Serial baru.
Patriot. Di NET.TV
Tayang : Pertengahan April 2015 (to be confirmed)
Pemain :
Rizky Hanggono sebagai Kolonel Bayu
Verdy Bhawantha sebagai Letnal Kolonel Guntur
Winky Wiryawan sebagai Sertu Jalu
Maruli Tampubolon sebagai Sertu Charles Tampubolon
Dallas Pratama sebagai Sertu Samuel
Dorman Borisman sebagai Virhod Tampubolon
Sutradara ; Azhar Kinoi Lubis, Thomas Nawilis
Penulis ; Raditya, Budhita Arini, Igna Ardiani, Nikotopia.
Sumber gambar ; wikipedia
Tuesday, April 07, 2015
Monday, February 09, 2015
Tujuan Hidup Lo Apa?
Gak cuman manusia di dunia nyata yang mesti punya tujuan hidup.Tokoh cerita juga mesti punya tujuan hidup."What's the character drive?"
Begitu yang disebut di buku nulis script yang gue foto kopi (aaaak, ketauan deh modalnya foto kopi-an) dari mantan mahasiswa yang kuliah Inggris (nah kalo ke Inggris dulu gue belom ada modal).
Dengan punya tujuan hidup, tokoh cerita punya dorongan untuk melakukan ini itu, sehingga terjadilah tindakan. Karena kita tau tujuan hidup si tokoh tuh apa... kita bisa mainin deh reaksinya si karakter.
Misalnya, ada pengumuman "Lari 10 Kilo" yang lagi musim banget itu. Akan beda tindakan Tokoh A yang tujuan hidupnya "naik kelas" yang penting dikenal orang banyak dan dianggap sangat kekinian, dengan tindakan Tokoh B yang tujuah hidupnya "cari duit".
Ntar kalo Tokoh A dan Tokoh B ketemu, ada aksi reaksi, ada konflik, cerita berkembang.
Gitu.
pic from businessnetworking.com
Tuesday, February 03, 2015
One Act Drama
Mendadak tertarik melihat ada istilah One Act Drama. Setelah browsing-browsing dikit, gue ambil kesimpulan kalo ini --sesuai namanya-- drama yang cuman 1 act. Bukan 1 scene lho, tapi 1 act. Satu act itu bisa terdiri dari beberapa scene. Sedangkan 1 scene adalah 1 adegan yang terjadi dalam 1 set DAN 1 waktu. Jadi kalo setnya sama, namun adegannya pagi DAN malam, itu udah dua scene.
Ibarat tayangan FTV atau sitkom (situasi komedi), 1 act itu sampe jeda iklan.
Jelas ya? Kalo nggak jelas, gue doain biar segera dapat kejelasan. *senyum kalem*
Kembali ke One Act Drama. O iya, bisa juga disebut One Act Play. Nah, ini gue liat di Youtube ada beberapa judul. Gue belum sempet nonton, buat sekedar tau aja. Di internet juga ada beberapa situs yang upload script2 One Act Drama. Belum sempet baca, juga buat sekedar tau aja. :))
Kalo pengen baca contoh-contoh scriptnya, di bawah ini beberapa link ke sana:
http://www.freedrama.net/onedrama.html
Gue sempet bikin kesimpulan cepat, yang kalo salah kesimpulan mohon dimaafkan, bahwa... One Act Drama ini perluasan dari Monolog. Soalnya di naskah2 yang terupload di link di atas ada keterangan kalo naskah itu dimainkan untuk beberapa orang aja, bahkan ada yang cuma untuk 2 orang. Tapi terus gue mikir lagi, bisa aja toh bikin One Act Drama dengan boros pemain? Yang penting kan disajikan dalam 1 Act.
Pentingnya mempelajari One Act Drama, meski bukan untuk jadi pakar, adalah buat belajar bercerita dengan pacing yang cepat. Namanya juga drama harus bungkus dalam 1 Act. Dalam 1 act itu penonton harus sudah tau karakter2 yang terlibat, situasinya, konfliknya, puncak konflik, dan bagaimana freeze-nya drama ini (mungkin cerita selesai, atau ngegantung sehingga bikin penonton gemes lalu berantem sama temen nontonnya tentang apa yang terjadi sama si tokoh di akhir cerita).
