| You Should Be a Joke Writer |
You're totally hilarious, and you can find the humor in any situation. Whether you're spouting off zingers, comebacks, or jokes about life... You usually can keep a crowd laughing, and you have plenty of material. You have the makings of a great comedian - or comedic writer. |
Wednesday, May 10, 2006
Percaya Nggak Percaya
Soalnya masih cari jati diri.... :)
Monday, April 24, 2006
Harus Ada di Film India
Elemen art apa yang selalu ada di film mainstream India? Pilar? Noooo. Nggak semua film India perlu pilar. Soalnya untuk nyanyi, muter-muter dan nangis-nangis mereka udah bisa di mana aja. Bisa di loko kereta, lorong gedung, lereng gunung, atau tepi danau. Pokoknya asal settingnya megah, okelah.
Jadi jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas apa dong? Gampang! Selendang! Perhatiin deh. Selalu ada scene kehadiran seseorang di mana ada selendang melambai-lambai di tiup angin. Kayaknya orang-orang film mereka percaya kalo selendang yang meliuk-liuk itu adegan murah tapi indah. Jadi hukumnya wajib, dan dimasukin di adegan-adegan antara lain:
- Seorang cewek berdiri berhadapan sama cowoknya. Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai ditiup angin.
- Seorang cewek sendirian, lagi sedih (alasannya bisa macem-macem). Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai ditiup angin.
- Seorang cewek berlari menyambut cowoknya. Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai dititup angin.
- Seorang cewek berselendang lewat. Seorang cowok memperhatikannya tanpa berani mendekati. Tiba-tiba selendang si cewek terbang ketiup angin. Melayang-layang... (selanjutnya terusin sendiri).
Kalo liuk-liuk selendang dirasa kurang nendang, film maker-nya akan nambahin dengan lambaian lainnya. Yaitu rambut si pemain (biasanya panjang), dan deretan baliho (kain-kain lemas di baliho akan berkibar-kibar ditiup angin). Kadang kehadiran kibar-kibar itu nggak masuk akal. Masak di dalam kelas tau2 ada angin ribut pas seorang murid cantik masuk? Atau masak di lereng gunung yang sepi ada baliho-baliho (yah, yg ini agak masuk akal sih, meski terkesan maksa juga :) )
Semangat kibaran selendang ala India ini masuk juga ke sinetron Indonesia. Berkali-kali gue tersenyum maklum, ketika ada pesan sponsor ‘pake selendang’ dari produser. Terakhir, gw dapet imbauan untuk nulis adegan di perpus yang menggambarkan selendang seorang cewek jatuh. Refleks gue nanya ‘apa nggak sebaiknya buku atau tas?’ karena gue pikir, lebih masuk akal gitu. Tapi bos gue cuman tersenyum. Pahamlah gue, mereka sebenernya pengen ada scene selendang melambai.
Ya sutra, nggak papa, toh unsur kecil yang nggak pengaruh banyak ke cerita. Cuman yang kelintas di kepala gue, selendang kan jatuh di perpus yang relatif nggak ada angin. Berarti bisa jatuhnya karena apa? Ketarik seseorang? Kalo selendang ketarik, berarti cewek yang pake selendang itu kecekek dong? Hihihi, komikal sekali. Tentunya, bukan itu yang diminta! Apa mesti menghadirkan angin kencang di perpus? Gue kekeuh nggak. Mudah-mudahan, tanpa angin dadakan, scene itu masih diterima. Semoga…. Semoga aja diterima. Hehehe.
Tapi seperti juga orang-orang belajar, ambil bagusnya buang jeleknya. Begitu juga kalo belajar dari film-film India. Banyak lho yang bisa diambil dari sana.
Selalu dalam film India, ada unsur sedih-sedihnya atau haru-harunya. Nah, umumnya scene haru itu emang menyentuh banget. Menurut istilah seorang produser, diperes! Emosi penonton harus diperes sampai habis, seperti kain pel diperes sampai nggak meneteskan air lagi! Singkatnya : mesti maksimal.
Meski bukan penggemar film India, tapi gue nonton Kuch Kuch Hota Hae dan Kabhi Kushi Kabhi Gan masing-masing 2 kali. Sumprit setiap kali nonton adegan haru-harunya itu, gue ampe nangis. Minimal mata berkaca-kaca deh. Begitu juga waktu nonton Black, dan beberapa film India lainnya (judulnya gak inget). Angkat jempol lah.
Tapi teteeup yah, untuk urusan selendang melambai-lambai… gue speechless deh. :)
Jadi jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas apa dong? Gampang! Selendang! Perhatiin deh. Selalu ada scene kehadiran seseorang di mana ada selendang melambai-lambai di tiup angin. Kayaknya orang-orang film mereka percaya kalo selendang yang meliuk-liuk itu adegan murah tapi indah. Jadi hukumnya wajib, dan dimasukin di adegan-adegan antara lain:
- Seorang cewek berdiri berhadapan sama cowoknya. Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai ditiup angin.
- Seorang cewek sendirian, lagi sedih (alasannya bisa macem-macem). Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai ditiup angin.
- Seorang cewek berlari menyambut cowoknya. Di leher si cewek ada selendang yang melambai-lambai dititup angin.
- Seorang cewek berselendang lewat. Seorang cowok memperhatikannya tanpa berani mendekati. Tiba-tiba selendang si cewek terbang ketiup angin. Melayang-layang... (selanjutnya terusin sendiri).
Kalo liuk-liuk selendang dirasa kurang nendang, film maker-nya akan nambahin dengan lambaian lainnya. Yaitu rambut si pemain (biasanya panjang), dan deretan baliho (kain-kain lemas di baliho akan berkibar-kibar ditiup angin). Kadang kehadiran kibar-kibar itu nggak masuk akal. Masak di dalam kelas tau2 ada angin ribut pas seorang murid cantik masuk? Atau masak di lereng gunung yang sepi ada baliho-baliho (yah, yg ini agak masuk akal sih, meski terkesan maksa juga :) )
Semangat kibaran selendang ala India ini masuk juga ke sinetron Indonesia. Berkali-kali gue tersenyum maklum, ketika ada pesan sponsor ‘pake selendang’ dari produser. Terakhir, gw dapet imbauan untuk nulis adegan di perpus yang menggambarkan selendang seorang cewek jatuh. Refleks gue nanya ‘apa nggak sebaiknya buku atau tas?’ karena gue pikir, lebih masuk akal gitu. Tapi bos gue cuman tersenyum. Pahamlah gue, mereka sebenernya pengen ada scene selendang melambai.
Ya sutra, nggak papa, toh unsur kecil yang nggak pengaruh banyak ke cerita. Cuman yang kelintas di kepala gue, selendang kan jatuh di perpus yang relatif nggak ada angin. Berarti bisa jatuhnya karena apa? Ketarik seseorang? Kalo selendang ketarik, berarti cewek yang pake selendang itu kecekek dong? Hihihi, komikal sekali. Tentunya, bukan itu yang diminta! Apa mesti menghadirkan angin kencang di perpus? Gue kekeuh nggak. Mudah-mudahan, tanpa angin dadakan, scene itu masih diterima. Semoga…. Semoga aja diterima. Hehehe.
Tapi seperti juga orang-orang belajar, ambil bagusnya buang jeleknya. Begitu juga kalo belajar dari film-film India. Banyak lho yang bisa diambil dari sana.
Selalu dalam film India, ada unsur sedih-sedihnya atau haru-harunya. Nah, umumnya scene haru itu emang menyentuh banget. Menurut istilah seorang produser, diperes! Emosi penonton harus diperes sampai habis, seperti kain pel diperes sampai nggak meneteskan air lagi! Singkatnya : mesti maksimal.
