Friday, December 31, 2021

Before and After Liver Cancer Surgery (Part 1 - She Diagnosed with Cancer)

Sebelumnya mau menegaskan, yang operasi kanker liver adalah nyokap gue. Dan gue mau menceritakan hal-hal yang mengesankan gue before and after operasi. 

Nyokap reseksi alias pemotongan liver di Desember 2021, di usia ke-68. Volume liver yang dipotong dan diangkat cukup besar, sekitar 10x11x11 cm. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dan saat ini nyokap insyaAllah sehat.  

Cerita ini panjang. Jadi gue potong-potong jadi beberapa bagian. Untuk bagian pertama ini gue mau cerita soal awal diagnosis kanker. 

Di tahun 2012, saat itu gue belum terlibat soal kesehatan nyokap, hasil general check up nyokap mengungkap kalau beliau kena fatty liver. Ini kondisi di mana organ hati diselimuti lemak, dan efeknya kerja (atau fungsi) organ tak akan maksimal. Asal tau saja, hati atau liver punya 500an fungsi. Ini di antaranya

Setelah itu nyokap abai dengan kesehatannya. :( 

Tahun 2021, saat pandemi, gue lihat perut nyokap melembung kayak balon. Kalau ditekan-tekan pelan, rasanya seperti di dalamnya ada air. Akhirnya gue bawa nyokap ke dokter. Dokter menyebut ini namanya ascites atau asites, yaitu kondisi perut membesar secara tak normal akibat penumpukan cairan dalam rongga perut. 

Umumnya asistes muncul ketika ada sirosis hati. Setelah serangkaian uji lab, benar-benar ketahuan kalau nyokap gue kena sirosis hati. Ini kondisi di mana organ hati mengeras. Jika fatty liver menyebabkan hati tak maksimal menjalankan fungsinya, maka sirosis hati menyebabkan hati tak bisa menjalankan fungsinya. 

Bahaya kan? Secara fungsi hati itu ada 500 macam untuk tubuh kita. Kalau hati nggak berfungsi, lantas gimana? Ya sakit lah.  

Ada beberapa sebab timbulnya sirosis.

  • Suka minum-minum alkohol dalam periode panjang - kerja hati jadi super berat, bisa jebol. 
  • Kena hepatitis - ini akibat infeksi virus hepatitis. Bisa kena hepatitis karena pas imunnya rendah eh terpapar virus ini.  
  • Fatty liver - organ diliputi lemak sehingga kerja nggak maksimal dan akhirnya mengeras kayak batu lalu berhenti berfungsi (untuk bagian yang mengeras). 

Tiap pasien berbeda-beda penyebabnya. Untuk nyokap, hasil lab menunjukkan non-virus. Nyokap juga gak minum alkohol. Jadi kemungkinan besar penyebabnya ya fatty liver itu. 

Fatty liver penyebabnya karena apa? Kadar kolesterolnya tinggi. Dengan kondisi ini, kalau makanannya gak dijaga ya makin besar lah peluang kena fatty liver. Udah gitu nyokap jarang olahraga. Dan mungkin stress juga ya. 😐

Dari hasil USG, dokter menyatakan kondisi sirosis nyokap adalah 40% dari keseluruhan liver-nya. Jreng! Nyokap shock. Eh dia sempat-sempatnya nanya sisa umur. Mom, please. Umur seseorang kan nggak ada yang tau. Cuman karena nyokap penasaran, dokter akhirnya menjawab kalau orang yang kena sirosis hati rata-rata sisa umurnya 5 tahun, dihitung dari saat ketahuan. 

(note: Belakangan gue tau, dari penjelasan dokter yang lain, kalau kesimpulan "5 tahun lagi" itu adalah data empirik, dari penelitian di Eropa/Amrik - gue lupa. Itu penelitian juga diadakannya berapa puluh tahun lalu. Respondennya ratusan orang. Penelitannya jangka panjang, bertahun-tahun. Berarti peneliian super mahal itu. Makanya belum diulang lagi).

Nyokap sedih berat. 

Yang nyokap nggak tau adalah - apa yang dia kira sakitnya "hanya" sirosis hati, sebenarnya sudah jadi kanker. Tapi dokter nggak bilang satu katapun bilang soal kanker. 

Gue ngeh sakit nyokap ini kanker setelah menghubungi sodara yang dokter juga di rumah sakit lain. Si sodara ini dokter spesialis jantung, tapi pasti paham lah baca data lab pasien sirosis. Dia bilang, sirosis itu udah bisa dianggap kanker. Yes, kanker. Gue nggak salah denger, dan sampai memastikan 2-3 kali. Gue langsung nangis, sodara-sodara! 

(note: Belakangan gue tau, dari penjelasan dokter lain lagi - gue banyak kulakan ilmu dari dokter2 jadinya - bahwa sirosis itu bukan kanker. Tapiiiii hati yang mengeras alias sirosis itu adalah lahan yang disukai sel kanker untuk tumbuh. Makanya pasien sirosis hati mesti ekstra awas, kalau bisa dipantau terus, kali aja suatu saat kankernya tumbuh karena sudah ada lahan yang disukai). 

Gue galau. Jika nyokap kena kanker, kenapa dokter nggak bilang satu kata pun soal kanker? Gue merasa nyokap mestinya dapat treatment ekstra. 