Seru ya? Iya. *biar cepet* *kembali ke kerjaan* *hwaaaaaaaa* *mulai puyeng lagi deh*
Monday, January 26, 2015
Kampung KW
Ini tayangan baru di Trans TV. Drama komedi durasi 1 jam yang tayang tiap hari ... *catet*... Senin jam 19 WIB.
Konsepnya, dalam 1 kampung (Kampung Keren dan Woles, disingkat Kampung KW), tinggal orang-orang yang versi KW (versi tiruan) tokoh dan selebriti. Ini antara lain :
Bisa tebak KW-an siapa?
Nah, yang udah pasti muncul di tiap episode adalah Jokobi, Megawangi, Syahriteung, Omama, Angie, Koma Irama, Toma Irama, Arul, Sukul, Cule, Udel. Ntar bakalan muncul KW-KW lain sebagai bintang tamu.
Menurut orang-orang yang nonton, Kampung KW lucunya puolll!! Meski begitu ada juga yang nggak suka. Ya nggak papa juga, itu hak yang nonton. :)
Di episode-episode awal, banyak parodi dari kejadian nyata di dunia politik dan entertainment. Selanjutnya... hmm... pengennya sih ada parodinya juga.
Saran gue, kalo nonton Kampung KW, sempetin baca nama scriptwriternya. :p
Next serial : PATRIOT.
![]() |
| Ini posternya, di ambil dari situs transtv |
![]() |
| diambil dari tabloidbintang.com |
![]() |
| diambil dari transtv.co.id |
Nah, yang udah pasti muncul di tiap episode adalah Jokobi, Megawangi, Syahriteung, Omama, Angie, Koma Irama, Toma Irama, Arul, Sukul, Cule, Udel. Ntar bakalan muncul KW-KW lain sebagai bintang tamu.
Menurut orang-orang yang nonton, Kampung KW lucunya puolll!! Meski begitu ada juga yang nggak suka. Ya nggak papa juga, itu hak yang nonton. :)
Di episode-episode awal, banyak parodi dari kejadian nyata di dunia politik dan entertainment. Selanjutnya... hmm... pengennya sih ada parodinya juga.
Saran gue, kalo nonton Kampung KW, sempetin baca nama scriptwriternya. :p
***
Next serial : PATRIOT.
***
Sunday, December 28, 2014
Feeling Blessed
Tahu bahwa ketika sebuah tim produksi lagi merancang sebuah serial, dan mereka berpikir kalau yang cocok nulis itu adalah gue, scriptwriter yang pop up pertama di kepala mereka adalah gue... rasanya sungguh wow.
Alhamdulillah,
Barakallah.
Alhamdulillah,
Barakallah.
Friday, November 21, 2014
Cara Bikin Twist Cerita
Twist cerita, atau beberapa teman bilangnya kelokan tajam atau
bahkan putar balik cerita, adalah momen dalam cerita yang bikin
pembaca/penonton kaget. Mereka ngiranya cerita akan ke mana, taunya beloknya ke
mana. Mereka ngiranya pelakunya si A, ternyata si B yang nggak disangka-sangka.
Contoh cerita yang nge-twist : film “The Others” (2001), “Identity”
(2003), "Hello Ghost" (2010), "Couples" (2011) dan kalau cari di google akan banyak banget.
Kejutan dari twist cerita ini bisa bikin pembaca/penonton
suka atau sebel. Tapi buat gue, twist cerita itu sesuatu yang asik dan perlu. Kadang
kalau gue bikin cerita, ketemu twist dengan sendirinya :). Tapi sering juga
kalau bikin cerita, plotnya ketebak :(. Makanya, gue ubek2 google untuk cari tau
gimana cara bikin twist cerita.
Baca artikel ini, katanya untuk bikin twist cerita itu caranya:
1. Bikin ending terbuka.
Cerita dibiarkan menggantung, biarkan pembaca/penonton yang nebak-nebak
endingnya. Tapi berdasarkan pengalaman, ending terbuka ini kurang seksi di tayangan
tv. Penonton tv maunya yang tuntas. Bahagia ya bahagia. Dapat hukuman ya dapat
hukuman.