Meski bukan penggemar film India, tapi gue nonton Kuch Kuch Hota Hae dan Kabhi Kushi Kabhi Gan masing-masing 2 kali. Sumprit setiap kali nonton adegan haru-harunya itu, gue ampe nangis. Minimal mata berkaca-kaca deh. Begitu juga waktu nonton Black, dan beberapa film India lainnya (judulnya gak inget). Angkat jempol lah.
Tapi teteeup yah, untuk urusan selendang melambai-lambai… gue speechless deh. :)
Friday, March 17, 2006
Melayang
Jelang pagi.
Ngetik.
Nggak tau kenapa, pikiran tiba-tiba melayang ke tempat yang jauh.
DAS Sungai Sebangau –Kalimantan Tengah.
Dua tahun lalu, jelang pagi begini
Berdiri sendirian di tepi DAS
Suasana gulita
Menghirup alam
Menyimak air mengalir
Merinding karena angin dingin
Lalu matahari terbit
Saatnya melepas sejauh-jauh pandangan
Menyaksikan elang terbang
Mengintai monyet cari makan
Menonton anak-anak kecil terjun ke sungai
Menghitung sliweran klotok
dengan dua-tiga penduduk di atasnya.
Kapal dagang melintas menanti pembeli
Pembatang melanjutkan mengikat kayu-kayu
Dilirik warga
‘Orangkota . Orang kota ’
Begitu kali pikir mereka.
Kangen untuk kesana .
Tiba-tiba HP bunyi.
Ada SMS
‘Siapa sih jam 5 pagi gini kirim SMS?
Ternyata provider, biasalah ngirim2 soal kuis. (huh)
Isinya :
“Pantai Melawai Kalimatan Timur dekat dengan Pulau Tukung. Disana tempat para pedagang menjual berbagai makanan dan minuman”.
SMS nggak penting, tapi bikin deg-degan.
Soalnya mengandung kataKalimantan .
Jangan-janganKalimantan kangen sama gue?
Apa sih?
Ngetik.
Nggak tau kenapa, pikiran tiba-tiba melayang ke tempat yang jauh.
DAS Sungai Sebangau –
Dua tahun lalu, jelang pagi begini
Berdiri sendirian di tepi DAS
Suasana gulita
Menghirup alam
Menyimak air mengalir
Merinding karena angin dingin
Lalu matahari terbit
Saatnya melepas sejauh-jauh pandangan
Menyaksikan elang terbang
Mengintai monyet cari makan
Menonton anak-anak kecil terjun ke sungai
Menghitung sliweran klotok
dengan dua-tiga penduduk di atasnya.
Kapal dagang melintas menanti pembeli
Pembatang melanjutkan mengikat kayu-kayu
Dilirik warga
‘Orang
Begitu kali pikir mereka.
Kangen untuk ke
Tiba-tiba HP bunyi.
‘Siapa sih jam 5 pagi gini kirim SMS?
Ternyata provider, biasalah ngirim2 soal kuis. (huh)
Isinya :
“Pantai Melawai Kalimatan Timur dekat dengan Pulau Tukung. Di
SMS nggak penting, tapi bikin deg-degan.
Soalnya mengandung kata
Jangan-jangan
Apa sih?
Wednesday, February 15, 2006
F Valentine
Gue nyaris lupa sama hari Valentine. Sebabnya jelas. Nggak ada momen ato orang yang cukup manis untuk ngingetin (ada sih, tapi nggak lucu – karena pertanyaannya ternyata nyadarin gue kalo gue LUPA sama Valentine).
Ada temen yang dengan nada cuek-tapi-minta-dikorek cerita mo romantic late dinner (eh, bener gak sih? pake romantic?). Ngiri? Nggak. Dinner sih. Kan gue lagi nggak bisa makan gara2 sariawan. Kalo acaranya nonton konser tuh baru gue ngiri, huehehhee.
Ada sms ngucapin Valentine, tapi dari bos gw – dan diakhiri dengan minta kiriman naskah (basiiiiiiiiiiiiiiiiiii). Ada pemberian coklat bentuk hati, tapi dari nyokap – itu pun karena doi beli dari temen kantornya yg jualan coklat dengan cara ngerayu maksa. Ada telpon penuh dengan panggilan ‘say’, tapi yang nelpon gue bencong.
Plain Valentine’s day.
Kejadian yang bikin gue cukup deg-degan cuman satu. Yaitu nyari temen gue yang hilang dari peredaran. Kita2 mikirnya dia lagi down, malu, depressed ato sejenisnya (kalo salah, ya maap, abis sepupu deketnya aja nggak tau di mana doi). Cukup memprihatinkan, because he used to be very optimistic.
Untungnya ada yang masih bisa dikenang.
Ketika harus membubuhkan nama penulis skrip di salah satu episode kejar tayang banget yang gue tulis, gue merasa perlu membubuhkan nama lain – jangan nama gue. Tapi apa ya? Ah, karena ini hari Valentine, asal aja nulis nama ‘Valentin’. Nama yang bagus. Bisa dipake untuk belasan episode ato lebih.
Tapi… hmm… kayaknya kalo namanya pake nama cowok oke juga. Jadilah ‘Valentino’. Tapi…. kayaknya Valentino itu enakan jadi nama belakang ya? So, nama depannya sapa dong?
Saat itu, TV menayangkan iklan talkshow dengan host Becky Tumewu. Liat Becky, jadi inget Ferdy Hasan, pasangan MC-nya. Aha! Pake aja nama Ferdy! Lalu, jadilah nama Ferdy Valentino. Kalo mau jadi nama cewek, tinggal diganti Ferdiana Valentina. Kalo mau nama yang androgin, tinggal diganti F. Valentine.
Memorable kan?
Ada temen yang dengan nada cuek-tapi-minta-dikorek cerita mo romantic late dinner (eh, bener gak sih? pake romantic?). Ngiri? Nggak. Dinner sih. Kan gue lagi nggak bisa makan gara2 sariawan. Kalo acaranya nonton konser tuh baru gue ngiri, huehehhee.
Ada sms ngucapin Valentine, tapi dari bos gw – dan diakhiri dengan minta kiriman naskah (basiiiiiiiiiiiiiiiiiii). Ada pemberian coklat bentuk hati, tapi dari nyokap – itu pun karena doi beli dari temen kantornya yg jualan coklat dengan cara ngerayu maksa. Ada telpon penuh dengan panggilan ‘say’, tapi yang nelpon gue bencong.
Plain Valentine’s day.
Kejadian yang bikin gue cukup deg-degan cuman satu. Yaitu nyari temen gue yang hilang dari peredaran. Kita2 mikirnya dia lagi down, malu, depressed ato sejenisnya (kalo salah, ya maap, abis sepupu deketnya aja nggak tau di mana doi). Cukup memprihatinkan, because he used to be very optimistic.
Untungnya ada yang masih bisa dikenang.
Ketika harus membubuhkan nama penulis skrip di salah satu episode kejar tayang banget yang gue tulis, gue merasa perlu membubuhkan nama lain – jangan nama gue. Tapi apa ya? Ah, karena ini hari Valentine, asal aja nulis nama ‘Valentin’. Nama yang bagus. Bisa dipake untuk belasan episode ato lebih.
Tapi… hmm… kayaknya kalo namanya pake nama cowok oke juga. Jadilah ‘Valentino’. Tapi…. kayaknya Valentino itu enakan jadi nama belakang ya? So, nama depannya sapa dong?
Saat itu, TV menayangkan iklan talkshow dengan host Becky Tumewu. Liat Becky, jadi inget Ferdy Hasan, pasangan MC-nya. Aha! Pake aja nama Ferdy! Lalu, jadilah nama Ferdy Valentino. Kalo mau jadi nama cewek, tinggal diganti Ferdiana Valentina. Kalo mau nama yang androgin, tinggal diganti F. Valentine.
Memorable kan?
Saturday, February 11, 2006
S a d o m a s o k i s
Konon (pake konon karena males cari referensi) Sadomasokis berkaitan dengan rasa sakit, yang justru dinikmati oleh yang didera sakit. Aneh. Makanya digolongin sebagai salah satu penyimpangan perilaku.