Singkat cerita, akhirnya nyokap dibawa ke rumah sakit kelas A. Nyokap diopname kurang lebih seminggu. Dilakukan serangkaian tes lab ulang. Dari cek darah, endoskopi, sampai fibroscan. Ada juga cek psikiatri - yang hasilnya cukup mencengangkan karena nyokap diindikasi depresi. 

Waktu itu nyokap masih juga belum tau kalau dia kena kanker. Dokter di RS yang baru ini menyampaikan diagnosis soal kanker hanya di depan gue dan abang gue, tanpa ada nyokap gue. 

Jujur, saat dokter bilang nyokap kena kanker, gue dan abang gue udah siap mental. Soalnya sebelumnya ada "senior" dari keluarga pasien kanker yang sharing soal kanker - dan saat itulah gue dan abang gue nangis (lagi) ngebayangin sakitnya nyokap, juga kemungkinan kehilangan nyokap. Alhamdulillah setelah puas nangis perasaan jadi lebih lapang, lebih siap nerima diagnosis dokter, dan lebih bisa mikir mesti melakukan apa aja setelahnya.

Next - Is Liver Surgery a Must? Is There Any Other Way to Cure Her?


Sunday, July 05, 2020

Rahasia Awet Muda dan Kulit Sehat dari “We the Health”

Sebelumnya saya tak pernah berpikir kalau seminar online bakal seasyik conference kesehatan We the Health. Padahal acaranya seharian, dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, Sabtu, 27 Juni 2020. Tapi saya senang banget bisa ikut acara ini, sebab narasumbernya orang-orang kompeten di bidang masing-masing, moderatornya mewakili rasa penasaran peserta, dan yang paling penting: saya dapat ilmu yang saya butuhkan.


Fix! Setelah conference We the Health, saya ngefans sama narasumber ini.


Waktu saya lihat poster acaranya, wow, sepertinya topik bahasannya seru-seru. Antara lain nih ya: 


  • Kiat Menjaga Kebugaran Tubuh dan Awet Muda 
  • Tips Menjaga Kesehatan Kulit dari Dalam  
  • Pentingnya Mengelola Stress Saat Pandemi 
  • Diabetes Mellitus: Strategi dan Manajemen Terkini
  • Rutinitas Ibu Hamil di Waktu New Normal 
  • Persiapan dan Adaptasi Menghadapi Rutinitas di New Normal 

Karena saya antusias untuk bisa tetap cantik dan awet muda (hehee) maka saya pastikan menyimak dua topik pertama.  



Sesi pertama yang saya piilih adalah Kiat Menjaga Kebugaran Tubuh dan Awet Muda. Narasumbernya perempuan usia 50 tahunan, tapi kelihatan seperti 20 tahunan, mentok-mentok kayak 30 tahunan lah. Dia ibu Puspa Dewi, yang masih cocok dipanggil “mbak”. Cek deh instagramnya https://www.instagram.com/puspadewihc. Awet muda kan? Saya iri. Hahahaa.

Mantan bankir ini bicaranya penuh semangat plus banyak senyum, bikin saya yang menonton ikut semangat dan senyum-senyum. Menular banget aura positifnya. 

Begini tips bugar dan awet muda ala Puspa Dewi :

`.   Olahraga.

Sesibuk-sibuknya kamu, jangan lupa olahraga. Tiap hari minimal setengah jam. Kalau perlu, di kursi kerja juga bisa olahraga. Caranya antara lain dengan menggerakkan leher mendongak, menunduk, bengkokkan ke kanan, ke kiri. Tangan direnggangkan.  
Ini salah satu gerakan olahraga di kursi. Kata Puspa Dewi. 

Olahraga juga bisa di kamar yang irit space. Misalnya dengan melakukan plank. Kalau sudah jago plank, bisa variasi dengan push up dan lain-lain. Memanfaatkan payung panjang juga oke. Taruhlah di belakang pundak. (Saya sudah coba, otot terasa direnggangkan, nyaman banget!). Jadi tidak ada alasan untuk tidak olahraga.

Fun fact: Puspa Dewi menaruh dumbbell di kamar mandi. Jadi di kamar mandi pun bisa latihan agar tubuh tetap kencang. 


Istirahat yang cukup.

Tidur rata-rata 7-8 jam sehari, dengan kualitas tidur yang bagus. Dengan begitu pas bangun akan terasa bugar.
Kalau tidurnya tidak berkualitas, bangun-bangun tidak merasa bugar. Kenapa tidur tidak berkualitas? Bisa jadi itu karena kurang darah. Bisa jadi karena lagi banyak pikiran. Coba cek lagi asupan makan. Cek juga apa yang kamu pikirkan selama ini, jangan-jangan bikin kamu overthinking. 

Bahagia dari dalam
Ini nih tips awet muda Puspa: Bahagia.
Bahagia itu muncul dari pikiran, lewat menjaga kesehatan jiwa dan badan. Makanya olahraga, karena olahraga bisa membantu pikiran jadi positif, dan badan jadi sehat karena aktif.


Berbagi
Ini masih nyambung dengan poin Bahagia di atas. Yes, berbagi itu bikin bahagia. Makanya Puspa senang sekali bisa share pengetahuan dan pengalaman. Apalagi kalau yang mendengarkan sharingnya merasa dapat manfaat.
O iya, berbagi kasih sayang dengan keluarga juga membahagiakan lho. 