2. Pakai narrator yang
nggak bisa dipercaya.
Karena biasanya orang tuh percaya aja sama yang
dikatakan narrator dalam sebuah cerita. Ketika audiens percaya kalau cerita yang
dibawakan narrator akan menuju ke arah tertentu… (meski tentunya sudah ada
petunjuk keciiil aja bahwa narrator gak sepenuhnya bisa dipercaya) .. maka pas
penutup ceritanya beda dari giringannya si narrator, ini akan jadi twist.
Contoh: Alfred Hitchcock Presents the series.
Contoh: Alfred Hitchcock Presents the series.
3. Pelintir karakter
cerita.
Misalnya orang yang baik ternyata dia jahat. Orang yang keliatannya
jahat taunya dia malaikatnya.
4. Langsung awali kisah dari
klimaks cerita.
Dengan cara ini, pembaca/penonton jadi bertanya-tanya ada
apa??? Kan masih sedikit info tuh tentang siapa ngapain dalam situasi apa. Jadi
orang bebas nebak-nebak.
5. “Kill your darling”
Sebenernya di artikel aslinya tidak ditulis begini, tapi gue suka sama istilah ini. Singkat padat.
Sebenernya di artikel aslinya tidak ditulis begini, tapi gue suka sama istilah ini. Singkat padat.
![]() |
| pic from askthehamadabrothers.tumblr.com |
Ada banyak lagi tulisan yang ngasih tips cara bikin cerita yang nge-twist, tapi so far inilah yang paling gue paham.
Yuk, mari nge-twist.
Tuesday, November 04, 2014
Cerita dari Penjual Mainan Murah
Teringat Bu Menteri Susi Pudjiastuti yang lagi hits. Ijasah cuman SMP, tapi punya perusahaan
ekspor lobster dan sebuah maskapai. Diliat sejarahnya, awalnya Bu Susi keluar dari SMA, terus jadi pengepul ikan. Dia konsekuen, konsisten, ulet, punya modal
dengkul, plus pake insting dan otak. Nah, anak muda yang gue temuin secara kebetulan
ini sepertinya punya modal dengkul yang sama.
Meski nasib belum tentu sama, tapi boleh lah gue cerita tentang anak muda ini.
Meski nasib belum tentu sama, tapi boleh lah gue cerita tentang anak muda ini.
Sebut aja namanya Novan. Umur 23 tahunan. Gue liat dia naik mikrolet
yang sama dengan gue, tapi dia naik dari Pasar Gembrong (pasar khusus mainan anak yang harganya murah bingits). Bawaan si Novan lumayan
banyak. Satu plastik hitam ukuran kantong sampah besar yang ternyata isinya
mainan-mainan anak. Kok beli mainan anak sebanyak itu? Iya, buat dijual lagi di
depan SD di Rawamangun, pake pikulan, kata cowok itu.
Sepuluh tahun Novan jualan mainan anak. Awalnya nggak jualan
sendiri, melainkan menjualkan barang dagangan orang. Dan itu berarti dia start di
usia 13 tahun! *inget-inget, gue umur 13
tahun itu SMP kelas 2, mainan tinggal minta ortu dan dibeliin*. Setahun menjualkan dagangan orang lain, dia pun paham cara dagang, cara cari
pasar, dan cara belanja (milih barang dan nawar). Lalu dia memberanikan diri untuk dagang
sendiri.
Permodalan dan keuntungan
Modal awalnya diambil dari tabungan sendiri. Cukup buat beli
5 macem mainan murahan dikalikan masing-masing selusin di Pasar Gembrong. Murahan di sini dalam arti harganya Rp.1000 – 3000. Jangan
lebih dari itu, karena harga jual eceran dia maksimal 5000. “Buat anak SD di
tempat saya jualan, mainan anak 5000 itu udah mahal. Belum lagi kalau
ibu-ibunya yang beli, nawarnya sadis!”
Jual mainan itu gampang-gampang susah. Meski Novan sudah punya
tempat asongan di depan sebuah SD, bukan berarti perdagangannya aman 100 persen.
Dari selusin mainan yang dia beli, paling yang habis cuman setengahnya. Paling
banter 10 biji deh. Dari yang terbeli, ada kalanya ternyata rusak, jadi pembelinya
minta tukar.