Mungkin penyebab sadomasokis adalah ekspose terhadap rasa sakit itu secara berulang-ulang dalam waktu lama. Gue nyimpulin ini gara-gara dicurhatin seorang kenalan, yang nggak bisa pergi2 dari pacarnya yang tiap hari ngomelin, menghina dan gaplokin dia. Setiap si pacar berkelakuan aneh, si kenalan gue ini pasti sakit hati dan nangis. Dulu. Sampe akhirnya, sekarang dia nggak nangis lagi.
Meski nggak nangis, tetep aja capek denger dia cerita2 penyiksaan si pacar. Tapi kalo nggak didenger, kasian. Orang kan butuh sharing. Apalagi kalo udah liat 'tanda merah di pipi' (kayak syair di lagunya Betharia Sonata), duh... kasian minta ampun deh. Anehnya, udah sejuta dua ratus tiga puluh dua orang mendukung dia ninggalin pacar, tapi dia nggak mau. Udah cinta, katanya.
Jadi, sekarang setiap disakitin, akhirnya dia tahan-tahan aja. Malah biar dia nggak ngerasa sakit, dia nikmatin aja tu rasa sakit. Seneng malah. Aneh kan? Dan tiba-tiba, gue udah berkesimpulan kalo begitulah proses seseorang jadi sadomasokis.
Tapi pas gue inget seorang temen kuliah, terus terang gue jadi ragu sama kesimpulan gue di atas. Soalnya gue nemuin sadomasokis yang kayaknya nggak punya latar belakang aneh-aneh. Keluarganya baik, temen-temennya baik, pergaulannya relatif baik, mantan-mantan ceweknya baik.... nggak ada yang tukang nyiksa ato aneh-aneh sejenisnya. Tapi ini anak kok menikmati banget kalo disundut rokok. Emang nggak kayak adegan sundut rokoknya film Penghiatan G30 S PKI. Tapi tetep aja disundut kan panas! Udah gitu, dia seneng dicubit, dari cubit gemes, cubit nepsong, sampe cubit murka. Itu kan juga sakit, gila.
Jadi, temen kuliah gue itu sadomasokis ato bukan? Jadi, sadomasokis itu karena expose rasa sakit berulang-ulang ato bukan? Jadi sadomasokis itu tepatnya apa sih? Hihihihi, pertanyaan mendasar banget.
Aduuuuuh. Aduuuuuuuuuuuuuh. Sakit yang sedang gue derita juga lagi pedih banget. Sakit yang amat sangat. Geraham gue kemaren di bor dokter gigi. Lalu dikasih obat pemati syaraf. Eh, ndilalah pelapis obat pemati syaraf itu bocor. Karena tu obat emang keras (lambang kemasannya aja tulang dan tengkorak persis lambang bajak laut), maka rembesan obat bikin dinding mulut gue luka. Jadilah SARIAWAN.
Berabenya, rembesan itu hinggap di bidang yang cukup luas di dinding dalam bagian samping mulut gue. Artinya, sariawan gue besoaarrrr! Aduuuuh, sakit beneeeer. Kebayang nggak sih, sariawan secuil aja nyeri, gimana sepulau? Biar sama dokter udah dikasih Kenalog (sodaranya Ken Arok kali ye), tetep aja rasanya masih swakiiiiiiiiiit.
Akhirnya, daripada gue bete, gue pikir mendingan gue nikmatin aja rasa sakit dari sariawan super lebar itu. Tuing tuing tuing.... kok tiba-tiba gue kepikiran sadomasokis ya? Buset, jauh bener ya. Tapi... beda kan ya? Ya? Ya? Ya?
Hihihihi.... gitu aja dibahas. Udah! Doain aja sariawan gue cepet sembuh!
Mungkin penyebab sadomasokis adalah ekspose terhadap rasa sakit itu secara berulang-ulang dalam waktu lama. Gue nyimpulin ini gara-gara dicurhatin seorang kenalan, yang nggak bisa pergi2 dari pacarnya yang tiap hari ngomelin, menghina dan gaplokin dia. Setiap si pacar berkelakuan aneh, si kenalan gue ini pasti sakit hati dan nangis. Dulu. Sampe akhirnya, sekarang dia nggak nangis lagi.
Meski nggak nangis, tetep aja capek denger dia cerita2 penyiksaan si pacar. Tapi kalo nggak didenger, kasian. Orang kan butuh sharing. Apalagi kalo udah liat 'tanda merah di pipi' (kayak syair di lagunya Betharia Sonata), duh... kasian minta ampun deh. Anehnya, udah sejuta dua ratus tiga puluh dua orang mendukung dia ninggalin pacar, tapi dia nggak mau. Udah cinta, katanya.
Jadi, sekarang setiap disakitin, akhirnya dia tahan-tahan aja. Malah biar dia nggak ngerasa sakit, dia nikmatin aja tu rasa sakit. Seneng malah. Aneh kan? Dan tiba-tiba, gue udah berkesimpulan kalo begitulah proses seseorang jadi sadomasokis.
Tapi pas gue inget seorang temen kuliah, terus terang gue jadi ragu sama kesimpulan gue di atas. Soalnya gue nemuin sadomasokis yang kayaknya nggak punya latar belakang aneh-aneh. Keluarganya baik, temen-temennya baik, pergaulannya relatif baik, mantan-mantan ceweknya baik.... nggak ada yang tukang nyiksa ato aneh-aneh sejenisnya. Tapi ini anak kok menikmati banget kalo disundut rokok. Emang nggak kayak adegan sundut rokoknya film Penghiatan G30 S PKI. Tapi tetep aja disundut kan panas! Udah gitu, dia seneng dicubit, dari cubit gemes, cubit nepsong, sampe cubit murka. Itu kan juga sakit, gila.
Jadi, temen kuliah gue itu sadomasokis ato bukan? Jadi, sadomasokis itu karena expose rasa sakit berulang-ulang ato bukan? Jadi sadomasokis itu tepatnya apa sih? Hihihihi, pertanyaan mendasar banget.
Aduuuuuh. Aduuuuuuuuuuuuuh. Sakit yang sedang gue derita juga lagi pedih banget. Sakit yang amat sangat. Geraham gue kemaren di bor dokter gigi. Lalu dikasih obat pemati syaraf. Eh, ndilalah pelapis obat pemati syaraf itu bocor. Karena tu obat emang keras (lambang kemasannya aja tulang dan tengkorak persis lambang bajak laut), maka rembesan obat bikin dinding mulut gue luka. Jadilah SARIAWAN.
Berabenya, rembesan itu hinggap di bidang yang cukup luas di dinding dalam bagian samping mulut gue. Artinya, sariawan gue besoaarrrr! Aduuuuh, sakit beneeeer. Kebayang nggak sih, sariawan secuil aja nyeri, gimana sepulau? Biar sama dokter udah dikasih Kenalog (sodaranya Ken Arok kali ye), tetep aja rasanya masih swakiiiiiiiiiit.
Akhirnya, daripada gue bete, gue pikir mendingan gue nikmatin aja rasa sakit dari sariawan super lebar itu. Tuing tuing tuing.... kok tiba-tiba gue kepikiran sadomasokis ya? Buset, jauh bener ya. Tapi... beda kan ya? Ya? Ya? Ya?
Hihihihi.... gitu aja dibahas. Udah! Doain aja sariawan gue cepet sembuh!
Friday, January 20, 2006
Telat Membawa Sengsara
Udah nonton Alexandria? Kalo belom, sukurin... karena gue akan membocorkan ceritanya. Hihihihi.