Makan makanan sehat
Banyak makan sayur dan buah, kurangi karbohidrat, dan jangan lupakan protein termasuk protein hewani.  O iya, Puspa tidak suka gorengan dan makanan berlemak lho.  
Fun Fact: Dalam sehari, Puspa makan 6 telur ayam! Tapi putihnya saja. 

Banyak minum air putih
Puspa minum air putih lebih dari 2 liter sehari. Dia tidak minum soda dan minuman kekinian boba. Minuman Boba banyak gulanya.

Perawatan wajah
Supaya wajah tetap kinclong dan kencang, Puspa rajin membersihkan muka. Lalu pakai toner. Tak lupa pakai serum wajah. Setelah itu pakai sunscreen kalau siang, atau krim malam kalau malam, 
Fun fact: Puspa mengaku tidak rajin pakai krim malam, tapi yang penting jangan lupa pakai serum.

Begitulah tips dari Puspa Dewi. Berkat keceriaan mbak, eh, ibu Puspa Dewi, sesi 1,5 jam jadi terasa sebentar. Tapi saya senang tips-nya praktis dan bisa segera dilakukan. Mudah-mudahan saya bisa awet muda seperti beliau. Aamiin (yang kencang).  

Nah, lanjut ke sesi berikutnya yang saya simak. 


dr. Listya Paramita yang online habis kerja dari tempat prakteknya. Demi sharing di We the Health ya, dok. Terima kasiiiiih. 

Judul sesinya Tips Merawat Kesehatan Kulit dari Dalam, dibawakan langsung oleh dokter spesialis kulit dr. Listya Paramita. Isinya kurang lebih sama dengan yang disampaikan Puspa Dewi, tapi dr. Listya membahasnya dari pendekatan kedokteran.

Tips dari dr. Listya adalah: 


Olahraga.
Rutin, setengah jam tiap hari. Jangan dirapel! Jangan gini nih: seminggu tidak olahraga, sekalinya olahraga langsung 6 jam. Itu tidak bagus hasilnya buat kesehatan.

Menjaga higinitas
Antara lain dengan cuci tangan pakai sabun. Caranya mesti benar dan minimal 20 detik. Tidak perlu pakai sabun antiseptic, apalagi buat yang kulitnya sensiftif. Pakai sabun biasa juga OK kok.

Berjemur
Berjemur itu untuk mendapatkan vitamin D agar meningkatkan imun tubuh. Dokter Listya menyarankan berjemur sebelum jam 9 pagi agar sinar UV-nya masih relatif rendah. Cukup 15 menit sekali berjemur. Tak perlu tiap hari tapi jangan terlalu jarang juga – yah 2 hari sekali lah. Oh iya, usahakan ketiak kena paparan sinar matahari ya.

Tidur malam itu penting.
Sebab tubuh itu punya iramanya sendiri, alias irama sirkadian, alias jam kerja dari masing-masing organ tubuh. Tidur malam membuat organ yang seharusnya istirahat malam, misalnya liver, benar-benar istirahat di malam hari.
Apa yang terjadi jika tidur malam dilewatkan? Organ yang harusnya istirahat malam jadi kerja lagi. Kalau dilakukan sering-sering, kasihan kan organ tubuh tersebut? Itu tidak baik buat si organ tubuh, dan akibatnya kesehatanmu pun terganggu. 


Atur makananmu
Misal, di piring makan jangan kebanyakan karbohidrat. Nasi cukup sepertiga bagian saja. Dua pertiganya lauk dan sayuran.

Pakai skincare

Nah, tipsnya: 
  • Pakai sunscreen, untuk melindungi wajah dari jahatnya sinar matahari. Pakai sesuai instruksi di kemasan ya.
  • Pakai skin skincare yang cocok dengan kulitmu. Skincare yang bagus di wajah temanmu belum tentu bagus di wajahmu karena karakter kulit tiap orang berbeda-beda. Cari yang paling cocok dengan karakter kulitmu.
  • Kalau kulitmu teksturnya rusak seperti bopeng atau ada keloid, tidak bisa disembuhkan dengan krim saja. Harus ada tindakan medis, misalnya operasi. Hubungi dokter kulit terpercaya ya.


Ada satu nasihat menarik dari dr. Listya. Kalau mau pakai skincare bikinan sendiri alias DIY, harus ekstra hati-hati. Kalau ada kulit merasa tidak nyaman, bahkan timbul iritasi, segera hentikan. Kok ya pas banget sih dr. Listya memberikan contoh mengaplikasi lemon ke kulit wajah. Saya pernah lho melakukannya. 

Kata dr. Listya, lemon sebaiknya jangan langsung diaplikasikan ke wajah. Bisa jadi ukuran kandungan dalam lemon itu tidak sesuai dengan yang kamu butuhkan. Mungkin pemakaian seminggu dua minggu bisa mencerahkan. Tapi pemakaian jangka panjang malah bisa bikin kusam karena kondisi kulit tergerus kerasnya lemon yang tidak sesuai dengan kadar kebutuhan kamu. Hiiiiiiiiiiiii. 


Jadi lebih baik sih pakai produk skincare yang memang sudah terukur kandungannya dan pilih yang sesuai karakter kulit kita. Ok dokter, siap! 



