggak, mungkin Mama bakal liat kalo mata gue berair.

InsyaAllah Mama nggak kehilangan momen yaaa. Anak-anaknya Mama juga. Cucu-cucu Mama juga. Dan soal umur, semoga kita nggak kehilangan momen untuk persiapan menuju umur terakhir. Aamiin.


Friday, April 27, 2012

Kata Mutiara Tentang Sahabat

Waktu nyari-nyari pesan untuk cerita tentang persahabatan, gue nemu banyak sekali kata mutiara yang bagus-bagus. Sebagian bikin gue senyum, sebagian bikin terharu. Langsung deh gue share di sini. 

Buat sahabat-sahabat gue.... Makasih udah jadi salah satu yang terbaik di hidup gue. Mmmmuuuaachh. 

KATA-KATA MUTIARA TENTANG SAHABAT

Sahabat bukan siapa yang kamu kenal. Tapi siapa yang menghampiri dan tak pernah meninggalkanmu.

Sahabat adalah orang yang mampu membuatmu mengeluarkan kemampuan terbaik yang ada di diri kamu. Mereka orang yang selalu memberimu semangat. 

Sahabat adalah orang yang tau apa yang dia miliki setiap bersamamu, bukan dia yang baru menyadari siapa dirimu ketika kehilanganmu.

Sahabat adalah orang yang tahu ada sedih di matamu, ketika seluruh dunia percaya dengan senyum di wajahmu.

Sahabat adalah orang yang tahu semua kelemahanmu, tapi tetap memilih bersamamu ketika orang lain meninggalkanmu. 


Tak ada yang sempurna. Sahabatpun pernah berbuat salah. Tapi kamu selalu temukan alasan untuk memaafkan mereka.

Jangan pernah sakiti sahabatmu, karena sahabat adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa Dia tak ingin kamu sendirian jalani hidup.

Terlalu berharap akan menyakitimu. Tapi  itu bukan alasan untuk menyesali diri. Ingat, sahabat selalu ada buatmu.

Sahabat terbaik adalah kamu duduk lama dengannya, tanpa mengucap satu katapun, lalu kamu meninggalkannya dengan perasaan bahwa kamu telah bicara banyak padanya.