Di sana diceritain kalo Bagas naksir Alexandra sejak mereka masih belia banget. Bagas never tell. Alexandra never know. Ketika Alexandra nerima cinta Rafi – sahabat Bagas – dan berencana menikah, keruan aja Bagas kebakaran jenggot. Dia nyesel dan kesel banget karena kehilangan cinta Alexandra, gara-gara telat ngungkapin!
Oke, oke… itu cuman cuplikan ceritanya. Bukan spoiler. Gue cuman lagi pengen nyambung-nyambung nggak perlu aja. Abis lagi kesel nih, karena merasa rugi akibat telat berbuat sesuatu!
Apa tuh?
Mbawa laptop gue ke service center!
DVD RW laptop gue rusak. Rusaknya akhir Desember taun lalu. Tapi karena akhir Desember gue masih kejar2an sama deadline, trus kejar2an pesawat, trus kecapekan pulang liburan ke Bali, trus ketemu deadline baru, trus leyeh-leyeh… akhirnya gue baru ke service center pada tanggal 18 januari. Padahal nih…. Gue baru inget kalo gue beli laptop itu tahun lalu, tanggal 14 januari!! Waks, masa garansi udah lewat! Gue telat!!
Akibatnya, gue harus bayar uang service. Plus, kalo ganti DVD RW nya, gue kena charge lagi dengan harga yang buat gue MAHAL (with capital M. A.H.A & L :) ). Kalo laptop gue masih garansi, semua biaya itu GRATIS. Waaaa, perasaan gue langsung drop. Sebel! Sebeeeeeelll.
Sebel pertama, gue harus berpisah dari laptop gue selama beberapa hari untuk dicek. Meninggalkan dia menginap di service center, meski service center resmi, rasanya oh berat. Sebel kedua, mikir ntar gue kerja pake apa ya? Untungnya nyokap bersedia dipinjem PC nya. Sebel ketiga, ya lewat garansi itu tadi. Mana duit gue lagi tiris akibat ini itu.
Tadi sore orang service centernya nelpon, kalo mereka udah cek laptop gue. Gue dibebasin bayar service – sesuai permohonan gue yang agak norak itu, minta digratisin semua karena telat garansinya toh cuman 4 hari… yah, namanya juga usaha. Sayangnya, gue tetep kena charge untuk ganti DVD Combo. Harga nggak semahal yang mereka sebutin pertama kali, tapi tetep bagi gue sayang aja ngeluarin duit segitu.
Gue nggak langsung iya-in. Tapi bak seorang detektif cari info, gue langsung nanya-nanya temen2 gue yang IT. Mereka ngasih masukan ini itu dan pembanding ini itu. Intinya sih, harga segitu wajar. Kalo mau yang jauh lebih murah, pasti ada kurangnya (ini itu). Gue sendiri juga merasa lebih nyaman kalo pake ganti yang disodorkan service center resmi itu. Cuma harganya itu lho! Seandainya masih garansi....
Duh, begini nih harga sebuah tindakan telat. ‘Untung’ cuman laptop. Gimana kalo jodoh kayak si Bagas ke Alexandra? (hehehe) . Gimana kalo telat berbakti sama ortu? (mantan editor gue nyesel bertahun-tahun karena nunda-nunda ngurus ortunya waktu mereka sakit, sampe ortunya meninggal). Gimana kalo telat urusan nyawa? (eh, nyawa tu prerogative Allah ya). Ahhh, sudahlah. Gue lagi berusaha menenangkan hati gue sendiri. Mencoba dapetin hikmahnya. Mencoba membuat bubur ayam dari sebuah peristiwa ‘nasi sudah menjadi bubur’. Tuuuuh kan, mulai garing.
Semoga gue nggak pernah telat (lagi) untuk apa pun yang penting di hidup gue. Amiin.
NB : Cerita Bali-nya terpaksa diundur. Maaf, kesalahan bukan pada monitor Anda kalo nggak ngeliat cerita Bali Part II.
Di sana diceritain kalo Bagas naksir Alexandra sejak mereka masih belia banget. Bagas never tell. Alexandra never know. Ketika Alexandra nerima cinta Rafi – sahabat Bagas – dan berencana menikah, keruan aja Bagas kebakaran jenggot. Dia nyesel dan kesel banget karena kehilangan cinta Alexandra, gara-gara telat ngungkapin!
Oke, oke… itu cuman cuplikan ceritanya. Bukan spoiler. Gue cuman lagi pengen nyambung-nyambung nggak perlu aja. Abis lagi kesel nih, karena merasa rugi akibat telat berbuat sesuatu!
Apa tuh?
Mbawa laptop gue ke service center!
DVD RW laptop gue rusak. Rusaknya akhir Desember taun lalu. Tapi karena akhir Desember gue masih kejar2an sama deadline, trus kejar2an pesawat, trus kecapekan pulang liburan ke Bali, trus ketemu deadline baru, trus leyeh-leyeh… akhirnya gue baru ke service center pada tanggal 18 januari. Padahal nih…. Gue baru inget kalo gue beli laptop itu tahun lalu, tanggal 14 januari!! Waks, masa garansi udah lewat! Gue telat!!
Akibatnya, gue harus bayar uang service. Plus, kalo ganti DVD RW nya, gue kena charge lagi dengan harga yang buat gue MAHAL (with capital M. A.H.A & L :) ). Kalo laptop gue masih garansi, semua biaya itu GRATIS. Waaaa, perasaan gue langsung drop. Sebel! Sebeeeeeelll.
Sebel pertama, gue harus berpisah dari laptop gue selama beberapa hari untuk dicek. Meninggalkan dia menginap di service center, meski service center resmi, rasanya oh berat. Sebel kedua, mikir ntar gue kerja pake apa ya? Untungnya nyokap bersedia dipinjem PC nya. Sebel ketiga, ya lewat garansi itu tadi. Mana duit gue lagi tiris akibat ini itu.
Tadi sore orang service centernya nelpon, kalo mereka udah cek laptop gue. Gue dibebasin bayar service – sesuai permohonan gue yang agak norak itu, minta digratisin semua karena telat garansinya toh cuman 4 hari… yah, namanya juga usaha. Sayangnya, gue tetep kena charge untuk ganti DVD Combo. Harga nggak semahal yang mereka sebutin pertama kali, tapi tetep bagi gue sayang aja ngeluarin duit segitu.
Gue nggak langsung iya-in. Tapi bak seorang detektif cari info, gue langsung nanya-nanya temen2 gue yang IT. Mereka ngasih masukan ini itu dan pembanding ini itu. Intinya sih, harga segitu wajar. Kalo mau yang jauh lebih murah, pasti ada kurangnya (ini itu). Gue sendiri juga merasa lebih nyaman kalo pake ganti yang disodorkan service center resmi itu. Cuma harganya itu lho! Seandainya masih garansi....
Duh, begini nih harga sebuah tindakan telat. ‘Untung’ cuman laptop. Gimana kalo jodoh kayak si Bagas ke Alexandra? (hehehe) . Gimana kalo telat berbakti sama ortu? (mantan editor gue nyesel bertahun-tahun karena nunda-nunda ngurus ortunya waktu mereka sakit, sampe ortunya meninggal). Gimana kalo telat urusan nyawa? (eh, nyawa tu prerogative Allah ya). Ahhh, sudahlah. Gue lagi berusaha menenangkan hati gue sendiri. Mencoba dapetin hikmahnya. Mencoba membuat bubur ayam dari sebuah peristiwa ‘nasi sudah menjadi bubur’. Tuuuuh kan, mulai garing.
Semoga gue nggak pernah telat (lagi) untuk apa pun yang penting di hidup gue. Amiin.
NB : Cerita Bali-nya terpaksa diundur. Maaf, kesalahan bukan pada monitor Anda kalo nggak ngeliat cerita Bali Part II.
Monday, January 16, 2006
Tuntasnya Penantian Tujuh Tahun
Uhhh, judulnya. Kok seperti judul2 tulisan feature yak. Secara gue udah lama nggak nulis feature, kok mbaca judul di atas jadi deg-degan (apa siiiiiiihhh???).