Itulah catatan saya tentang materi yang saya ikuti di online conference We the Health. Conference ini terselenggara untuk menandai ulang tahun pertama Jovee dan Lifepack, dua aplikasi bidang kesehatan. Kalau Jovee untuk personalisasi kebutuhan vitamin kamu, sedangkan Lifepack untuk aplikasi tebus obat secara online. Keduanya itu legalitasnya terjamin dan dikawal dokter-dokter. Mantap. 

We the Health, terima kasih yaa atas weekend berkualitas ini. I love it!


Friday, May 15, 2020

Tips Mudik saat Pandemi Covid 19

Tips ini adalah kesimpulan saya sendiri, hasil pengamatan timeline media sosial, curhatan beberapa teman, dan berita tv. Tips-nya adalah:  

1. Pakai mobil sendiri

Naik kereta, pesawat, travel, buat mudik? Pasti beli tiketnya antre, masuknya antre. Pas antre itu tak ada jaminan physical distancing alias jaga jarak. Yang ada malah berdempetan. Yakin yang berdempet-dempetan itu sehat semua? Gak ada OTG (Orang Tanpa Gejala)? Gak ada ODP (Orang Dalam Pengawasan)? Gak ada PDP (Pasien Dalam Pengawasan)? Kalo berdempetannya sama kita, gimana?
Belum lagi di dalam mobil travel-nya, dalam keretanya, dalam pesawatnya, udaranya muter di situ aja. Kalo ada OTG nafas, ngomong, bersin, batuk, dan kamu hirup udara yang muter di situ-situ aja, gimana?
Kalo naik mobil sendiri kan gak ada yang dempetan sama kita. 
Dengan catatan: ya di mobil terus.  

2. Pergi sendiri 

Sebab lebih mudah mengontrol kebutuhan sendiri di perjalanan. Kebelet pipis? Bisa sendiri. Laper di jalan dan pengen makan? Makan sendiri. Mengawasi diri sendiri doang lebih mudah dibanding harus sekaligus ngawasin anggota keluarga selama perjalanan mudik. 
Kalau kamu bersama keluarga, bisa jadi kamu harus maklum jika mereka minta ke toilet umum. Gimana kalo pas antre di toilet umum, nggak bisa diawasi physical-distancing-nya? Siapa tau, wallahuAlam, saat itu gak ada jarak, dan ternyata berdekatan dengan OTG (orang tanpa gejala). Jadilah carrier, alias pembawa virus. Lalu pas mau lanjutin perjalanan lagi sama kamu.... kamu sudah bersama seorang yang sudah jadi carrier. (mirip zombie emang nih).  

3. Sampai di kampung, karantina mandiri dulu 2 minggu 

Sebenarnya ini prosedur standar di masa pandemi Covid 19. Kalau ada orang yang bepergian antar wilayah, harus karantina mandiri 2 minggu. Alasannya mirip-mirip lah sama poin 1 dan 2. 
Kenapa harus 2 minggu? Dalam 2 minggu ini kondisi tubuh bisa menunjukkan tanda-tanda. Mungkin suhu tubuh meninggi, nafas sesak, batuk-batuk, dll. Kalo dalam 2 minggu tanda-tanda tidak muncul, Alhamdulillah. Berarti setelah 2 minggu bisa memeluk keluarga di kampung. Kalo tanda-tanda muncul? Langsung deh minta pertolongan medis. Cuman denger-denger pelayanan medis juga sangat terbatas, karena yang ditanganin udah overload. 
Btw, kok mau sih mudik cuman untuk karantina 2 minggu? 
Kalo gak karantina, kok tega sih? 

4. Kalau mau ke tempat awal lagi (sebelum mudik) juga pergi sendiri. 

Orang mudik kan biasanya bakal balik lagi ke tempat dia berangkat. Entah untuk kerja, sekolah, dll. 
Ini ngulang tips 1, 2, 3 nih. Dari pemilihan transportasi sampai karantina mandiri. 
Pertanyaannya... kok mau sih balik-balik dikarantina lagi 2 minggu? 
Kalo gak karantina, kok tega sih? 


Begitulah tips mudik di masa pandemi dari saya. Semoga bisa dipertimbangkan. Maklum banget kalo keinginan mudik tuh besarnya luar biasa. Tapi apa gak pengen memutus rantai penularan Covid 19? Kasian lho petugas-petugas medis yang ngurusin pasien Covid-19. Udahlah capek, kangen keluarga, risiko kerjaan sangat tinggi.... eeeeeh, kita gak menghargai, malah nambah kerjaan mereka. 

Di bawah ini nih curhatan orang pengen mudik: 



Dan ini lagi ramai hari ini, terkait soal mudik. 

Sekian. 

Ketika Ingin Pulang Kampung, Tapi Tak Bisa

Tahun 2020 ini istimewa banget. Pandemi covid 19 sejak awal tahun sampai bulan ke-5 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Di Indonesia kemungkinan besar jumlah kasusnya bisa naik menjelang lebaran. Yup, ada tradisi mudik. Banyak orang pergi dari satu daerah ke daerah yang lain. Padahal ada imbauan, bahkan sampai larangan segala, agar tidak mudik. 

Tolong lah ya, tetap di rumah aja. Yang kangen keluarga banyak, di antara mereka banyak juga yang berusaha menahan diri untuk bepergian jauh (aka mudik). Tidak pulang kampung bukan berarti putus silaturahim kan? 

Ini puisi yang pas buat yang pengen pulang kampung tapi nggak bisa. 