Udah gitu, risiko barang rusak muncul karena Novan juga
dagang keliling. Mainan-mainan yang dibawa ke sana sini bisa aja jadi rusak.
*gak dibawa ke sana sini juga bisa rusak kok Mas*.
Mainan-mainan yang nggak laku diapain? Dikumpulin. Ntar sebulan
sekali, atau berapa lama sekali deh, dia obral. Misalnya, 20ribu dapat 3. Paling
nggak, Novan nggak numpuk barang kelamaan. “Dagang ada perhitungan, ada
spekulasi. Bisa untung, bisa rugi” kata dia.
Selama Novan berdagang, modal yang kembali dia putar lagi. Caranya,
seminggu sekali dia belanja di Pasar Gembrong. Dan setiap belanja ya sekantong sampah
besar itu.
Soal keuntungan, katanya habis buat biaya hidup sendiri. Buat makan
dan bayar sekolah. Yup, SMA malam. *salut*. Sedangkan buat uang makan,
alokasinya sehari dua kali makan. Biasanya beli sarapan di warung dengan air
minum yang banyak, siang nggak makan, malam baru makan lagi. Atau pagi beli
sarapan, siang makan, malam minum air putih. *gue harus lebih bersyukur, bisa makan
sehari tiga kali, di luar cemilan kelas berat*.
Trus Novan ngasih duit ke ortu nggak? Dengan sedih dia
menggeleng. Buat dia aja ngepas! Orang tuanya emang jarang minta
uang ke dia. Tapi pernah juga mereka minta. Dikasih? Nggak. Cuman setelah itu
dia kepikiran. Akhirnya besoknya dia kasih deh ortunya uang. Konsekuensinya,
dia puasa. “Habis gimana lagi, saya mesti nabung buat bayar sekolah,” kata dia.
Perjalanan mikrolet makin jauh dari tempat awal. Penumpang
mulai berkurang satu per satu. Seorang bapak berusia 60tahunan yang dari tadi memperhatikan
kami akhirnya angkat bicara.
“Kamu udah berapa tahun jualan mainan anak?” tanya dia ke
Novan.
“Sepuluh tahun, Pak.”
“Saya 30 tahun. Udah paham banget liku liku jualan mainan
anak,” ujarnya bangga. Wah, pedagang mainan anak juga? Setelah gue liat-liat,
ternyata bungkusan besar di pojok mikrolet itu bawaan dia.
Si Bapak ini bangga karena dengan jualan mainan, dia bisa membiayai keluarga. Anak pertama dan keduanya sekarang kuliah, yang ketiga alias bungsu masih SMA. Kata dia, dagang itu bisa untung asal nggak macem-macem. Judi misalnya. Haaah?
Si Bapak ini bangga karena dengan jualan mainan, dia bisa membiayai keluarga. Anak pertama dan keduanya sekarang kuliah, yang ketiga alias bungsu masih SMA. Kata dia, dagang itu bisa untung asal nggak macem-macem. Judi misalnya. Haaah?
Awas anak-anak rentan judi
Judi??? Iya. Novan bilang, teman-teman seumurnya yang juga
jualan mainan anak banyak yang ngeblangsak. Gara-garanya nggak kuat iman.
Begitu dapet duit, beli narkoba, atau judi. Kesenangan sesaat. Bisa jadi karena
pengen cepat lepas dari beban hidup yang berat.
Awas ya, jangan judi! Ancam si Bapak. Novan buru-buru
menggeleng. Dia nggak judi. Syukurlah. Lalu si Bapak juga ngancem, jangan bikin
anak-anak berjudi. Waduh, gimana lagi tuh??
Jadi gini… ada aja pedagang mainan anak yang menggelar papan
penuh nomor, lalu anak-anak SD akan bertaruh di nomor yang mereka kehendaki. Lalu
dadu dikocok sampai ada 2 kombinasi angka. Kombinasi itulah yang keluar sebagai pemenang. Kalo ada anak yang naroh uang di angka itu, anak itu pun dapat hadiah mainan! Yeay!