Tujuh bagi sejumlah orang seperti angka keramat. Jaman gue SD, diajarin 7 keajaiban dunia (sekarang berapa sih? katanya udah nambah?). Di Jawa, ada tradisi 7 bulanan untuk ibu hamil. Kalo mau nyekar kuburan, disuruhnya nyiapin kembang 7 rupa. Sampe ada puyer sakit kepala di Indonesia dikasih merek 'Bintang 7' (ada yg tau kenapa?).
Buat gue sih 7 hanya sebuah angka. Bernilai fungsional untuk itung2an ato nunjukin peringkat. Nggak beda sama angka lain dari 0 sampe 9. Kalo pun sekarang ngomongin 7, itu karena kebetulan kejadian yang mau gue ceritain ini terkait sama kejadian tujuh tahun lalu.
Tujuh tahun lalu gue dan sobat gue Yanti bikin resolusi untuk bermalam tahun baruan di Bali. Ini revolusi dendam, karena dilontarkan saat nggak tau mesti ngapain pas malam tahun baru sementara kebanyakan temen sepertinya asik party. Karena faktor waktu dan dana, resolusi ini ketunda sampe tujuh tahun.
Awal tahun 2005, gue dapet bocoran kalo para produser di PH (di mana gue nyetor tulisan saat itu) mau nengok kampung ke India di bulan November. Wah, berarti --gue faitacompli aja-- November libur panjang nih. Niat libur panjang disambut Yanti, yang saat itu juga sedang menghitung-hitung cuti panjangnya setelah hampir 4 taun kerja keras di stasiun tv. Cihuy, Bali dong. Nggak malem taun baruan juga nggak papa deh. Yang penting cita-cita ke Bali bareng tercapai. Seru aja gitu, kalo cita-cita di masa krucil akhirnya tercapai. Apalagi Armes mupeng ikut. Hayo aja. The more the merrier toh? Oh, iya. Waktu itu gue belom sekali pun ke Bali. Kasian yah.
Tapi rencana tinggal rencana. Pertengahan taun 2005 Yanti loncat ke kantor lain. Berarti belom tentu boleh cuti kan? Sementara gue udah nggak nulis buat produser India itu, tapi pindah PH. Berarti jadwal kerja juga berubah. Excitement pelan-pelan padam. Malah waktu akhirnya gue ke Bali juga, Yanti cuman komentar, "Berarti gue udah nggak ada utang lagi ya, Dit". Hopeless banget deh nasib resolusi malem taun baruan di Bali. Ini dia nih yang namanya 'manusia berencana, Tuhan menentukan'.
Gue pulang liburan dari Bali persis sebelom Bom Bali II meledak (thank God - waktu itu gak ketemu bom). Armes semangat ngomporin buat segera ke Bali. Alesannya, orang lagi paranoid ke Bali, semua harga pasti murah. Ih, ogah. Duit udah tiris, masak balik lagi? ...Jadi, bukan karena kasian??? Lho, jujur aja, kalo di Bali bisa dapet macem2 dengan harga lebih murah, gue mah hepi-hepi aja. Kasian udah pasti, wong waktu itu gue sampe nangis n gemeteran waktu SMS temen2 di Bali. Sutra lah, melebar nih kalo ngomongin bom.
Riwayat Bali ternyata belom kelar. Di akhir November 2005, tiba-tiba Nanug ngabarin kalo dia punya voucher nginep di Bali Intercontinental. Bisa buat nginep 4 hari! Cihuy!! Gue n Yanti yang gampangan dan murahan ini langsung mau. Dengan cepat, kita putuskan kalo voucher itu kita pake buat malem taun baru!! Tinggal cari tiket pesawat. Agak gila mungkin. Secara gue, Yanti, Nanug n (terakhir konfirmasi) Armes masih sibuk kerja dan gak tau bisa cuti ato nggak.
Sim salabim! Spirit bertaun baru di Bali membuat segalanya terbuka. Gue, Yanti n Nanug dapet ijin cuti (meski gue sempet dicemberutin si bos gara-gara sambil nulis masih telpon2 survey harga tiket, hehehee). Armes juga gampang pergi karena dia udah resmi keluar kantor (blessing in disguise? hehehe).
Mulai awal Desember 2005, kami berempat nyaris tiap hari telpon-telponan, sms-an n chating ngomongin Bali. Tambah akrab deh, hihihi. Padahal mestinya bosen ya, wong dari kuliah ngeliatnya mereka lagi mereka lagi. Weekend kalo udah hopeless, nongkrongnya ya sama mereka lagi mereka lagi. Udah gitu suka ada temen-temen yang udah married ngomel ke kita, katanya diskriminatif karena nggak ngajak-ngajak mereka yang udah married. Yah, beginilah sisa-sisa laskar fisip 94 yang masih jomblo. Udah jomblo disirikin pula.
Pertengahan Desember 2005, tiba-tiba Nanug telpon kalo Bali Intercontinental nggak bisa pake voucher! Kecewa juga ndengernya, meski sebelomnya udah curiga kalo mungkin... mungkin ni ye... tu hotel bintang 4 plus plus nggak bakal ngijinin pemakaian voucher di malam taun baru. Untuk bayar full dua kamar Intercontinental selama empat malam, oohhh tidaaaak. Tidak mampuuuuuu.
Tapi spirit lagi tinggi nih. Tiket nyaris dapet tinggal nunggu konfirmasi. Ijin cuti udah di tangan. Masak mau disia-siain??? Akhirnya setelah bolak balik cek internet, konsultasi ke agen travel, nanya2 kanan kiri, jadilah kita sepakat book 1 bungalow berlantai 2 di Putubali Vila di Seminyak. Paketnya cukup menarik buat akhir taun. Dibandingin dengan tempat2 lain di Seminyak, harganya lumayan murah. Sementara tempatnya, dari foto, kayaknya asik. Apalagi konon ini tempat baru kelar direnovasi. Salah satu pilihan terbaik lah.
Duh, rasanya nggak sabar pengen buru-buru nyampe sana. Liburan akhir tahun, dan diisi dengan.... ngapain ya? O-ow... peserta liburan akhir taun di Bali pada bengong. Iya ya... ngapain??? Kita berlima (si Ira mo ikut, lumayan buat patungan mobil, hehehe) belom pernah traveling bareng. Referensi soal Bali minim. Preferensi pun beda-beda. Akhirnya digelarlah rapat malam minggu. Nggak rapat juga sih, tapi sekalian nongkrong hehehe. Hasilnya? Debat kusir. Dan seperti biasa... nggak ada hasil!! Ampuuuuun.... :p
Whatever lah. Yang penting nyampe Bali dulu. Yang penting excited. Dan sebagai catatan, kalo liburan ini beneran jadi, berarti mematahkan salah satu anggapan yang udah berkarat di anak FISIP. Yaitu, kalo kita-kita melaksanakan sesuatu (biasanya pergi2 ato ketemuan2) yang direncanakan, biasanya nggak berhasil. Ah! Tapi yang ini berhasil kok! Meski perencanaannya cuman kurang dari sebulan, yang penting berhasil. Horeee!! Yang lebih penting lagi... resolusi tujuh tahun itu akhirnya terpenuhi! Lagi-lagi, horeeeeeeee!!!
NB : Cerita n foto2 waktu liburan di Bali in next posting aja ye.
Tujuh bagi sejumlah orang seperti angka keramat. Jaman gue SD, diajarin 7 keajaiban dunia (sekarang berapa sih? katanya udah nambah?). Di Jawa, ada tradisi 7 bulanan untuk ibu hamil. Kalo mau nyekar kuburan, disuruhnya nyiapin kembang 7 rupa. Sampe ada puyer sakit kepala di Indonesia dikasih merek 'Bintang 7' (ada yg tau kenapa?).