Kapan covid 19 berakhir? Apa tanda-tanda pandemi akan berakhir? Belum ada yang tau pasti. Karena itu yang harus kita lakukan adalah menolong diri sendiri dan gotong royong menolong sesama.  Termasuk tidak mudik. 

Doa kita buat semua. 


#stayathome #physicaldistancing #thistooshallpass 

Saturday, November 02, 2019

Sudut Pandang Unik dalam Membuat Ide Cerita

Bagaimana cara mendapatkan ide cerita? Jawaban standar adalah perbanyak pengetahuan, bisa dari baca, nonton, diskusi, atau jalan-jalan. Tapi bagaimana jika sudah melakukan itu semua eh ide cerita tidak muncul juga? 

Saya yakin itu bukan karena ide tidak muncul. Sebenarnya itu lebih ke perasaan bahwa ide yang mampir kok rasanya tidak unik, tidak istimewa, dan tidak menarik. 

Bisa jadi memang tidak menarik (lalu saya menertawakan diri sendiri, dengan sedih). 

Lalu bagaimana biar ide cerita jadi menarik? Sejauh ini yang pernah saya lakukan adalah : 

1. Cari karakter yang unik 

a. Menabrakkan kondisi. 
Misal umurnya sudah banyak tapi kelakuan masih bocah, atau orang miskin tapi gaya sosialita, atau sok berani padahal penakut, atau tampang rambo hati rinto, atau si ramah ternyata psycho, dan banyak lagi. Intinya di satu karakter itu ada satu sifat dominan dan satu sifat kebalikannya (kontrasnya). 

b. Beri kebiasaan verbal/suara si karakter. 
Untuk audio visual seperti serial tv, film, atau series di medsos, 

Misal, dulu ada tokoh drama radio suka teriak "Alamakjaaan" (jebakan umur banget). Karakter yang suka berpantun juga menarik. Atau bikin karakter yang suka plesetan kata, dan orang lain terpancing untuk membetulkannya sampai level kesal pengen nabok. 

Kalau karakternya mau dihidupkan buat podcast atau film, bisa menambahkan bunyi aneh, misalnya ketawa babi (seperti Sasha di serial OB). Masih banyak lagi kebiasaan verbal yang bisa disematkan ke karakter yang kita bangun, carilah. 

c. Beri kebiasaan perilaku. 
Misal suka garuk-garuk pantat (ewwww). Atau kalau jalan jinjit, bisa karena ingin jadi penari balet atau karena jijik takut menginjak kuman. Bisa juga kebiasaan jadwal, misal jam 6.30 pagi sudah berdiri menunggu MRT di stasiun Lebak Bulus sambil komat kamit menghafal (atau merapal) sesuatu. 

d. Jangan lupakan status si karakter. 
Apakah dia seorang anak? Anak dari siapa? Apakah dia mahasiswa? Mahasiswa jurusan apa dan di kampus yang bagaimana? Apakah dia usia dewasa? Bekerja? Di mana dan sebagai apa? Atau tidak bekerja tapi punya kesibukan lain? 

Tentu saja karakter ini tidak akan semuanya ditulis di sinopsis atau premise. Ini latar belakang karakter si tokoh saja, supaya karakter kita berdimensi, untuk memudahkan juga kalau kita mau bikin aksi-reaksi dia terhadap sesuatu. 

Sebenarnya masih banyak lagi printilan untuk membangun sebuah karakter tokoh cerita. Tapi memaksimalkan yang di atas ini menurut saya juga sudah OK. 


2. Cari setting yang unik 

Bisa setting waktu, atau setting tempat. 

a. Setting waktu misalnya kisah jaman perjuangan kemerdekaan RI, kisah era 90an, atau kisah fantasi tentang masa depan. 

b. Setting tempat misalnya Mars, dasar samudra, Seoul, Purwokerto. Itu untuk tempat yang luas, yang bisa dieksplorasi lagi jadi lokasi yang lebih spesifik. Untuk tempat yang lebih kecil bisa kapal pesiar, rumah terpencil, tempat pemancingan ikan, bahkan ada set yang hanya lift atau bilik telpon (mesti perhatiin setting waktu juga). 


3. Cari konflik yang unik 

Konflik atau benturan kepentingan berguna untuk membuat penonton/pembaca penasaran. Bagaimana peningkatan masalahnya, bagaimana nanti akhirnya, itulah yang ditunggu-tunggu. Tanpa konflik, penonton/pembaca sulit bertahan menyimak cerita kita.

Cara mencari konflik. 

1). Tentukan konflik tokoh utama kita tuh menghadapi siapa. Apakah dia menghadapi diri sendiri? Atau dia menghadapi orang lain? Atau dia menghadapi alam (seperti film-film bencana alam)? Bisa juga dia menghadapi pemerintah, kekuatan supranatural, atau menghadapi apapun yang lebih powerful darinya.  

2). Pilih konflik yang hubungannya dekat dengan tokoh utama kita. Misal: 
  • kalau tokoh utama kita dokter hewan di sebuah kota kecil, maka konfliknya bisa berkaitan dengan hewan-hewan di sana, atau dengan masyarakat sana. 
  • jika tokoh utama kita perempuan single sandwich generation pekerja kantor, maka konfliknya bisa berkaitan dengan tekanan dunia kerja, tekanan ekonomi, dan/atau tekanan masyarakat terhadap perempuan single. 
  • jika tokoh utama kita laki-laki single punya anak (misalnya duda seperti di Train to Busan), maka konfliknya adalah hubungan dia dan anak, hubungan dia dan pekerjaan, dan kalau di Train to Busan ada konflik eksternal berupa sepasukan zombie yang menghalangi perjalanan dia mengantar anak ke tempat ibunya. 