Wait! Pake uang? Yes. Gopek. Tapi kalikan berapa anak tuh
yang naroh gopek di tiap nomor yang dikehendaki. Dan kalikan berapa sesi? Dari sisi pemasukan pedagang mainan, cara
ini menguntungkan. Banyak duit masuk. Mainan yang direlain juga cuman 1 di tiap sesi. Masalahnya, dari sisi anak, mereka jadi terdidik buat judi. Ngeri gak siiiiiih??? Awas makanya.
Maaf. Ini jadi melenceng ya ceritanya. Tadinya mau beberin perjuangan
orang dagang, malah jadi ngomongin pendidikan judi sejak dini (*ketok2 meja*). Ya udah mah… Ati-ati aja semuanya
ya. Yang mau usaha yang bener, tetep ulet dan semangat, dan jangan ngajarin
yang nggak-nggak ya. InsyaAllah berkah.
Friday, October 31, 2014
Asisten-Asisten Nyoba Smartphone
Ayo mbak2... belajar whatsapp... trus coba kirim foto pake whatsapp ya... biar momen2 para krucils langsung bs dishare ke ortunya, omnya, tantenya, eyangnya.
Nasehat Bukan Pedagang Toko Online untuk Pedagang Toko Online
Gue males buka facebook. Soalnya pernah dibanjiri tag dagangan
online sejumlah temen (yang ternyata nggak kenal banget juga). Karena itu, pas ada
sepupu yang mulai pakai facebook-nya untuk dagang online, gue japri dia. “Dek, kalo
dagang jangan nge-tag gue yak. Capek un-tag-nya. Hehehee”. Sent. Dan gue merasa
hidup lebih damai dengan mengurangi satu tagger.
Ternyata perasaan gue nggak damai bo. Gue merasa bersalah. Kasian
gitu, sepupu yang masih mahasiswa, pengen belajar cari duit sendiri, kok ya sepupunya yang cakep dan udah mapan ini nggak mendukung. Lagian gue harus jujur pada diri
sendiri *halah*, kalo sejak gue install instagram, gue juga suka liat display
dagangan online orang lain. Gue bukan follower mereka… tapi barang-barang lucu
yang mereka jual gampang gue temuin berkat tanda sakti bernama hestek (#).
Nah, berdasarkan pengalaman itu, gue suruh aja sepupu gue
posting dagangan di instagram juga. Pakai hestek sevariatif mungkin. Gue
tunjukin caranya. Dia langsung tertarik. Dia juga langsung minta ajarin bikin akun
instagram buat toko online-nya! Lalu dia tunjukin deh HP-nya… yang ternyata aslik
nggak mendukung aplikasi instagram. :(
Oke… demi bisa beli smartphone, demi merambah instagram, akhirnya
sepupu gue itu buka garage sale biar barang lebih cepet laku. Laba yang
terkumpul plus duit hasil bobol ATM sendiri akhirnya cukup buat beli
smartphone. Gue udah wanti-wanti, meski budget-wise, spesifikasi HP-nya mesti
canggih. Soalnya pasti bakal banyak upload foto. Karena itu pilihan jatuh ke sebuah
smartphone dengan RAM 2GB, second tapi kinyis-kinyis.
“Smartphone pertamaku!” jerit dia bangga. Pastilah bangga, beli
pake duit sendiri gitu :). Untuk datanya gue beliin Simpati biar koneksi internetnya
cepet dan bebas blankspot. Terus gue suruh dia login pakai akun gmail yang dia
punya. Setelah itu gue tunjukin cara cari dan install bermacam aplikasi yang dia butuhin buat toko online-nya. Ada BBM, Line, Whatsapp, FB, dan tentu saja instagram!
Nah, sejak itu sepupu gue itu nggak bunet alias buta
internet smartphone lagi. Sekarang dia udah bebas upload barang dagangan dari
mana aja. Nggak mesti dari komputer rumah kayak sebelumnya. Waktu yang dibutuhkan buat
upload juga lebih sedikit. Tinggal jepret pakai kamera hp, edit pakai aplikasi
di hp, trus upload. Nggak perlu pindah-pindah foto pake kabel data lagi. Praktis!