Buat gue sih 7 hanya sebuah angka. Bernilai fungsional untuk itung2an ato nunjukin peringkat. Nggak beda sama angka lain dari 0 sampe 9. Kalo pun sekarang ngomongin 7, itu karena kebetulan kejadian yang mau gue ceritain ini terkait sama kejadian tujuh tahun lalu.
Tujuh tahun lalu gue dan sobat gue Yanti bikin resolusi untuk bermalam tahun baruan di Bali. Ini revolusi dendam, karena dilontarkan saat nggak tau mesti ngapain pas malam tahun baru sementara kebanyakan temen sepertinya asik party. Karena faktor waktu dan dana, resolusi ini ketunda sampe tujuh tahun.
Awal tahun 2005, gue dapet bocoran kalo para produser di PH (di mana gue nyetor tulisan saat itu) mau nengok kampung ke India di bulan November. Wah, berarti --gue faitacompli aja-- November libur panjang nih. Niat libur panjang disambut Yanti, yang saat itu juga sedang menghitung-hitung cuti panjangnya setelah hampir 4 taun kerja keras di stasiun tv. Cihuy, Bali dong. Nggak malem taun baruan juga nggak papa deh. Yang penting cita-cita ke Bali bareng tercapai. Seru aja gitu, kalo cita-cita di masa krucil akhirnya tercapai. Apalagi Armes mupeng ikut. Hayo aja. The more the merrier toh? Oh, iya. Waktu itu gue belom sekali pun ke Bali. Kasian yah.
Tapi rencana tinggal rencana. Pertengahan taun 2005 Yanti loncat ke kantor lain. Berarti belom tentu boleh cuti kan? Sementara gue udah nggak nulis buat produser India itu, tapi pindah PH. Berarti jadwal kerja juga berubah. Excitement pelan-pelan padam. Malah waktu akhirnya gue ke Bali juga, Yanti cuman komentar, "Berarti gue udah nggak ada utang lagi ya, Dit". Hopeless banget deh nasib resolusi malem taun baruan di Bali. Ini dia nih yang namanya 'manusia berencana, Tuhan menentukan'.
Gue pulang liburan dari Bali persis sebelom Bom Bali II meledak (thank God - waktu itu gak ketemu bom). Armes semangat ngomporin buat segera ke Bali. Alesannya, orang lagi paranoid ke Bali, semua harga pasti murah. Ih, ogah. Duit udah tiris, masak balik lagi? ...Jadi, bukan karena kasian??? Lho, jujur aja, kalo di Bali bisa dapet macem2 dengan harga lebih murah, gue mah hepi-hepi aja. Kasian udah pasti, wong waktu itu gue sampe nangis n gemeteran waktu SMS temen2 di Bali. Sutra lah, melebar nih kalo ngomongin bom.
Riwayat Bali ternyata belom kelar. Di akhir November 2005, tiba-tiba Nanug ngabarin kalo dia punya voucher nginep di Bali Intercontinental. Bisa buat nginep 4 hari! Cihuy!! Gue n Yanti yang gampangan dan murahan ini langsung mau. Dengan cepat, kita putuskan kalo voucher itu kita pake buat malem taun baru!! Tinggal cari tiket pesawat. Agak gila mungkin. Secara gue, Yanti, Nanug n (terakhir konfirmasi) Armes masih sibuk kerja dan gak tau bisa cuti ato nggak.
Sim salabim! Spirit bertaun baru di Bali membuat segalanya terbuka. Gue, Yanti n Nanug dapet ijin cuti (meski gue sempet dicemberutin si bos gara-gara sambil nulis masih telpon2 survey harga tiket, hehehee). Armes juga gampang pergi karena dia udah resmi keluar kantor (blessing in disguise? hehehe).
Mulai awal Desember 2005, kami berempat nyaris tiap hari telpon-telponan, sms-an n chating ngomongin Bali. Tambah akrab deh, hihihi. Padahal mestinya bosen ya, wong dari kuliah ngeliatnya mereka lagi mereka lagi. Weekend kalo udah hopeless, nongkrongnya ya sama mereka lagi mereka lagi. Udah gitu suka ada temen-temen yang udah married ngomel ke kita, katanya diskriminatif karena nggak ngajak-ngajak mereka yang udah married. Yah, beginilah sisa-sisa laskar fisip 94 yang masih jomblo. Udah jomblo disirikin pula.
Pertengahan Desember 2005, tiba-tiba Nanug telpon kalo Bali Intercontinental nggak bisa pake voucher! Kecewa juga ndengernya, meski sebelomnya udah curiga kalo mungkin... mungkin ni ye... tu hotel bintang 4 plus plus nggak bakal ngijinin pemakaian voucher di malam taun baru. Untuk bayar full dua kamar Intercontinental selama empat malam, oohhh tidaaaak. Tidak mampuuuuuu.
Tapi spirit lagi tinggi nih. Tiket nyaris dapet tinggal nunggu konfirmasi. Ijin cuti udah di tangan. Masak mau disia-siain??? Akhirnya setelah bolak balik cek internet, konsultasi ke agen travel, nanya2 kanan kiri, jadilah kita sepakat book 1 bungalow berlantai 2 di Putubali Vila di Seminyak. Paketnya cukup menarik buat akhir taun. Dibandingin dengan tempat2 lain di Seminyak, harganya lumayan murah. Sementara tempatnya, dari foto, kayaknya asik. Apalagi konon ini tempat baru kelar direnovasi. Salah satu pilihan terbaik lah.
Duh, rasanya nggak sabar pengen buru-buru nyampe sana. Liburan akhir tahun, dan diisi dengan.... ngapain ya? O-ow... peserta liburan akhir taun di Bali pada bengong. Iya ya... ngapain??? Kita berlima (si Ira mo ikut, lumayan buat patungan mobil, hehehe) belom pernah traveling bareng. Referensi soal Bali minim. Preferensi pun beda-beda. Akhirnya digelarlah rapat malam minggu. Nggak rapat juga sih, tapi sekalian nongkrong hehehe. Hasilnya? Debat kusir. Dan seperti biasa... nggak ada hasil!! Ampuuuuun.... :p
Whatever lah. Yang penting nyampe Bali dulu. Yang penting excited. Dan sebagai catatan, kalo liburan ini beneran jadi, berarti mematahkan salah satu anggapan yang udah berkarat di anak FISIP. Yaitu, kalo kita-kita melaksanakan sesuatu (biasanya pergi2 ato ketemuan2) yang direncanakan, biasanya nggak berhasil. Ah! Tapi yang ini berhasil kok! Meski perencanaannya cuman kurang dari sebulan, yang penting berhasil. Horeee!! Yang lebih penting lagi... resolusi tujuh tahun itu akhirnya terpenuhi! Lagi-lagi, horeeeeeeee!!!
NB : Cerita n foto2 waktu liburan di Bali in next posting aja ye.
Tuesday, November 29, 2005
Gue Berpuisi, euy!
Aiiiih.... Bikin puisi!
Puisi bikinan gue kan katro semua. Nggak ada yg tau sih emang. Soalnya nyaris gak pernah gue tunjukin siapa2. Abis malu2in. Kalo gue nemu kertas2 coretan puisi gue jaman kuliah, gue mbacanya akan diam2. Takut ketauan. Coba deh, se-ekspresif mungkin ucapkan kata "Apa siiiiiiiiiiiiiiiiih????" . Naaah! Itu dia ekspresi gue kalo abis baca puisi bikinan gue sendiri.
Tapi gue HARUS berpuisi. Soalnya gue kudu nulis naskah yang salah satu karakternya adalah cowok penulis puisi (belom.... belom sampe seniman!). Naskah ini diangkat dari ketak ketiknya Ucup si pensuplai ide. Judulnya "Jangan Bilang Siapa-Siapa".Ceritanya tentang tiga sahabat (cowok) yang saking udah lama bener pacaran (masing2 pacaran sama cewek - jadi bukan homo), nekat ngetes "kesaktian" mereka ndeketin cewek-cewek lain.