3). Tentukan konflik eksternal dan internal si tokoh utama. 

Konflik eksternal adalah benturan kepentingan si tokoh utama dengan segala yang ada di luar dirinya. 
Sedangkan konflik internal adalah benturan kepentingan si tokoh utama dengan dirinya sendiri. Bisa juga disebut pergulatan batin. 

Contoh konflik eksternal, misalnya masalah dokter hewan dengan masyarakat sekitarnya. 
Contoh konflik internal, misalnya masalah si dokter hewan dengan keluarganya yang tak setuju pilihan karirnya yang membuat dia ngejomblo terus saking sering bergaul sama hewan. 


4). Cari konflik-konlik kecil yang meletus sebelum meledaknya konflik besar. 

Nah, ini memang perlu eksplorasi banget. Untuk konflik besar, kita harus mencari masalah yang besar. Misal konflik besarnya adalah "pernikahan pura-pura ini jangan sampai ketahuan orang lain". Nah ternyata ada konflik-konflik kecil yang menghiasi masalah besar ini. Bisa teman kepo yang punya feeling tajam, atau kejadian-kejadian yang bikin pernikahan yang mestinya pura-pura ini kok jadi ada perasaan mestinya ini pernikahan beneran. 



Wednesday, March 06, 2019

Kutipan Drakor

Apa yang ingin kamu katakan ke diri kamu sendiri?

Ini diambil dari drama Korea yang lagi diputar di negerinya sana, Romance is a Bonus Book.

Saat tokoh utamanya disuruh menulis apa yang ingin dia katakan ke dirinya sendiri..... inilah yang dia buat....



Dear Kang Dani (namanya si tokoh utama itu),  
We've already spent 37 years together. But you see, I still don't know you that well. So I plan to know more about you starting now.  
I know you've done your best, Dani. I'm sorry I didn't value you enough. I'm sorry I mistreated you. And... I'm sorry to let you feel small. I'm really sorry I've made you work so hard. It must have been hard for you. You've must have wanted to cry. But you've held out with a smile.  
Thanks for staying strong, Dani.  
And that's why... I want you to be happy from now on. Forget about yesterday. Live for today. Everyday, only think about your future. What do you want to do? And what do you like? Find the answers again. You have to, okay?  
Once again, you got this. Be victorious. You can do it.  
Stay strong until the end.  
(credit to penulis script-nya, dan translator-nya). 

Kang Dani, apakah kamu aku?? :))


Thursday, February 21, 2019

Emoh

Waktu kecil, saya denger ceramah (nama Ustadz-nya lupa), yang isinya kurang lebih, “Jadilah orang yang kedatangannya menyenangkan bagi yang didatangi. Jangan jadi orang yang pas kita datang, eh yang didatangin malah marah-marah meski dalam hati.”

Ini bukan tentang penagih utang yang datang ke rumah orang yang dia beri utang. Bukan. Meski orang berutang kalo didatangin penagih utangnya biasanya tidak senang padahal orang berutang itu seharusnya memenuhi hak orang yang dia pinjam. Di sini saya nggak ngomongin itu.

Saya mau cerita, ada orang yang dengan pembawaannya sendiri, bikin orang lain tidak nyaman. Jangankan kalau dia benar-benar datang. Baru kabar hendak datang pun sudah bikin orang lain kepanasan. Beberapa orang di sekitar saya ada yang begitu. Saya ingin tau kenapa.

Semoga ini bisa buat pembelajaran saya sendiri.

Setelah mengamati, saya mengambil kesimpulan, orang-orang yang kedatangannya bikin orang lain tidak nyaman dan tidak senang adalah:

  1. Orang yang tidak sopan. 
  2. Orang yang mengeluh melulu. Entah karena tidak bersyukur, atau karena zona nyamannya ya mengeluh. FYI, mengeluh itu energi-nya negatif. Energi negatif itu melelahkan, dan menular juga. Tolong jangan bikin orang lain lelah dengan energi negatif itu.
  3. Orang yang tidak mengeluh, tapi ketahuan punya masalah, dan mau minta tolong kita padahal kita sendiri lagi susah. Energi negatif-nya itu lho… tetap terasa. 
  4. Orang yang terlalu antusias, tapi tidak mampu membuat kita ikut antusias melainkan bikin kita risih. Tapi kok ya nggak nyadar. Hmmmm. 
  5. Orang yang tidak bawa manfaat dalam arti luas. 

Dengan menyadari situasi yang bikin orang nggak nyaman itu, saya merasa perlu melatih diri supaya terhindar dari situasi tersebut.  
  1. Selalu bersifat sopan, baik tingkah maupun lisan. 
  2. Selalu bersyukur. Dan selalu berusaha jadi lebih baik, lebih mantap, lebih keren, lebih setrong. (lalu makin banyak yang bisa kita sukuri).
  3. Selalu berpikir positif. Lihat dari sudut pandang positif. Jangan lupa senyum. Sudah terbukti: Kalau kita senyum, yang tulus, susah lho berpikir negatif. Coba deh senyum sekarang. Yang tulus. Ketika senyum begitu, coba pikirin hal jelek. Bisakah? Kalo pun bisa, tahan berapa lama?? :) 
  4. Tidak mengukur orang lain dengan situasi diri sendiri, tapi ukurlah dengan situasi orang tersebut. (Ini di luar urusan kerjaan ya. Professional itu bahasan lain). 
  5. Berusaha jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, sesuai yang kita bisa. 