Mau intip toko online sepupu gue? Nih instagramnya à @geist_shop untuk baju
dan asesori casual, @lalita_indo untuk sewa kebaya. Monggo…:)
Tuesday, October 07, 2014
Pengejar Mimpi
Tadi sore ada seorang musafir datang ke rumah kakak. Masih muda, usia 27 tahun, asal Indramayu, lulusan Fakultas Biologi dari universitas swasta di sana. Mas bernama Fatik ini ngakunya anak petani. Dia sopan tutur katanya. Bajunya rapi, meski agak lecek kayak mukanya. Mungkin karena efek aktivitas seharian.
Kedatangan Fatik mau minta ijin Pak RT untuk nginap di musholla kampung. Ya, kebetulan kakak gue Pak RT-nya. Kebetulan juga kakak gue nggak ada di rumah karena lagi ngantor. Jadi kita-kita yang di rumah lah yang nerima Fatik, sambil nunggu telpon tersambung ke Pak RT.
Jadi Fatik ini datang ke Jakarta dalam rangka tes Calon Pegawai Negeri Sipil yang diadakan di kampus sebelah. Dia nggak punya teman atau saudara di sekitar kampus tersebut. Ada sih temen, tapi di Cikarang. Jauh minta ampun. Riskan buat nginep sana, secara besok itu tes CPNS berlangsung dari jam 8 pagi. Telat sedetik aja, nggak boleh masuk. Percuma dong jauh-jauh dari Indramayu kalo di sini nggak bisa tes juga. Departemen yang dituju? Departemen Pendidikan.
Fatik sendiri sempat istirahat di mesjid kampus. Tapi ternyata mesjid kampus selalu ramai mahasiswa. Alhamdulillah. Sayangnya, karena rame, kalo mau istirahat di mesjid jadi nggak maksimal. Padahal untuk tes CPNS yang penting banget itu perlu selonjoran dan tidur dengan tenang. Itulah makanya Fatik jalan ke kampung sebelah nyari tumpangan.
Simpati ke Fatik, gue dan nyokap yang kebetulan jadi penerima tamu berharap dia bisa istirahat di musholla kampung. Tapiiiiiiiii, masuklah telpon dari kakak gue... kakak gue bilang nggak bisa terima dia di musholla. Yaaahhhh.
Penolakan buat Fatik nggak asal tolak. Udah dipikirin dulu. Kakak gue juga udah telpon ke marbot musholla yang ternyata sore ini pulang kampung karena mertuanya anfal :((. Jadi habis isya, jamaah yang terakhir yang ngunci pintunya. Nggak ada yang tanggung jawab tinggal di musholla.
Selain itu, di musholla lagi sering ada kehilangan. Uang kotak amal beberapa kali hilang. Tuduhan-tuduhan muncul secara liar dari jamaah pada siapa pun yang kira-kira mencurigakan.
"Bukan mau nuduh Mas Fatik akan mencuri. Sama sekali bukan. Kami cuman menjaga pikiran-pikiran yang mungkin timbul. Kalau ada kehilangan pas Mas Fatik nginep sana, bisa jadi ada aja yang berpikir negatif."
Yang kecewa dengan penolakan itu bukan cuman Fatik. Gue dan nyokap juga. Kita emang berharap musafir ini bisa istirahat dengan nyaman di lantai musholla yang keras dan dingin (tapi at least tempatnya bersih dan tertutup, terlindung dari angin dan hujan). Cuman gimana pun juga, yang tanggung jawab lingkungan, termasuk musholla-nya, ya Pak RT. Dan keputusan Pak RT harus dihormatin.
Untungnya Fatik sangat ngerti. Dia nggak sedih. Diterima syukur, ditolak pun tak apa. Lagian dia berterima kasih banget karena di sesi bertamu yang nggak sampe setengah jam itu dia merasa diperlakukan baik sekali. Dia siap nyari tempat istirahat lain.
Fatik pamit setelah nyokap ngasih petunjuk beberapa alternatif tempat buat nginep, antara lain: senat mahasiswa. Saking simpatinya sama orang ini, nyokap sampai nganter dia ke pager. Bahkan didoain juga: semoga keterima, dan kalau kerja amanah.
Doa gue juga sama. Terutama karena akhir-akhir ini semangat juang gue turun.
Makasih ya udah ngirim pengingat.
Subscribe to:
Posts (Atom)