Tokoh pecinta puisi di cerita itu namanya Evan. Karakternya romantis dan bukan pemberontak. Sama banget deh ama gue (hihihi). Berhubung dikejar deadline dan kudu cepet, gue pun menghayal mati-matian (sumpah, biasanya untuk menghayal gue nggak perlu usaha keras). Menghayalnya sambil nelangsa... susahnya bikin puisi cinta kalo lagi nggak punya pacar (oh, itu nelangsa yang lain yah?). Hiks, hiks, hiks. Tapi untungnya, dalam waktu singkat, terciptalah beberapa puisi. Uaaaah, lega.
OK. Gue paste puisi2-nya Evan itu. Jangan bilang siapa-siapa, kalo gue merasa puisi gue itu tetep katro, meski kata Mas Produser syairnya cute.
Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk lirik lagu band-nya Aldo (sobatnya).
Kamu tahu aku tahu
Kamu mencintaiku dalam bisu
Keluarlah dan katakan
Aku siap mendengarkan
Karena sudah seribu kali kuucapkan
tapi ku hanya mendapat jawaban
dalam tatapan, dan senyuman
Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk pacarnya, si lembut Clara.
Tak cukup kata cinta bisa kuucap
Pada gadis dengan tatapan sehangat mentari
Tutur sehalus desir angin
dan hati sejernih embun pagi
Tak cukup kata
tapi ku harap dia selalu bisa merasakannya.
Puisi ini dibuat Evan untuk Debra, anak bandel pacar Aldo dan nggak suka puisi, tapi penasaran pengen dibikinin puisi tentang dia... karena dia mengaku narsis!
Pernahkah kamu membayangkan
Di antara bunga berwarna di taman
Tumbuh ilalang mencuat sendirian
Meliuk ditiup angin pagi, siang dan petang
Bebas, lepas, tanpa tinggalkan tanah yang dihujam akarnya
Dengan kelopak mekar di kepala
Ilalang sepenuhnya sadar
Ia dan bunga sama cantiknya
Ya
Ia cantik, karena ia indah sebagai ilalang
Di bawah ini puisi yang ceritanya dibacakan seorang pujangga muda di sebuah malam apresiasi puisi.
Di sini kita duduk dalam diam
senyummu menghalau kelam
aku menahan perasaan
karena aku selalu paham
persahabatan kita bisa mengeringkan laut dan menyalakan malam
(thx to Iwan, akhirnya gw sukses mengutip rayuan lo! huahahahaa)
Di bawah ini puisi yang dibuat Evan untuk Clara, sehari setelah diputusin.
Salahku takkan pernah habis
dan aku bukan orang yang sempurna
tapi aku hanya ingin kamu tahu
aku tak pernah ingin jadi kekasih yang buruk untukmu
See???
Eh, tapi.... liat deh posting berjudul "FLY". Itu puisi bikinan gue loh. IMHO, (sambil malu...) the best ever :)).
NB : Nyusul nih, ketinggalan di-post....
Bening itu
terpancar dari matamu
yang hitam namun secerah langit biru
dan aku luluh dalam pesonamu
Di dunia ini tak ada yang pasti
seperti letak ujung pelangi yang menyentuh bumi
tapi sungguh bisa dimengerti
kalau kamu adalah pelangi
yang datang tanpa pergi lagi
--
Udah ah... malu... gombalica banget.
Puisi bikinan gue kan katro semua. Nggak ada yg tau sih emang. Soalnya nyaris gak pernah gue tunjukin siapa2. Abis malu2in. Kalo gue nemu kertas2 coretan puisi gue jaman kuliah, gue mbacanya akan diam2. Takut ketauan. Coba deh, se-ekspresif mungkin ucapkan kata "Apa siiiiiiiiiiiiiiiiih????" . Naaah! Itu dia ekspresi gue kalo abis baca puisi bikinan gue sendiri.
Tapi gue HARUS berpuisi. Soalnya gue kudu nulis naskah yang salah satu karakternya adalah cowok penulis puisi (belom.... belom sampe seniman!). Naskah ini diangkat dari ketak ketiknya Ucup si pensuplai ide. Judulnya "Jangan Bilang Siapa-Siapa".
Tokoh pecinta puisi di cerita itu namanya Evan. Karakternya romantis dan bukan pemberontak. Sama banget deh ama gue (hihihi). Berhubung dikejar deadline dan kudu cepet, gue pun menghayal mati-matian (sumpah, biasanya untuk menghayal gue nggak perlu usaha keras). Menghayalnya sambil nelangsa... susahnya bikin puisi cinta kalo lagi nggak punya pacar (oh, itu nelangsa yang lain yah?). Hiks, hiks, hiks. Tapi untungnya, dalam waktu singkat, terciptalah beberapa puisi. Uaaaah, lega.
OK. Gue paste puisi2-nya Evan itu. Jangan bilang siapa-siapa, kalo gue merasa puisi gue itu tetep katro, meski kata Mas Produser syairnya cute.
Puisi di bawah ini dibuat Evan untuk lirik lagu band-nya Aldo (sobatnya).
Kamu tahu aku tahu
Kamu mencintaiku dalam bisu
Keluarlah dan katakan
Aku siap mendengarkan
Karena sudah seribu kali kuucapkan
tapi ku hanya mendapat jawaban
dalam tatapan, dan senyuman
Tak cukup kata cinta bisa kuucap
Pada gadis dengan tatapan sehangat mentari
Tutur sehalus desir angin
dan hati sejernih embun pagi
Tak cukup kata
tapi ku harap dia selalu bisa merasakannya.
Puisi ini dibuat Evan untuk Debra, anak bandel pacar Aldo dan nggak suka puisi, tapi penasaran pengen dibikinin puisi tentang dia... karena dia mengaku narsis!
Pernahkah kamu membayangkan
Di antara bunga berwarna di taman
Tumbuh ilalang mencuat sendirian
Meliuk ditiup angin pagi, siang dan petang
Bebas, lepas, tanpa tinggalkan tanah yang dihujam akarnya
Dengan kelopak mekar di kepala
Ilalang sepenuhnya sadar
Ia dan bunga sama cantiknya
Ya
Ia cantik, karena ia indah sebagai ilalang
Di sini kita duduk dalam diam
senyummu menghalau kelam
aku menahan perasaan
karena aku selalu paham
persahabatan kita bisa mengeringkan laut dan menyalakan malam
(thx to Iwan, akhirnya gw sukses mengutip rayuan lo! huahahahaa)
Di bawah ini puisi yang dibuat Evan untuk Clara, sehari setelah diputusin.
Salahku takkan pernah habis
dan aku bukan orang yang sempurna
tapi aku hanya ingin kamu tahu
aku tak pernah ingin jadi kekasih yang buruk untukmu
See???
Eh, tapi.... liat deh posting berjudul "FLY". Itu puisi bikinan gue loh. IMHO, (sambil malu...) the best ever :)).
NB : Nyusul nih, ketinggalan di-post....
Bening itu
terpancar dari matamu
yang hitam namun secerah langit biru
dan aku luluh dalam pesonamu
Di dunia ini tak ada yang pasti
seperti letak ujung pelangi yang menyentuh bumi
tapi sungguh bisa dimengerti
kalau kamu adalah pelangi
yang datang tanpa pergi lagi
--
Udah ah... malu... gombalica banget.
Wednesday, November 02, 2005
Idul Fitri
Padahal mestinya gue malu. Rizki buat gue udah banyak banget. Ortu yang pengertian, sodara-sodara yang sayang, temen-temen yang setia kawan, tetangga-tetangga yang kompak nggak ketulungan, kerjaan yang (meski sering bikin pusing) menyenangkan, kesehatan, tabungan, kesempatan ketemu orang, keleluasaan perasaan dan pikiran….