Terus, kalau udah terlanjur didatangin orang yang bikin kita nggak nyaman, mesti gimana? Ya tiap orang beda-beda caranya. Kalau saya: 
  1. Ramah. Tapi tidak welcome (ngerti lah ya maksudnya). 
  2. Cepat pergi. 
  3. Mendoakan semoga masalah dia cepat selesai dengan baik. 
  4. Mendoakan semoga dia tak lagi jadi masalah bagi orang lain, sebaliknya, dia jadi orang yang bermanfaat untuk yang lain.

Semoga dengan begini sama-sama enak ya. 


Wednesday, October 24, 2018

Ide Cerita yang Menjual

Ide cerita ada di mana-mana. Bener. Tinggal petik. Bener. Tapi untuk menyusun ide cerita yang besar dan laku, ada formulanya. 

Gue akan copas sejumput uraian dari blog Screenwriting Training. Uraian aslinya ada di sini https://www.patreon.com/posts/22176997. Di tulisan ini ide cerita disebut premise (alias cerita tentang apa). Jadi kalau baca kata premise, mengacu ke ide cerita ya. Yang dibahas adalah premise yang high-concept (alias besar dan laku). Beberapa highlightnya sila disimak di bawah ini.  

 

A high concept is a story premise that fits the following requirements:
a) It's unique; b) It appeals to a wide audience; c) It can be said in one sentence, and you can imagine the whole movie (or the entire novel, if you write not for screen). 

Dengan menyebut ide cerita itu dalam satu kalimat, lantas orang yang denger langsung antusias, tertarik, penasaran, pengen tau detilnya, kepo sama endingnya, bahkan kalo bisa tercengang dengan moral of the story-nya.... itulah high concept story.  


High concept story itu harus pas banget, tepat sasaran, ke target penontonnya. 
“Jurassic Park” is high-concept, too, for the same reason: it is clear to its intended audience. And so is “Sharknado” or “Snakes on a Plane” or “Grand Piano” (a sniper threatens to shoot a pianist if during a concert he plays one wrong note). For those hypothetical people who don’t know what a “sniper” and “piano” are, “Grand Piano” as a concept makes zero sense.
Toddlers, for example, wouldn’t respond with genuine enthusiasm to the concept of “Grand Piano” – they are not the target audience; but they would instantly recognize “Finding Nemo” as high concept! “Finding Nemo” is much higher concept than “Grand Piano” – because even a toddler can understand it. (“Peppa the Pig”, however, is not high-concept; it’s a character-driven story.)
Kalimatnya harus SEDERHANA! Yang sangat mudah dipahami. Mau temanya bukan yang sehari-hari macam manusia robot atau kehancuran dunia, tetap premis-nya harus disusun dalam kalimat SEDERHANA. 


Di beberapa referensi (udah lupa dari mana aja, banyak deh pokoknya, baik internet maupun seminar), premise itu bisa dirumuskan begini: 
Premis: seseorang yang unik - ingin sesuatu yang di luar kemampuannya atau di luar normanya. 
Kalau mau lebih lengkap lagi: 
Premis: seseorang yang unik - ingin sesuatu yang di luar kemampuannya atau di luar normanya - lalu dia menemukan hambatan yang luar biasa atau aneh.  

Di bawah ini ada beberapa contoh premis dari tulisan di blog screenwriting training tadi: 
A helpless Broadway ingénue drives a powerful alpha male mad with desire, and then to his doom: to the violent death by machine-gun and fall from the top of the world's tallest skyscraper… oh, and the alpha male happens to be a 60-feet tall prehistoric gorilla ("King Kong").
A chief of police, terrified of water, must battle and defeat the largest known specimen of the most ancient, most powerful water predator: a great white shark from hell ("Jaws"). 
A powerless woman must survive the catastrophe of the world's largest transatlantic steamer – and find new, meaningful life ("Titanic"). 
A man with debilitating memory loss must put together crumbling clues he can't remember, in order to solve the unsolvable murder of his wife ("Memento").
A tiny, peace-loving humanoid creature must travel the world and defeat the most powerful ancient superhuman evil that ever existed – in its stronghold, guarded by armies of vicious monsters ("Lord of the Ring").
A tinyfish must cross the ocean and rescue his son from a fish tank on the other side of the world (“Finding Nemo”). 
An abused orphaned teenager discovers that he’s a wizard whose destiny is to defeat the world’s most potent and feared dark wizard (“Harry Potter”).  
An aging priest must battle his ultimate enemy: Devil himself, and the only way to win is to allow Devil to possess him ("The Exorcist").
Ternyata eh ternyata, semua premise yang disebut di atas itu ada KESAMAANNYA. 
      Biggest ship in the world to ever sink; a giant ape falling from the world's tallest skyscraper; the world’s tallest skyscraper on fire; the largest and oldest water predator; an unsolvable murder mystery must be solved by someone who can't solve the mystery where he put his toothbrush 30 seconds ago; biggest and most dangerous supernatural evil entity – in Middle-Earth or in the entire Christendom – etc.
         Every one of these concepts describes something extreme: the giant ape; the tallest skyscraper; the biggest ship; the outsized shark; a fish tank in a house on the other side of a huge ocean. Usually this is counterbalanced by extremely vulnerable hero or heroine: the cop who can't swim; a tiny hobbit creature; a helpless damsel in distress; an aging pastor. 