Gue selalu take it for granted kalo Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Apa yang dia nggak kasih ke gue, pasti (gue sadarin maupun nggak) dikompensasi dalam hal lain. Tapi kenapa gue suka nggak tau diri?
Tapi yang lewat nggak boleh disesalin ya. Semoga gue selalu inget untuk memperbaiki diri. Makanya selain sedih, gue juga bahagia dengan hampir lewatnya Ramadhan ini. Soalnya sejak pagi, SMS mengalir dari banyak manusia. Isinya puisi-puisi pendek, tentang maaf dan doa. Siapa yang nggak suka sih didoain yang baik-baik?
Ini yang gue paling nikmatin dari awal dan akhir Ramadhan, menjelang Idul Fitri. Suasananya mendukung banget buat silaturahmi secara hangat. Sama siapa aja. Temen deket, temen yang lamaaaaaaaaaa banget nggak ketemu, kerabat yang suka sebel-sebelan, bawahan susah diatur, bos bertaling nyeremin, klien bawel… semua bicara dengan bahasa yang sama, “maaf lahir batin”. We’re belong to a “mohon maaf lahir batin” family :).
Nggak hanya itu. Bahkan dengan tetangga sholat Ied pun –yang gue nggak kenal— usai sholat bisa salaman dan rangkulan sambil nangis-nangisan. Emang kata-katanya “maaf”…. Tapi bukan maaf yang gue rasa-in (secara gue nggak tau salahnya dia apa, dan gue juga biasanya cepet maafin orang) …. Saat itu, gue merasa… gue punya banyak sodara. Sodara yang dipersatukan hati.
“Ketika takbir membahana, bergemuruh seisi buana, puasa tersempurnakan, zakat tertunaikan, syukur dihaturkan, maaf dipertukarkan. Minal Aidin wal faidizin”.
(puisi SMS yg nyampe paling pagi, dari Lady)
Eh, eh… Btw, mau tau SMS yang paling bikin gue ketawa?
"Ass. Wr. Wb. Ketika fajar menyingsing, langit.... Ah, susah mau berpuitis ria. Langsung aja maaf lahir batin ya. Wass. Mediko, Irma, Raihan".
(dari pak Mediko, KCC - u rock !)
SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA ALLAH SWT MENERIMA IBADAH KITA
amiin…
Wednesday, October 12, 2005
Mainan Baru
Detik-detik sport jantung atau lelah jiwa kalo mau kirim file naskah (padahal rata-rata 1 file cuma 200 kb) dari kantor berakhir sudah. Masa tugas internet dial up yang dodol melulu kini selesai. Penggantinya sekarang hadir.
Tadaaaa! Internet kabel! Cepat dan unlimited 24 jam sehari dalam sebulan sepanjang tahun selama masih mbayar. Jadi sekarang, selain bisa kirim naskah dalam itungan detik --nggak belasan menit lagi kayak sebelomnya ampe bisa ditinggal main funbubbles dulu--, kita juga bisa main internet sepuasnya ampe bego.
(hmm... kok kayak nasib pekerja ya. ketika ada yang lebih baru, bagus dan bisa ngasih lebih, kalo perlu dengan harga kurang, yang lama dibuang. makanya ada imbauan untuk kompetitif ya? kompetitif sehat, dan penghargaan sehat, gue harap)
Permainan pertama kita hari ini adalah browsing ebook dan downloading mp3 sebanyak-banyaknya. Maaf, bukan bermaksud membajak, tapi hanya memuaskan rasa penasaran sama lagu-lagu bagus yang ditawarkan para penyimpan file mp3 di seluruh dunia.
Sengaja untuk hari pertama ini lagu-lagunya agak bertema, nggak ngacak. Pilihannya adalah lagu tema film2 seri barat yang tayang di tv di Indonesia jaman 80-90an. Kenapa film2 seri barat, dan kenapa tahun 80-90an? Karena film-film itu akrab sama kita-kita. Secara kita sekantor adalah anak2 yang besar di dekade 80 - awal90, dan masa itu tivi baru TVRI paling banter plus RCTI serta belum ada VCD or DVD or tvkabel, maka hampir bisa dipastikan kalo kita nonton acara yang sama dari stasiun tv yang sama.
Anyway, lagu-lagu yang didonload bikin kita terlonjak-lonjak karena inget masa-masa muda dulu (alah!). Lagu-lagu itu adalah tv theme-nya :
CHIP's
BJ and the Bear (kenapa 'bear' ya? padahal kan simpanse)
Hawaii-5-O
Remington Steele
The A Team
Six Million Dolar Man
The Greatest American Hero (believe it or not, i'm walking on air....)
McGyver
Growing Pains (as long as we have each other....)
Full House
Scooby Doo (scooby doo bedoo, where r u....)
The Flinstones (flinstones, meet the flinstones, yabbadabadaba doo song... )
He-Man
Muppet Show (mannamannah)
The Simpsons
Tiny Toons (we're tiny we're toony, we are the little looney....)
Animaniacs (we are animaacs....)
Semua masih kedengeran bagus. Ya karena musiknya, ya karena senyum yang ditimbulkannya lantaran ngingetin lagi masa kecil kita yang lagi lucu-lucunya itu.
Hidup lagu jadul!
Tadaaaa! Internet kabel! Cepat dan unlimited 24 jam sehari dalam sebulan sepanjang tahun selama masih mbayar. Jadi sekarang, selain bisa kirim naskah dalam itungan detik --nggak belasan menit lagi kayak sebelomnya ampe bisa ditinggal main funbubbles dulu--, kita juga bisa main internet sepuasnya ampe bego.
(hmm... kok kayak nasib pekerja ya. ketika ada yang lebih baru, bagus dan bisa ngasih lebih, kalo perlu dengan harga kurang, yang lama dibuang. makanya ada imbauan untuk kompetitif ya? kompetitif sehat, dan penghargaan sehat, gue harap)
Permainan pertama kita hari ini adalah browsing ebook dan downloading mp3 sebanyak-banyaknya. Maaf, bukan bermaksud membajak, tapi hanya memuaskan rasa penasaran sama lagu-lagu bagus yang ditawarkan para penyimpan file mp3 di seluruh dunia.
Sengaja untuk hari pertama ini lagu-lagunya agak bertema, nggak ngacak. Pilihannya adalah lagu tema film2 seri barat yang tayang di tv di Indonesia jaman 80-90an. Kenapa film2 seri barat, dan kenapa tahun 80-90an? Karena film-film itu akrab sama kita-kita. Secara kita sekantor adalah anak2 yang besar di dekade 80 - awal90, dan masa itu tivi baru TVRI paling banter plus RCTI serta belum ada VCD or DVD or tvkabel, maka hampir bisa dipastikan kalo kita nonton acara yang sama dari stasiun tv yang sama.
Anyway, lagu-lagu yang didonload bikin kita terlonjak-lonjak karena inget masa-masa muda dulu (alah!). Lagu-lagu itu adalah tv theme-nya :
CHIP's
BJ and the Bear (kenapa 'bear' ya? padahal kan simpanse)
Hawaii-5-O
Remington Steele
The A Team
Six Million Dolar Man
The Greatest American Hero (believe it or not, i'm walking on air....)
McGyver
Growing Pains (as long as we have each other....)
Full House
Scooby Doo (scooby doo bedoo, where r u....)
The Flinstones (flinstones, meet the flinstones, yabbadabadaba doo song... )
He-Man
Muppet Show (mannamannah)
The Simpsons
Tiny Toons (we're tiny we're toony, we are the little looney....)
Animaniacs (we are animaacs....)
Semua masih kedengeran bagus. Ya karena musiknya, ya karena senyum yang ditimbulkannya lantaran ngingetin lagi masa kecil kita yang lagi lucu-lucunya itu.
Hidup lagu jadul!
Subscribe to:
Posts (Atom)