Gimana caranya bikin high concept story dari usual concept story? 

Gampang. Taroh tokoh utama di situasi yang sangat di luar kemampuannya. Kontraskan bener-bener kondisi tokoh utama dengan situasi dia saat dia sangat menginginkan sesuatu. 
“A young woman must survive the sinking of a small boat” wouldn’t be a high-concept story: the fact that it’s the largest passenger ship is what makes it high concept. But if we absolutely had to have a story about a small boat – no problem: we’ll just have to have a small kid stuck on that boat in the middle of the ocean, in the company of an enormous vicious tiger (“Life of Pi”).
“An aging pastor must confront a sinner face to face”: not a high concept, but “an aging pastor must battle the Devil by becoming possessed” is. “A suburban two-story house is on fire”: not a high concept; but “the world’s tallest skyscraper on fire” is.
Or some examples from TV. “A loser chemistry teacher finds out he has lung cancer”: not a high concept. But “A loser chemistry teacher finds out he has the terminal lung cancer, and discovers his unlikely true purpose in becoming the most powerful and feared drug lord in America” – is a high-concept story. 
“A charming asshole advertising executive deals with identity crisis”: not a high-concept. But: “A son of a whore (literally) assumes a stolen identity to refashion himself as a charming asshole advertising executive – and ends up finding self-respect and creating the world's most famous advertising campaign” is (“Mad Men”).
A high concept must describe an extraordinary situation; something in it must be taken beyond the extreme. Maximum polarization of the dramatic conflict has to be present. A small car being chased by a huge semi ("Duel"); a failed boxer must go the distance against the world heavyweight champion ("Rocky"); an old guy who can't drive a car takes his lawn mower across several states to meet his old estranged brother ("Straight Story"); a small kid left home alone must defend his house and survive in a cat-and-mouse game against a duo of adult career criminals holding him under siege ("Home Alone"); a shy, submissive math teacher must defend his house against the invasion of an army of brutal bullies ("Straw Dogs") - in all cases, the adversity is polarized and there seems to be no way the hero can win. 

Jika ada situasi yang biasa-biasa aja, jadikan gak biasa. Tentu saja dengan cara yang masuk akal. 
A scientist discovers a way to bring dinosaurs back to life via DNA found in the stomach of a prehistoric mosquito preserved in amber. Science is what makes it plausible.
The largest ship in the world sinks, and a helpless girl must survive the sinking: this is based on a true story; and the producer went to greatest lengths to amplify plausibility through excruciatingly meticulous historic and technical details.
A chemistry teacher transforms into the most relentless drug lord in America – here, too, science (his expertise in chemistry) is what makes it plausible ("Breaking Bad").
"Mad Men" are set against the backdrop of real events of historic 1960's America, and so is "11/22/63" (Stephen King's novel based on the high-concept idea about a man who goes back in time to prevent the most famous political assassination in US history).
A Princeton math professor must overcome the world's most widespread and debilitating mental illness: schizophrenia – and become a great husband, father, teacher and one of the world top mathematicians, a winner of the Nobel prize in math. Simple? Check. Extreme adversity against the impossible odds, making it implausible? Check. Made plausible through science and being based on true story? Check. Conclusion: this is a high-concept story ("A Beautiful Mind"). It's also extremely specific. Not “a guy battles mental illness” but “a Princeton professor battles schizophrenia”. Which is another key element of a proper high concept. It must be expressed as specifically as possible. 

Ringkasnya, untuk bikin ide cerita yang high concept perlu: 
1. Make the concept simple, to be easily understood by the widest target audience. 2. Take it beyond extreme, by polarizing the adversity to the point of implausible. 3. Make the implausible seem plausible. 4. Be specific. 5. (Optionally), offer an unfamiliar view of something very familiar.

Mari kita coba. Fighting! 

Sunday, September 30, 2018

Maunya Apa

Minta bikin plot sampe habis, di tengah2 diganti.
Bikin plot lagi sampe habis, belum dibaca sampai habis, udah minta ganti di tengah.
Mending kalo gantinya bisa diterusin lika likunya panjang. Kalo nggak??

Nggak abis pikir sama orang yang baca plot gue main delete banyak scene padahal itu scene kuncian, yang akan dilanjut ke episode2 berikutnya.

Setelah scene2 itu didelete, kosong deh episode itu. Cerita jadi nggak bersisa. Mau cerita tentang apa, coba? Nggak ada. Akhirnya cerita yang ada ditarik-tarik, jadi dragging.

Yang parah, next episodes yang udah ditulis plotnya pun sekarang ikutan kosong. Lha wong kuncian2 ceritanya dihapus semua, jadi nggak ada yang bisa diterusin.

Mana nggak ngasih saran mesti diganti apa.

Ujung-ujungnya, kuncian yang udah dihapus diminta dibalikin lagi, padahal cerita udah dibongkar. 

Hedeeeeuuh.